Breaking News:

Berita PALI

Babi Hutan Banyak Ditemukan Mati di PALI, Diimbau Dikubur Sedalam 1,5 Meter atau Dibakar

Banyaknya temuan Babi hutan mati, Dinas Perikanan dan Peternakan PALI keluarga Imbauan bagi warga yang menemukan untuk mengubur atau membakarnya.

Editor: Yohanes Tri Nugroho
TRIBUNSUMSEL.COM.
Ilustrasi Babi Hutan. Banyaknya temuan Babi hutan mati, Dinas Perikanan dan Peternakan PALI keluarga Imbauan bagi warga yang menemukan untuk mengubur atau membakarnya. 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALI -- Terkait banyaknya temuan Babi hutan yang mati di kebun milik warga sejak dua bulan terakhir, disikapi Pemerintah Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) melalui Dinas Perikanan dan Peternakan.

Plt. Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan kabupaten PALI, Maryono menjelaskan bahwa hasil identifikasi petugasnya di lapangan menemukan bahwa penyebab babi hutan banyak mati di kebun warga, karena diserang penyakit Asian Swine Faver (ASF) atau disebut Demam Babi. 

Kendati demikian, pihaknya juga telah menegaskan dalam surat himbauan ke warga bahwa penyakit demam babi tersebut tidak menular.

Baca juga: Kadispora PALI Jagokan Timnas Prancis di Piala Eropa 2020, Modal Statistik Ciamik Selama Kualifikasi

Surat edaran tertulis dengan nomor 319/SE/Perikanan/2021 tanggal 16 mei 2021 yang ditandatangani Pj Bupati Penukal Abab Lematang Ilir, Drs  Husman Gumanti, (Assisten II bidang Pembangunan) dengan isi himbauan apabila menemukan babi mati dimana saja agar segera ditanam sedalam 1,5 meter dan ditabur kapur di atas bangkai tersebut.

"Kita minta kepada warga agar jika menemukan babi hutan yang mati untuk langsung ditanam sedalam 1,5 meter atau membakarnya hingga hangus." Ungkap Maryono, Selasa (1/6/2021).

Ia menegaskan untuk tidak membuang bangkai babi ke Sungai, karena bisa mencemari sungai dan membuat ekosistem sungai terganggu. 

Dijelaskan, apabila selesai penanaman atau pembakaran bangkai babi segera melapor ke Kepala Desa setempat untuk didata. 

"Penyakit deman babi ini tidak menular ke manusia atau hewan lainya, hanya saja apabila bangkai babi tidak ditanam hingga membusuk akan mengeluarkan bau tidak sedap dan bukan tidak mungkin mengundang bentuk virus penyakit lainya," katanya. 

Baca juga: Jalan Penghubung PALI-Prabumulih Terancam Putus, Gorong-gorong Retak dan Ambles

Terkait banyaknya kematian babi diperkuat pernyataan Arivai Kades Tanding Marga Kecamatan penukal Utara.

 Ia menerangkan bahwa sudah banyak warganya yang melapor atas beberapa Babi ditemukan mati mendadak di lahan kebun petani karet.

"Atas surat himbauan Pemda PALI yang disampaikan Camat Penukal utara ke pihak Desa akan disosilisasikan ke masyarakat sehingga kekhawatiran akan penularan penyakit ini akan segera dipahami oleh setiap warga," katanya. (SP/REIGAN)

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved