Breaking News:

Gapki Sebut Selalu Dijadikan 'Kambing Hitam' Terkait Karhutbunla : Ini Kampanye Negatif

Meski begitu, Alex mengaku perusahaan sawit selama ini selalu dijadikan "kambing hitam" oleh sejumlah pihak, khusunya dari pihak asing.

Penulis: Arief Basuki Rohekan | Editor: Weni Wahyuny
TRIBUNSUMSEL.COM/ARIEF BASUKI ROHEKAN
Ketua Gapki Sumsel, Alex Sugiarto 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG -- Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Sumatera Selatan (Sumsel) mengklaim, selama ini pihaknya cukup cepat tanggap dalam permasalahan pencegahan dan pengendalian, kebakaran hutan, kebun dan lahan (karhutbunla) di wilayah konsesi sawit.

Menurut Ketua Gapki Sumsel, Alex Sugiarto melihat data dari Global Forest Watch (GFW) untuk di Sumsel hanya sekitar 2 persen wilayah, yang terbakar pada karhutbunla tahun lalu.

"Kalau soal karhutla kita banyak melakukan pencegahan, bahkan data dari GWF 2019 lalu, kebakaran yang terjadi di areal sawit Sumsel hanya 2 persen. Sementara kalau nasional sekitar 11 persenan dari 1,6 juta hektar terbakar," kata Alex Sugiarto.

Meski begitu, Alex mengaku perusahaan sawit selama ini selalu dijadikan "kambing hitam" oleh sejumlah pihak, khusunya dari pihak asing.

Pelaku Begal di Banyuasin Ngaku Tak Sengaja setelah Rampas Barang dan Lukai Korban saat Beraksi

Padahal, perusahaan yang tergabung dalam Gapki selalu menjaga lahannya, termasuk lahan di sekitarnya.

"Di Indonesia setiap kebakaran lahan atau hutan yang jadi kambing hitam kelapa sawit atau karet. Di mana selama ini terbakar nyatanya banyak tidak dikuasasi pihak manapun, dan dari sisi bisnis ini kampanye negatif menyerang industri kepala sawit. Berbeda jika di negara luar, seperti Australia yang lahannya terbakar sekitar 11 juta hektar, tetapi kenapa tidak ada ribut malahan bersimpatik dengan donasi," kesalnya.

Ditambahkan Alex, dalam upaya pencegahan Karhutbunla di Sumsel, Gapki telah menyiapkan langkah- langkah pencegahan dan pengendalian sejak tahun 2016 lalu bersama Dinas Perkebunan (Disbun) Sumsel.

Heboh Petani di Pagaralam Buang-buang Tomat ke Jalanan, Kecewa Harga Anjlok Rp300 per KG

"Mulai dari kegiatan TOT dengan 266 orang yang telag dilatih, dialog interaktif dengan pihak- pihak terkait, monitoring kejadian karhutla dan aktif mengupdate informasi kepada perusahaan anggota Gapki untuk siap dan waspada. Termasuk MoU dengan beberapa pihak dalam membuka lahan dan pengendalaian karhutla, hingga Gapki berperan aktif dalam kegiatan apel siaga dan semua pihak," jelasnya.

Dilanjutkan Alex, peran aktif anggota Gapki Sumsel selalu berpedoman kepada Permentan nomor:05 tahun 2018, dalam hal pembukaan lahan tanpa harus membakar termasuk menambah jumlah sapras peralatan pencegahan karhutka yang wajib dimiliki oleh perusahaan.

Selain itu, perusahaan anggota Gapki Sunsel membenrut Kelompok Tani Peduki Api (KTPA) dimana saat ini sudag ada 152 orang dan posko dilapangan sebanyak 167.

Termasuk mengaktifkan regu pengawasan kebakaran dan tim siaga api perusahaan, dan membantu pemadaman karhutla disekitar lokasi disekitar perusahaan, hingga berkoordinasi/ bekerjasama dengan semua instansi terkait.

"Tapi kami kesulitan ada aturan masih membuat peluang masyarakat boleh membuka lahan, dengan membakar maksimak 2 hektar lahan. Ini diatur di UU no 23 tahun 2009 pasal 69 ayat 2. Makanya kami buat kesepakatan kader, kalau terbakar karena perusahaan atau pengusaha yang disalahkan," tandasnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved