Kapolda Sumsel Ditabrak Ojek Online
BREAKING NEWS : Detik-detik Kapolda Sumsel Ditabrak Motor Saat Bersepeda, Hingga Terpelanting
Kapolda Sumatera Selatan Irjen Pol Zulkarnain Adinegara mengalami kecelakaan. Ia diduga ditabrak oleh ojek online
Tanpa sungkan, orang nomor satu di Polda Sumsel ini duduk dan membuka nasi bungkus yang ada di hadapannya.
"Ayo makan semuanya. Sama saja," ujar sang jenderal kepada anggota yang ada di belakangnya.

Tentunya sikap Kapolda Sumsel ini patut untuk diberikan apresiasi yang bersikap sederhana makan bersama para anggotanya.
Masa Kecil Kapolda Sumsel
Usut punya usut,ternyata dibalik sikap sederhana polisi nomor 1 di Sumsel ternyata menyimpan sebuah kisah masa kecil yang sangat menginspirasi.
Dilansir dari Goriau, Kapolda Sumsel Irjen Pol Zulkarnain Adinegara Lahir dari pasangan petani nun jauh di pelosok desa membuat ayah dari empat orang anak ini menjadi ”tercambuk” untuk bisa mengubah garis hidup.
Pahit getir sudah ia lalui, sampai akhirnya, Zulkarnain berhasil memikul pangkat bintang dua di pundaknya.
bahwa dirinya kecil sudah terbiasa hidup susah.
Sejak SD hingga SMA, pria kelahiran 31 Oktober 1961 itu sudah terbiasa bekerja membantu orang tuanya di sawah, termasuk mengembalakan ternak berupa sapi dan kambing. Itu jadi rutinitasnya sepulang sekolah.
"Saya anak kedua dari delapan bersaudara. Ayah ibu seorang petani, sesekali ayah nyopir antar kampung pakai mobil orang lain.
Kalau sekarang orang bilang Angkot. Ngantar-ngantarin orang. Karena anak petani, ya saya harus bantu orang tua, pulang sekolah nanam padi terus gembalakan ternak," katanya.
Dengan hidup keluarga yang pas-pasan, membuatnya sering terlambat membayar uang sekolah. Tak ayal, Zulkarnain pun sering ditindak karena itu.
"Dulu itu bayar uang sekolah sesuai kemampuan ekonomi, saya masuk kategori ekonomi di bawah, bayar sekolah pun murah, tapi sering macet pula, ya ditindak sama sekolah," tuturnya.

Selama masa itu pula tak pernah terlintas sedikit pun di kepala Zulkarnain kecil untuk menjadi seorang abdi negara seperti sekarang. Ia justru bertekad menjadi seorang profesor.
Dengan polos dia beranggapan, profesor merupakan orang yang pintar dan berilmu. "Saya tidak mengerti apa itu profesor, dalam pandangan saya profesor itu orang berpendidikan, terhormat," sebutnya.
"Masih kecil, cita-cita profesor itu pengennya, bahkan saya tulis di rumah saya itu, rumah saya rumah panggung, saya tulis dengan arang, 'Profesor Zulkarnain'.