Pileg 2019

Pileg 2019 : Politisi Perempuan Harus Main Cantik Agar Dapat Menunjukkan Kemampuan Kepada Masyarakat

Cantik berpolitik ini, dalam artian setiap caleg perempuan yang berkecimpung di dunia politik harus mengedepankan politik yang santun dan etis.

Tribunsumsel.com/ Arief Basuki Rohekan
Calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Sumsel, Siska Marleni 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Beberapa orang khususnya kaum perempuan menilai bahwa dunia politik merupakan suatu hal yang menakutkan.

Terlebih jika pengalaman politik yang dimiliki masih sangat minim.

Seperti yang diungkapkan calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Sumsel, Siska Marleni, yang menyatakan bahwa kaum perempuan harusnya bisa memenuhi kuota keterwakilan 30 persen di kursi legislatif.

"Dari segi representatif, kuota 30 persen itu sudah cukup mewakili perempuan. Hal ini harus didorong oleh stakeholder ataupun partai politik agar perempuan juga dapat kesempatan yang sama untuk menjadi wakil rakyat," kata Siska di acara Ngopi Bareng Bung FK alias Fatkurohman.

Namun demikian, kuota tersebut juga jangan dianggap sebagai tiket gratis untuk perempuan untuk jadi legislator.

"Itu juga kembali pada kapasitas dari perempuan itu sendiri, bagaimana dirinya berpolitik juga menjadi nilai tambah. Oleh karena itu perlu cara cantik berpolitik agar masyarakat bisa menilai kemampuan caleg perempuan," kata anggota DPD incumbent ini.

Cantik berpolitik ini, dalam artian setiap caleg perempuan yang berkecimpung di dunia politik harus mengedepankan politik yang santun dan etis.

"Perempuan harus lebih berjuang untuk menjadi wakil rakyat. Tetap berpolitik santun, jangan berpolitik belah bambu yang rela menginjak sisi sebelah untuk menginjak sisi lainnya," tuturnya.

Baca: Jadwal Semifinal Fuzhou China Open 2018 : Marcus/ Kevin dan Ahsan/ Hendra Harapan Terakhir Indonesia

Baca: Jadwal Siaran Langsung Sepakbola Hari ini, Sabtu (10/11) dan Minggu (11/11) Dinihari

Hal senada diungkapkan Caleg DPRD kota Palembang dari Partai Amanat Nasional (PAN), Dewi Ratih Anggraini atau yang akrab disapa Nyi Ratih.

Menurutnya, politik bisa sangat menakutkan jika pelaku politik itu melakukan kegiatan politik diluar koridor. Bahkan tidak sedikit pelaku politik yang mendekam dibalik jeruji besi karena terjerat kasus hukum.

"Saya sangat surprise pertama kali berpolitik, karena politik ini menakutkan. Apalagi banyak berita yang menunjukkan orang yang berkecimpung di dunia politik masuk jeruji besi. Bahkan teman dekat atau saudara bisa pecah akibat berpolitik ini. Namun saya mencoba memberanikan diri maju berpolitik sebagai pejuang wanita untuk menepis anggapan bahwa politik itu tidak sekejam, senaif yang dibayangkan jika kita sesuai koridor," ujar Nyi Ratih.

Bukan hanya ingin menjadi pejuang wanita, alasan dirinya maju sebagai caleg pun untuk menyampaikan suara rakyat kepada pemerintahan dan memajukan suatu daerah.

"Memang perjuangan saya berat, karena di dapil 2 ini total ada 176 caleg yang maju, dengan total 6 caleg incumbent yang akan berebut 11 kursi. Tapi inilah yang jadi faktor pendorong saya untuk berjuang dengan berpolitik secara baik dan santun. Saya juga ingin masyarakat melihat bahwa wanita juga bisa berjuang di dunia politik," tegasnya.

Baca: Prediksi dan Link Live Streaming (TV Online) Persipura vs Bali United Siang ini di Gojek Liga 1

Baca: Politik Genderuwo Peninggalan Pola Berpikir Jaman Belanda

 

Hal serupa juga disampaikan

Sementara, Dewan Pakar Analisis Sosial Politik Rumah Citra, Fatkurohman S.Sos mengatakan hal terpenting dalam berpolitik mengedepankan hal positif.

"Positif bagi negara, positif bagi masyarakat dan positif bisa terpilih," katanya.

Ia juga menambahkan, harus ada pembuktian dari kaum perempuan untuk memenuhi kuota keterwakilan sebesar 30 persen tersebut.

"Saya rasa bukan tidak mungkin kuota tersebut dapat terpenuhi jika melihat banyaknya perempuan yang maju di pileg 2019," tukasnya.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved