Berita Prabumulih

Dewan Minta Fogging Massal, Dinkes Prabumulih : Bukan Penanganan Tepat Cegah Nyamuk DBD

Sejumlah anggota DPRD Prabumulih mendesak Dinas Kesehatan Prabumulih agar melakukan fogging massal ke wilayah yang rawan terkena serangan DBD.

Dewan Minta Fogging Massal, Dinkes Prabumulih : Bukan Penanganan Tepat Cegah Nyamuk DBD
Tribun Sumsel/ Edison
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Prabumulih, dr Happy Tedjo 

TRIBUNSUMSEL.COM, PRABUMULIH-Sejumlah anggota DPRD Prabumulih mendesak Dinas Kesehatan Prabumulih agar melakukan fogging massal ke wilayah yang rawan terkena serangan demam berdarah dengue (DBD).

"Dinas Kesehatan harus tanggap dan mengantisipasi wabah DBD di daerah mana agar tidak meluas, kami dengar sudah banyak kena jangkit. Jangan sampai sudah banyak korban bahkan sampai ada yang meninggal baru turun, kalau perlu lakukan fogging massal agar tidak menyebar kemana-mana," ungkap anggota DPRD Prabumulih sekaligus Sekretaris Komisi I, Feri Alwi, Senin (13/1/2020).

Menanggapi itu Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Prabumulih, dr Happy Tedjo ketika diwawancarai mengatakan, pihaknya tidak bisa melakukan fogging massal karena anggaran untuk itu tidak ada.

"Kita tidak ada anggaran untuk fogging massal tapi hanya ada untuk fogging fokus, jadi kita jika ada laporan warga terduga kena DBD maka kita lakukan fogging di sekitar lingkungan penderita," ungkap Tedjo.

Tedjo mengatakan, berdasarkan hasil penelitian balai penyakit menular dari Baturaja menyebutkan fogging massal justru bukan penanganan tepat untuk mencegah berkembangnya nyamuk DBD.

"Karena dengan difogging maka nyamuk akan kebal, tidak mati tapi akan lebih berkembang, makanya fogging masal tidak lagi dilakukan dan selain itu anggaran untuk fogging masal tidak ada, tidak disetujui dewan," katanya.

Lebih lanjut Tedjo menuturkan, penanganan atau pencegahan efektif nyamuk DBD adalah dengan program PSN atau Pemberantasan Sarang Nyamuk, penyebaran bubuk abate dan penanaman tanaman bisa mengusir nyamuk.

"Fogging massal bukan solusi tapi pemberantasan sarang nyamuk itu yang penting untuk pencegahan, kami meminta juga dewan mengajak semua pihak agar melakukan PSN dengan cara membersihkan, mengubur dan menutup tempat-tempat yang memungkinkan nyamuk bersarang.

Tedjo menambahkan, pihaknya sendiri hanya memiliki anggaran sekitar Rp 200 juta untuk melakukan fogging sepanjang 2020 dan dana tersebut hanya bisa mengatasi 80 hingga 100 titik wilayah yang ada penderita DBD.

"Karena satu tempat itu kita butuh Rp 2-3 juta untuk melakukan fogging, tahun ini merupakan siklus DBD sehingga kita sangat mewanti-wanti melakukan fogging hanya untuk di lokasi yang ada korban DBD saja," katanya.

Penulis: Edison
Editor: Wawan Perdana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved