Tinju
Karena Suara, Mike Tyson Merupakan Korban Bullying Sebelum Jadi Legenda Tinju
Karena Suara, Mike Tyson Merupakan Korban Bullying Sebelum Jadi Legenda Tinju
D'Amato kemudian melatih Tyson bertinju hingga pada puncaknya meraih medali emas Olimpiade Junior 1981 dan 1982.
Setelah meraih dua medali emas itu, pada 1985 di usia 18 tahun, Tyson mengawali debut profesionalnya sebagai petinju.
Setelah berhasil mengumpulkan 11 kemenangan secara KO, dia dijuluki "the next top heavyweight" oleh media olahraga.
Pada saat itu juga, Tyson kehilangan seorang maestro yang mengubah hidupnya meninggal dunia, D'Amato pada 1985.
Setelah kematian D'Amato, banyak orang memprediksi karier Tyson akan tamat.
Namun prediksi itu telah dipatahkan, Tyson kemudian mengumpulkan 16 kemenangan selanjutnya dan bertarung untuk titel juara kelas berat pertama.
Dia kemudian bertemu dengan Trevor Berbick, sang juara WBC kala itu.
D isamping itu, Trevor Berbick adalah lawan yang mengantarkan Tyson mengukir sejarah.
Berbick ketika itu bukan hanya dikenal sebagai sang juara saja, juga penakluk Muhammad Ali.
Dahulu Tyson sudah pernah berjanji pada Ali untuk membalaskan kekalahannya.
Masalah hutang janji, Tyson membayarnya dengan lunas.
Pria 53 tahun ini berhasil mengalahkan Berbick pada ronde kedua tepat dihadapan Ali di bangku penonton.
Pada usia 20 tahun, Mike Tyson menjadi juara dunia termuda dalam divisi kelas berat usai menumbangkan Berbick.
Cus D'Amato kala itu memang tidak menyaksikan mantan muridnya berlaga, tetapi semangatnya masih tertanam pada sosok Tyson.
Semua tidak menduga, ternyata korban bullying bisa menjadi salah satu bintang tinju terbesar dunia.
Bahka, sekarang Tyson menamai dirinya sendiri dengan sebutan The Baddest Man On The Planet.