Breaking News:

Berita Palembang

Tidak Asal Lipat Untuk Tutup Kepala, 3 Tanjak Palembang Diakui Kemendikbud RI, Berikut Filosofinya

Tanjak adalah seni melipat, artinya orang bisa kapan saja membuat tanjak. Membuat tanjak Palembang dibutuhkan 1 kain utuh dengan motif bolak bal

TRIBUN SUMSEL/MELISA WULANDARI
Tangkap layar Tanjak Kepodang, salah satu penutup kepala tanjak Palembang. 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Tanjak adalah seni melipat, artinya orang bisa kapan saja membuat tanjak. Dalam membuat tanjak Palembang dibutuhkan 1 kain utuh dengan motif bolak balik.

Kemudian dalam pembuatan tanjak harus ada motif tertentu di kainnya dan Karang (motif di kain Tanjak) harus muncul, misalnya tanjak Kepodang yang karangnya harus muncul.

"Jadi Kepodang ini filosofinya diambil dari bentuk burung Kepodang, dan di kepalanya itu ada listnya menunjuk ke arah atas dan berbentuk segitiga. Ini menunjuk kepada Tuhan yang Maha Esa maka segala sesuatu dari Tuhan dan burung Kepodang juga ciptaan Tuhan," jelas pecinta Tanjak Palembang dan juga Sejarahwan Palembang, Kemas AR Panji.

Maka dari itu tanjak berbentuk segitiga karena mengerucut dari kata tanjak, tanjak sama dengan nanjak dan nanjak sama dengan ninggi atau ditinggikan.

“Kalau istilah tanjak disingkat dari kata tanah yang dipijak menurut saya itu hanya kebetulan saja karena sebenarnya kata tanjak itu dari bahasa Palembang tanjak sama dengan nanjak dan nanjak sama dengan ditinggikan itulah sebabnya tanjak di atas kepala karena dari tubuh kita ini tempat yang paling tinggi itu adalah kepala,” ujarnya.

Selanjutnya ada tanjak Belah Umbang, saat melipat tanjak ini motif karangnya tidak harus muncul seperti tanjak Kepodang. Dikatakan Belah Umbang diambil dari proses putik yang berkembang.

"Yang dulu pernah dipakai oleh Demang, pinggirannya dibuat bentuk kembang (bunga). Proses lipatan dari Tanjak Belah Umbang ini diambil dari proses ketika kelopak buah itu membuka muncul lah Mumbang artinya bakal buah," jelas.

Kemudian ada Tanjak Rantau Ayau, yang hanya dilipat dan memunculkan jendolan. Sedangkan tidak lagi dibuat adalah tanjak Tengkuluk Lanang.

Ada pula Tanjak Meler, yang dimana bentuk depan tanjak tersebut terlihat menjuntai ke depan.

Terus Naik, Harga Karet Sumsel KKK 100 Persen Hari ini Rp 19.104 per Kg

Parkir di Halaman Masjid, Mahasiswa di Palembang Kaget Ada Kegaduhan, Motornya Nyaris Dicuri

Akhir Perseteruan, Kades di Muratara Ajak Wartawan Duel Parang, Gegara Beritakan Proyek Jalan Desa

Ketiga bentuk tanjak yang masih dipakai ini filosofinya diambil dari nenek moyang dan bukan diciptakan sekarang.

"Kalau ada yang mengaku ngaku tanjak dibuat sekarang itu salah, kita hanya meneruskan karya nenek moyang kita yang dilakukan secara turun menurun. Apabila ada tanjak diluar tiga bentuk tanjak tersebut berarti ada bentuk tanjak baru," katanya.

Kemas menjelaskan bahwa ketiga tanjak tersebut merupakan tanjak yang sudah ada sejak jaman kesultanan, Kepodang, Meler, Belah Umbang.

Ketiganya ini juga merupakan Tanjak Palembang yang sudah ditetapkan oleh Kemendikbud RI. Sedangkan dua tanjak lainnya tidak terdata, Ranto Ayau untuk bepergian dan Tengkolok.

"Ada lagi Tengkolok yang hilang, tidak pernah lagi kelihatan orang memakainya. Ternyata terkait Tengkolok banyak yang salah paham karena Tengkolok itu bukan hanya untuk perempuan tapi untuk laki-laki juga, jadi ada Tengkolok Lanang dan Betino,” katanya. 

Ikuti Kami di Google Klik

Penulis: Melisa Wulandari
Editor: Vanda Rosetiati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved