Penjelasan Najwa Shihab Soal Video 'Wawancarai' Kursi Kosong Wakili Menkes Terawan
Dalam video yang diunggah itu, Najwa terlihat memberikan pertanyaan yang mengarah ke kursi kosong yang ada di hadapannya.
Laporan wartawan Tribunnews.com, Rina Ayu
TRIBUNSUMSEL.COM, JAKARTA - Presenter Najwa Shihab baru-baru ini menyita perhatian publik karena sebuah video di YouTube.
Dalam video yang diunggah itu, Najwa terlihat memberikan pertanyaan yang mengarah ke kursi kosong yang ada di hadapannya.
Diibaratkannya yang duduk di kursi tersebut adalah Menteri Kesehatan RI dr Terawan.
Nana, begitulah ia disapa pun memberikan penjelasan mengapa muncul video yang beredar viral saat ini.
Nana mengaku pihaknya berulang kali mengirimkan undangan wawancara kepada Menteri Kesehatan RI dr Terawan untuk acara "Mata Najwa" yang dipandunya.
Bahkan, hampir setiap minggu undangan dikirimkan kepada mantan kepala RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta itu.

Namun, jawaban dari pihak menteri kesehatan tidak sesuai harapan.
"Terkadang undangan itu direspon, terkadang juga tidak ada respon," ungkapnya.
Ia melanjutkan, pernah dijawab dan memberi alasan tidak bisa hadir namun saat diminta jadwal wawancara ulang, kembali pihaknya tak mendapat respons
"Pernah menjawab bahwa tidak bisa karena jadwal, dan kemudian kami selalu menawarkan agar wawancara diatur menyesuaikan waktu dengan agenda Pak Terawan," lanjutnya.
Najwa memaparkan, ada sejumlah alasan mengapa diperlukan kehadiran pejabat negara untuk menjelaskan kebijakan yang berimbas kepada publik.
"Mengundang dan atau meminta pejabat untuk menjelaskan kebijakan yang diambilnya adalah tindakan normal di alam demokrasi. Jika tindakan itu dianggap politis, penjelasannya tidak terlalu sulit," ungkapnya.

Pertama, jika “politik” diterjemahkan sebagai adanya motif dalam tindakan, maka undangan untuk Menkes Terawan memang politis. Namun tak selalu yang politik terkait dengan partai atau distribusi kekuasaan. Politik juga berkait dengan bagaimana kekuasaan berdampak kepada publik.
"Kami tentu punya posisi berbeda dengan partai karena fungsi media salah satunya mengawal agar proses politik berpihak kepada kepentingan publik," tutur Najwa.
Kedua, setiap pengambilan kebijakan diasumsikan adalah solusi atas problem kepublikan.
Siapa pun bisa mengusulkan solusi, namun agar bisa berdampak ia mesti diambil sebagai kebijakan oleh pejabat yang berwenang, dan mereka pula yang punya kekuasaan mengeksekusinya.
Menteri adalah eksekutif tertinggi setelah presiden, dialah yang menentukan solusi mana yang diambil sekaligus ia pula yang mengeksekusinya.

Ketiga, tak ada yang lebih otoritatif selain menteri untuk membahasakan kebijakan-kebijakan itu kepada publik, termasuk soal penanganan pandemi.
Selama ini, penanganan pandemi terkesan terfragmentasi, tersebar ke berbagai institusi yang bersifat ad-hoc, sehingga informasinya terasa centang perenang.
"Kami menyediakan ruang untuk membahasakan kebijakan penanganan pandemi ini agar bisa disampaikan dengan padu. Bedanya, media memang bukan tempat sosialisasi yang bersifat satu arah, melainkan mendiskusikannya secara terbuka," jelasnya.
Keempat, warga negara wajib patuh kepada hukum, tapi warga negara juga punya hak untuk mengetahui apa yang sudah, sedang dan akan dilakukan oleh negara.
Warga boleh mengajukan kritik dalam berbagai bentuk, bisa dukungan, usulan, bahkan keberatan.
"Publik perlu menyimak paparan rencana pemerintah untuk mengatasi pandemi yang telah berlangsung selama 6 bulan ini," kata dia.
Seperti diketahui Tagar #MataNajwaMenantiTerawan sedang ramai menjadi perbincangan di media sosial.
Tagar itu viral menyusul acara Mata Najwa yang dipandu Najwa Shihab.
Dalam acara yang diunggah di YouTube Senin (28/9/2020) tersebut, Najwa mencecar Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto dengan 16 pertanyaan.
Pasalnya, Terawan tak pernah memenuhi undangan tim Mata Najwa.
"Kesekian kalinya, inilah kursi dan panggung Mata Najwa untuk Menteri Terawan," ucap Najwa Shihab.
Berikut Rangkuman 16 pertanyaan dari Najwa Shihab untuk Menteri Terawan, dilansir TribunnewsBogor.com:

1. Mengapa menghilang pak? Anda minim sekali muncul di depan publik memberi penjelasan selama pandemi? Rasanya menetri kesehatan yang paling low profile di seluruh dunia hanya meteri kesehaan Republik Indonesia
2. Atau kehadiaran Menteri Kesehatan di muka publik Anda rasa tidak terlalu penting?
3. Sejak awal pandemi Anda terkesan menganggap virus ini bukan ancaman besar, apakah kini Anda mengakui bahwa kita kecolongan dalam melakukan penanganan di awal yang seharusnya bisa lebih tanggap?
4. Saya ingin klarifikasi apakah betul di awal-awal pandemi dulu justru Menkes Terawan sebagai Menkes yang mengusulkan bahwa kita tidak perlu melakukan karantina wilayah?
5. Kondisi pandemi sampai sekarang belum juga terkendali, data dan angka jelas menunjukkan itu, disaat negara lain bisa berangsur-angsur memperlonggar situasi, kenapa kita tertinggal?

6. Presiden Jokowi secara terbuka berulang kali menegur kinerja Anda di depan publik, berangkat dari penilaian atasan anda itu, apa penjelasan Anda mengenai teguran tersebut satu per satu?
7. Kenapa test kita belum juga mencapai target?
8. Kenapa resapan anggaran Kementrian Kesehatan (Kemenkes) masih rendah?
9. Kenapa berbagai peraturan dan birokrasi masih berkelit di Kemenkes?
10. Kenapa perlindungan Tenaga Kesehatan (nakes) belum maksimal?
11. Spesifik soal Tenaga Kesehatan, angka kematian Nakes sangat tinggi dan masih terus naik, kapan akan dilakukan perbaikan?
12. Masih ada disparitas antara data pusat dan data daerah, padahal hal tersebut saat pandemi masih sangat krusial untuk menentukan kebijakan, mengapa tidak juga beres?
13. Bagaimana dengan data bahwa gedung Kemenkes menjadi klaster perkantoran terbesar di Jakarta? Kenapa tidak terbuka dan transparan lalu menutup kantor?
14. Ada banyak menteri kesehatan yang gugur dalam penanganan Covid-19, misal pada 'Menkes' New Zealand, Ceko, Polandia, Brazil, Chile, Pakistan, Israel (Public Health Director), Kanada (Public Health Agency Presiden), apakah penanganan kita lebih baik daripada negara-negara yang 'Menkes'nya mundur tersebut?
15. Tidak hanya desakan Presiden, namun publik diantaranya kala ada petisi meminta dengan kebesaran hati Anda Pak Menkes untuk mundur saja, siap mundur pak?
16. Atau bagaimana untuk bisa meyakinkan publik bahwa Anda memang masih layak menjalankan atau posisi yang berat ini?
Meskipun demikian, diakui Najwa Shihab cecaran pertanyaan yang dilontarkannya kepada Menteri Terawan ini berdasarkan pertanyaan dari publik.
"Pak Terawan itu hanya sebagian dari pertanyaan yang bukan hanya datang dari saya tapi juga kami kumpulkan dari publik untuk anda Menteri kesehatan. Kami tau tak akan ada yang bisa menyelesaikan persoalan pandemi ini sendirian, tapi kami berharap anda setidaknya bersedia memberi gambaran," ucapnya.
"Terawan Agus Putranto, waktu dan tempat kami persilakan," pungkas Najwa Shihab.
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Kirim Undangan untuk Hadir di Mata Najwa, Ini Cerita Najwa Shihab Tentang Respons Menkes Terawan dan tribunnewsbogor.com dengan judul Cecar Menteri Terawan 16 Pertanyaan soal Covid-19, Najwa Shihab: Kalau Ada Petisi, Siap Mundur Pak?