Breaking News:

Cerita Dai Era Milenial, Dakwah Bisa di Taman atau Kafe, Harus Bisa Satu Frekuensi dengan Milenial

Ustadz Sutarno atau akrab disapa Ustaz Bana ini punya kiat khusus supata bisa satu frekuensi dengan generasi milenial

Sripo/ Leni Juwita
Ustadz Sutarno, seorang dai muda di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatra Selatan (Sumsel) punya cerita menarik soal dakwah di era milenial. 

TRIBUNSUMSEL.COM, BATURAJA-Ustadz Sutarno, seorang dai muda di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatra Selatan (Sumsel) punya cerita menarik soal dakwah di era milenial.

Pria yang akrab disapa Bana ini mengatakan, menjadi Dai di era melenial ini memang penuh dengan tantangan karena target pendengarnya adalah generasi melenial. Generasi yang dengan ciri-ciri gampang bosan, suka dengan yang serba cepat dan instan

Pria kelahiran Baturaja Kabupaten OKU 12 April 1990 ini punya kiat khusus supata bisa satu frekuensi dengan generasi milenial.

“Kita wajib ikut gaya melenial meski setengah kolonial,” canda Dai muda yang juga Wakil Ketua PD IKADI (Ikatan Dakwa Indonesia) OKU.

Bahasa yang disampaikan Ustadz Bana tentulah tidak sederhana itu, butuh banyak belajar mulai dari mempelajari bahasa gaulnya anak melenial, games yang sedang tren sampai ke cara berpakaian harus mengikuti gayanya generasi melenial walaupun tetap ada batasannya.

Apabila sudah bisa konek dengan generasi melenial maka materi yang disampaikan saat berdakwa mudah diserap oleh generasi melenial dan durasi dakwah pendek saja cukup 5-7 menit .

Suami dari Neni Puspitalia AMKep ini menyebutkan medan dakwapun sangat luas bukan hanya dimimbar-mimbar saja tapi bisa di taman atau cafe.

Sebab anak-anak cafe harus disentuh, di sekolah di manapun.

Baca juga: 5 Lagu Religi Terbaru Rilis di Bulan Ramadhan 2021 Beserta Lirik dan Chord Gitarnya.

Dimasa Pandemi covid-19 ini dakwah lebih banyak dilakukan secara online, biasanya ustadz Bana dibantu teman-temannya untuk membikin video rekaman dakwah.

Menurut ayah tiga anak ini, hal pertama yang dilakuknnya ada dengan memberikan rasa nyaman dulu , setelak “konek” baru bisa menyampaikan materi dakwah. Berhadapan dengan kawula muda tentunya harus kretatif dalam menyampaikan dakwah.

Halaman
12
Editor: Wawan Perdana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved