Pilpres 2019

Ratna Sarumpaet dan Rocky Diberi Waktu 3 Jam di Palembang

ktivis reformasi Ratna Sarumpaeh dan profesor Filsafat Rocky Gerung, diberikan waktu hanya 3 jam

Ratna Sarumpaet dan Rocky Diberi Waktu 3 Jam di Palembang
TRIBUNSUMSEL.COM/ARIEF BASUKI ROHEKAN
Aktivis reformasi Ratna Sarumpaeh dan profesor Filsafat Rocky Gerung, diberikan waktu hanya 3 jam menapakkan kakinya di kota Palembang, oleh pihak kepolisian setempat. Padahal keduanya baru tiba di Palembang dari Jakarta pada pukul 13.00 wib lalu sebagai narasumber, diskusi yang dilaksanakan Forum Group Diskusi (FGD) Gerakan Selamatkan Indonesia (GSI). 

Laporan Wartawan Tribunsumsel.com, Arief Basuki Rohekan

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG,--
Aktivis reformasi Ratna Sarumpaeh dan profesor Filsafat Rocky Gerung, diberikan waktu hanya 3 jam menapakkan kakinya di kota Palembang, oleh pihak kepolisian setempat.

Padahal keduanya baru tiba di Palembang dari Jakarta pada pukul 13.00 wib lalu sebagai narasumber, diskusi yang dilaksanakan Forum Group Diskusi (FGD) Gerakan Selamatkan Indonesia (GSI).

"Saya dikasih waktu hanya tiga jam di Palembang, padahal agenda saya ke Lubuk Linggau juga. Tapi disuruh pulang kampung lagi ke Jakarta. Salah saya apa, krimininal apa," kata Ratna Sarumpaeh saat menggelar jumpa pers di Palembang, Sabtu (1/9/2018).

Ratna Sarumpaeh bingung kenapa selama ini diri dan Rocky ditolak untuk datang kebeberapa daerah untuk menjadi narasumber, padahal hak bersuara dilindungi undang- undang.

"Padahal saya datang untuk diskusi ini agar bersuara, mengeluarkan pikiran dan mencerdaskan bangsa. Tapi ini dicurigai untuk (makar) dan bodoh pemerintahan sekarang. Jelas diskusi pantang dilarang," jelasnya.

Dirambahkan Ratna, dirinya rela ke daerah- daerah untuk bertukar pikiran dan mencerdaskan masyarakat Indonesia, dan dirinya tidak akan kapok dengan penolakan seperti ini.

"Saya ingin meningkatkan pengetahuan perempuan akan hak- haknya, kalau dianggap kriminal itu salah. Pak Tito (Kapokri) harus tahu dia polisi, ngerti dak demokrasi dak, dan saya tahu aturan (larangan) ini datang dari Jakarta," bebernya.

Ratna sendiri mengaku, rezim pemerintahan saat ini lebih buruk terhadap rezim-rezim pemerintahan terdahulu, berdasarkan pengalamannya selama inim

"Rezim sekarang dibanding pemerintahan Soeharto, ini keterlaluan dan tidak bisa dibiarin," tegasnya.

Hal senada diungkapka Rocky Gerung, dirinya heran saat ini sebagai seorang akademisi ia memiliki hak untuk bersuara, namun sebelum bersuara dirinya sudah dilarang atau ditolak.

"Saya terangkan narasumber orang yang mengetahui, namun orang sudah berpikiran bahaya (pemerintah), padahal belum bicara. Kedua, kami tidak setuju pendapat kepolisian, negara tidak melindungi pendapat orang, harusnya dilindungi negara untuk hak berpendapat," tuturnya.

Rocky juga menganggap penolakan dirinya bersama Ratna sebagai pelanggaran konstitusional, karena melawan undang- undang.

"Ini hak menghalangi konstitusional, sehingga harusnya ditindak yang menghambat. Mungkin bodoh menghalangi kami, karena kurang makan pempek," sindirnya.

Sementara ketua Presidium GSI Carma Aprianto mengaku, jika saat ini warga Indonesia seperti Ratna dan Ricky tersandera di negeri sendiri, karena tidak boleh menyampaikan pendampatnya di publik.

"Presideum GSI mengucapkan terimakasih kepada peserta yang hadir dan masyarakat, tapi nyatanya bu Ratna dan bung Rocky diperintah keluar Palembang. Rencana awal kita diskusi di The Zuri Hotel tapi semalam surat keluar harus keluar, plant B juga dibatalkan di Batiqa Hotel, padahal tadi
tidak ada atlet (tamu lagi). Terakhir untuk di rumah limas plant c, juga dilarang. Jadi Kita ikuti apa kata aparat, dengan alasan Asian Games," pungkasnya.

Penulis: Arief Basuki Rohekan
Editor: Muhamad Edward
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved