Berita Lubuklinggau
Warga Lubuklinggau Mulai Kesulitan Dapat Elpiji 3 Kg di Pengecer
Ibu Rumah Tangga (IRT) di Kota Lubuklinggau mulai kesulitan mendapatkan gas elpiji 3 kg di masa liburan akhir tahun 2018
Penulis: Eko Hepronis |
Laporan wartawan Tribunsumsel.com, Eko Hepronis.
TRIBUNSUMSEL.COM,LUBUKLINGGAUA-Ibu Rumah Tangga (IRT) di Kota Lubuklinggau mulai kesulitan mendapatkan gas elpiji 3 kg di masa liburan akhir tahun 2018.
Kalau pun ada, harganya jadi lebih tinggi dibandingkan biasanya.
Bahkan di tingkat pengecer harganya saat ini bervariasi mulai dari Rp 25 ribu sampai Rp 28 ribu.
Seperti wilayah Kelurahan Ulak Surung, Kecamatan Lubuklinggau Utara II misalnya harga gas elpiji 3 kg di tingkat pengecer mencapai Rp 28 ribu.
Suryana, warga setempat mengakui selama ini gas elpiji 3 kg mudah didapat di warung-warung. Namun sejak dua pekan terakhir susah didapat.
• Herman Deru Minta Warga Sumsel Tetap Tenang Sampai Terkonfirmasi Sumber Suara Dentuman Misterius
• Sambut Tahun Baru, Celcius PTC Mal Tawarkan Produk Terbaru Jins
"Harga ada, gas elpiji tidak, ada yang Rp 27 ribu ada yang sampai Rp 28 ribu," kata ibu dua anak ini, Rabu (26/12/2018).
Mirisnya kata Suryana kadang ada harga, namun barangnya tidak tersedia. Bahkan untuk mendapatkan gas elpiji ia terpaksa harus ke Pasar Satelit.
"Gas ini sudah jadi kebutuhan pokok, kita tidak masalah harganya agak tinggi, tapi kita minta barangnya langka," kata dia.
Ketua Hiswana Migas Lubuklinggau, Winasta Ayu Duri beberapa waktu lalu mengatakan jika sulit mencari elpiji 3 kg di pengecer tidak bisa disebut langka.
"Sebenarnya distribusi elpiji bersubaidi itu tidak ada masalah di lapangan. Dari agen disalurkan sesuai jatah dari Pertamina," katanya.
• Promo Tiket Pesawat Murah 2019 Maskapai Jetstar, Harganya Cuma Segini ke Thailand
• Promo Katalog Indomaret Akhir Tahun 26 Desember - 1 Januari 2019, Harga Susu Anak Murah
Ia mengungkapkan menyambut libur tahun baru pihaknya memastikan bahwa tetap ada agen dan pangkalan yang siaga supaya tidak terjadi kelangkaan.
Mengenai jumlah pangkalan disetiap kelurahan, Winasta enggan menjelaskan.
"Kalau itu tanya perizinan dan ekonomi," katanya.