Kapolda Sumsel Ditabrak Ojek Online

BREAKING NEWS : Detik-detik Kapolda Sumsel Ditabrak Motor Saat Bersepeda, Hingga Terpelanting

Kapolda Sumatera Selatan Irjen Pol Zulkarnain Adinegara mengalami kecelakaan. Ia diduga ditabrak oleh ojek online

Editor: M. Syah Beni
Tribunsumsel.com/ Instagram
Kapolda Sumsel Bersepeda 

Itu angan-angan masa kecil, bagi saya profesor orang terhormat, orang pintar, tak terlintas sedikit pun menjadi polisi seperti sekarang," sebut Kapolda Irjen Zulkarnain.

Ketika itu, Irjen Zulkarnain mesti menempuh jarak tiga hingga lima kilometer dengan berjalan kaki atau sesekali bersepeda hanya untuk ke sekolah.

Dengan niat pantang surut, pria jebolan Akpol tahun 1985 tersebut akhirnya lulus hingga SMA, dan merantau ke Palembang, yang saat itu jaraknya setengah hari perjalanan dari kampung halamannya.

Di sana Zulkarnain tinggal menumpang dengan sanak saudara. Lantaran tidak punya uang dan kampung yang jauh, membuat ia jarang sekali pulang.

Namun disitulah perjalanan hidupnya dimulai. Berkat otak yang encer, ia pun dinyatakan lulus di Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, sekitar tahun 1981.

”Cuma begini, masa itu kami dikenakan biaya uang pangkal/uang muka Rp33 ribu, harga sepatu Rp5 ribu. Bagi saya itu agak susah, tak punya uang, orang tua juga di kampung.

Saya akhirnya tak bayar uang muka," ceritanya. Meski begitu, Zulkarnain tak lantas bersedih hati, ia yakin selalu ada jalan buat orang yang bersungguh-sungguh.

Dari sana, Tuhan ternyata punya jalan lain dalam kehidupannya. Berawal dari pertemanannya dengan seorang anak tentara, Zulkarnain pun ditawari untuk masuk Akabri (saat itu, red).

"Saya tidak ngerti apa itu. Bapak teman saya itu kolonel. Karena saya sering ke rumah dia di Palembang, diajak daftar Akabri. Itu seingat saya di Kodam II Sriwijaya. Ya ikut daftar saja saya," ucapnya berseloroh.

Mengenal Lebih Dekat Irjen Zulkarnain Adinegara, Kapolda Riau yang Waktu Kecil Bergelimang Lumpur di Sawah dan Selalu Telat Bayar Uang Sekolah

Bahkan saat itu Zulkarnain sempat berniat memalsukan izin orangtua lantaran tak bisa pulang kampung. Beruntung tidak jadi, karena pamannya yang kebetulan di Palembang mewakili menjadi wali.

"Saya waktu itu nggak yakin. Bahkan saya sama sekali nggak tahu apa itu Akabri, termasuk pangkat-pangkatnya. Saya pelajarilah semua," kata dia.

Sebulan menjalani tes, ia pun lulus di Akabri.

Namun langkahnya nyaris terhalang lantaran tidak punya biaya untuk berangkat ke Magelang (saat itu).

Untung saja Zulkarnain dapat bantuan dana dari sanak saudara, ditambah lagi biayanya juga ditanggung oleh negara.

"Orang tua saya pesan, agar bersungguh-sungguh," lanjutnya.

Irjen Zulkarnain sempat terpikat untuk bergabung di Angkatan Udara (AU). Ketika itu ia merasa kalau prajurit AU merupakan sosok yang gagah.

"Kayaknya gagah aja, jadi penerbang (pilot). Tapi setelah di sana, orang cerita-cerita, kalau Angkatan Darat (AD) bisa jadi bupati dan lain-lain, jadi pengen pula saya," candanya.

Di tengah-tengah kegalauan itu, Zulkarnain dipanggil dan disuruh membuat pernyataan soal pilihannya di Akabri.

"Dipanggil, disuruh buat pernyataan, apabila tidak sesuai dengan pilihan masuk AU, apakah bisa ditempatkan di mana saja, saya jawab siap. Itulah akhirnya saya masuk polisi," sambungnya bercerita.

"Setelah itu saya baru sadar, memang panggilan saya menjadi seorang polisi. Polri itu harus sosialis, lebih melekat dengan masyarakat, disitu juga alasan saya mengapa akhirnya masuk di kepolisian.

Saya pikir-pikir memang jiwa saya, saya ingin melayani masyarakat dengan sebaik-baiknya," tutur Irjen Zulkarnain.

Pelan tapi pasti, Zulkarnain yang berbakat dibidang Reserse dan Intelijen itu pun menemukan jalannya. Bahkan dirinya juga dapat kesempatan mengenyam ilmu kepolisian di luar negeri.

"Pernah sekolah sebulan di Korea, terus kursus singkat kehumasan Polri di Australia," katanya mengingat-ingat

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved