'Kadang nggak Bawa Uang Sama Sekali', Curhat Penjual Buku Bekas di Samping Masjid Agung Palembang
Pria berkulit sawo matang ini mengaku sejak 10 tahun terakhir ini memang penjualan buku bekas mengalami penurunan.
Penulis: Sri Hidayatun | Editor: Weni Wahyuny
TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Adit , pria paruh baya ini terlihat duduk tanpa semangat di sebuah lapak berukuran 2 x 2 meter yang dipenuhi oleh tumpukan buku-buku bekas.
Sejak tahun 2005, Adit berjualan buku bekas pakai mulai dari tingkat SD hingga jenjang kuliah bahkan umum.
Dulu, penjualan buku bekas ini menjadi salah satu sumber penghasilan yang menjanjikan bagi Adit.
Namun sekarang semuanya berubah, menjual satu buku pun sulit sekali terutama di masa pandemi ini.
"Sudah 15 tahun saya berjualan di sini. Dulu saya berjualan di bawah proyek (Jembatan Ampera) dan pindah kesini," jelasnya.
Pria berkulit sawo matang ini mengaku sejak 10 tahun terakhir ini memang penjualan buku bekas mengalami penurunan.
Apalagi pasca adanya kurikulum baru K-13 yang membuat perlahan demi perlahan penjualan menurun.
• BREAKING NEWS : 2 Orang Jadi Korban Pembacokan di Lorong Terusan Palembang, Satu Orang Tewas
• Kesaksian Doni Lihat Firman Tewas Dibacok di Lorong Terusan, Korban Sebut Ingin Bertemu Bos
"Ditambah lagi setiap tahun buku-buku anak sekolah ini ganti dan mereka menulis bukan dibuku lagi melainkan ada yang menulis didalam buku pelajaran tersebut sehingga tak bisa dijual lagi," tegas dia.
Belum lagi ditambah masa pandemi ini, orang belajar daring dan kuliah pun belum masuk membuat penjualan buku makin sepi.
"Sehari bisa dapat uang Rp50 ribu saja sudah beruntung. Ini menunggu dari pagi sampai sore kadang gak bawa uang sama sekali," ujar bapak dua anak ini.
Terkadang, hatinya pilu ketika pulang hanya membuat uang Rp50 ribu, namun mau bagaimana lagi penghasilan yang didapatkan hanya segitu.
"Untung saja istri masih bisa bantu dengan jualan, jadi kami bisa terbantu untuk kebutuhan sehari-hari," tambahnya.
Adit mengaku, tumpukan buku-buku yang ia jual ini juga perlahan demi perlahan ia jual secara kiloan kepada toko barang bekas.
• Remaja Usia 17 Tahun di Kertapati Dikeroyok Gegara Puntung Rokok, Diduga Pelaku Masih Tetangga
"Bahkan buku-buku baru seperti tahun 2018 ini sudah banyak kita jual secara kiloan kepada pembeli barang bekas karena tidak laku lagi. Sekilo lakunya Rp10 ribu, dari pada kita rugi, ya lebih baik kita kiloin saja," ungkapnya.
Adit mengaku saat ini memang sulit bertahan di tengah pandemi, apalagi banyak lapak di sekitaran tempat ia berjualan berangsur tidak membuka.