Cerita Khas Sumsel
Edhy Prabowo Gantikan Susi Pudjiastuti Jabat Menteri Kelautan dan Perikanan, Langganan Juara Kelas
Edhy Prabowo resmi menjabat Menteri Kelautan dan Perikanan menggantikan Susi Pudjiastuti, Rabu (23/10/2019)
Penulis: Ika Anggraeni | Editor: Wawan Perdana
"Dia tidak pernah keluar dari 10 besar, orangnya juga ramah dan memiliki jiwa sosial yang tinggi, dari sekolah dulu kami sudah yakin kalau suatu hari nanti bowo pasti jadi orang yang sukses," katanya.
Dikatakan Astuti, pada saat kelas III, Bowo mengikuti tes AKABRI dan dinyatakan lulus.
"Waktu kami dapat kabar bowo lulus AKABRI, kami sekelaspun langsung menghampiri bangkunya, dan mengerumuninya, kemudian yang paling lucu lagi,"
"Karena gemes dan sayang sama Bowo, kami menjitakinya, sambil ngomong, Bowo kami yakin suatu hari nanti, kamu akan jadi jenderal, dan sebelum kamu jadi jenderal, kami mau jitak kepala kamu dulu, soalnya kalau sudah jadi jenderal mana berani kami jitak kepala jenderal, dan ini pasti akan Bowo ingat terus, dan kamipun ramai-ramai menjitakinya,"
"Tapi bukan menjitak dengan kuat, itu jitakan sayang dari teman-teman sekelas bowo termasuk saya," ungkapnya sambil tertawa.
• Dijamin Tak Korupsi, Inilah Kekayaan Nadiem Makarim, Wishnutama dan Erick Tohir Menteri baru Jokowi
Sebagai sahabat, iapun berharap kedepan bowo dapat mengemban amanah yang dititipkan padanya tersebut dengan sebaik-baiknya.
"Kami hanya berharap agar Bowo tetap menjadi Bowo yang kami kenal jangan berubah, karena sampai sekarang pun dia masih sama tetap bowo yang kami kenal dulu,"
"Dia tidak pernah sombong, dan di group wathassppun dia masih suka berkomunikasi," katanya.
Hal senada juga dikatakan oleh Rusnailah, teman satu angkatan Bowo lainnya.
Menurut Rusnailah, selain memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi sejak SMA, Bowo juga memiliki jiwa sosial.
Kasih sayang dan kepedulian yang tinggi dengan siapa saja.
• Ini Latarbelakang Pendidikan dan Rekam Jejak Nadiem Makarin, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
"Saya ingat betul dulu saya dan Bowo kalau pulang sekolah selalu bareng, karena kami dijemput oleh angkot yang sama,"
"Kami sama-sama pulang ke Tanjung Enim, dan karena rumah Bowo paling jauh, jadi dia selalu paling awal dijemput dan bebas duduk dikursi mana saja diangkot kami,"
"Sementara saya adalah penumpang terakhir yang dijemput dan selalu kebagian bangku di belakang sopir dan duduk berbelakangan dengan sopir, dan karena melihat saya merasa tidak nyaman,"
"Bowo selalu menukar tempat duduknya dengan saya, dia bilang kasian melihat saya duduk dibelakang sopir, jiwa sosialnya memang patut saya acungi jempol," katanya.