Cerita Mayjen TNI Hassanudin Asal Palembang, Anak Penyadap Karet yang Pernah Berjualan Pempek

Sambil sekolah, Hassanudin berkerja sebagai pedagang asongan. Dia berjualam pempek untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Editor: Wawan Perdana
Serambi Indonesia
Mayor Jenderal (Mayjen) TNI Hassanudin yang sekarang menjabat Panglima Kodam Iskandar Muda (Pangdam IM), ternyata berasal dari Sumatra Selatan (Sumsel). 

TRIBUNSUMSEL.COM, ACEH-Mayor Jenderal (Mayjen) TNI Hassanudin yang sekarang menjabat Panglima Kodam Iskandar Muda (Pangdam IM), ternyata berasal dari Sumatra Selatan (Sumsel).

Jenderal Bintang Dua ini lahir di Prabumulih dan besar di Palembang.

Perjuangan Mayjen Hassanudin mencapai posisi sekarang tidak mudah, penuh jalan berliku.

Ia sudah menjadi anak yatim saat duduk di kelas 3 SD.

Hassanudin mengurai singkat perjalanan hidupnya, Ia mengaku hanya seorang pemuda dari pedalaman Prabumulih, Sumatera Selatan.

Sejak kecil, Hassanuddin telah memulai hidup mandiri dan menyandang status ayak yatim, setelah ayahnya meninggal pada tahun 1975.

Ibunya, juga bukan siapa-siapa, hanya ibu rumah tangga yang sehari-hari bekerja nyadap getah karet.

Tekadnya yang kuat untuk tetap bersekolah membuat Mayjen TNI Hassanudin harus mengikuti waknya (saudara orangtuanya) ke kota (Palembang).

Di kota, sambil sekolah, Hassanudin berkerja sebagai pedagang asongan.

Dia berjualam pempek untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Kalau tempat tinggal dan makan ditanggung sama wak saya, tapi kebutuhan lain harus cari sendiri dengan menjadi pedagang asongan,” kata Pangdam IM dalam wawancara khususnya saat menerima Pemimpin Redaksi Serambi Indonesia, Zainal Arifin di ruangan kerjanya, Makodam IM, Kamis (1/10/2020).

Meski sudah ke kota, namun Hassanudin tak pernah melupakan ibunya di kampung.

Saban tahun saat libur, dia selalu pulang untuk menjenguk ibunya.

Singkat cerita, setelah menyelesaikan pendidikan di jenjang SMP, Hassanudin kemudian melanjutkan kembali pendidikannya ke SMA.

Saat itulah, Hassanudin bingung karena waknya meminta Hassanudin masuk ke SPG (Sekolah Pendidikan Guru) karena bisa mendapat beasiswa atau dibiayai pemerintah.

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved