HUT ke 73 RI

Tanpa Sepengetahuan Orangtua, Cucu Presiden Soeharto Daftar Jadi Paskibraka dan ini yang Terjadi

Danty Rukmana, terpilih menjadi anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka).

TRIBUNSUMSEL.COM-Siti Hardiyanti Rukmana, Putri Presiden Ke-2 RI, Soeharto, memiliki pengalaman yang sangat berkesan setiap kali melihat foto yang satu ini.

Siti Hardiyanti Rukmana yang biasa disapa Mbak Tutut mengaku sangat bangga, terharu, dan bahagia jika melihat foto kenangan tersebut.

Foto itu terkait dengan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta, ketika ayahnya masih menjadi Presiden.

Baca: Cerita Cucu Soeharto Berhasil Jadi Paskibraka Pembawa Baki, Fakta Soal Pemilihannya Baru Terungkap

Baca: Diungkap Sang Pengawal, Ternyata Soeharto Punya Buku Khusus Selama Jadi Presiden Begini Isinya

Baca: Mereka yang Dulu Kalah Dukung Prabowo Kini Berbalik Dukung Jokowi, No 4 Banyak Disukai Orang

Danty anak Tutut Soeharto atau cucu Presiden Soeharto saat itu adalah pelajar SMA Lab School, Rawamangun, Jakarta Timur.

Peringatan HUT Kemerdekaan RI berlangsung di Istana Merdeka pada 17 Agustus 1990 atau 28 tahun yang lalu.

Danty Indriastuti Purnamasari Rukmana, cucu Presiden Soeharto, menerima bendera pusaka dari sang kakek para peringatan HUT Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1990.
Danty Indriastuti Purnamasari Rukmana, cucu Presiden Soeharto, menerima bendera pusaka dari sang kakek para peringatan HUT Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1990. (@tututsoeharto)

Tutu Soeharto mengaku tidak tahu menahu dan tidak campur tangan ketika Danty mendaftarkan diri menjadi calon anggota Paskibraka.

“Mama dan juga papa, tolong jangan ikut campur dalam tes penyeleksian ini ya, biar Danty sendiri yang menghadapi,” ujar Danty  kepada Tutut ketika ia diketahui mendaftar menjadi anggota Paskibraka.

Cerita cucu Soeharto menjadi pembawa bendera pusaka itu ditulis kembali oleh Tutut.

"Danty ingin, semua bukan fasilitas karena eyang jadi Presiden. Mudah-mudahan Danty dapat membuat mama, papa, eyang kakung dan eyang putri serta saudara-saudara bangga, aamiin,” ujar Danty seperti ditulis Tutut.

Sebagian tulisan dimuat di akun instagramnya.

Danty Indriastuti Purnamasari Rukmana, cucu Presiden Soeharto, menerima bendera pusaka dari sang kakek para peringatan HUT Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1990.
Danty Indriastuti Purnamasari Rukmana, cucu Presiden Soeharto, menerima bendera pusaka dari sang kakek para peringatan HUT Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1990. (@tututsoeharto)

@tututsoeharto*“PASKIBRAKA”* Saya laporkan kepada bapak dan ibu tentang Danty mewakili sekolahnya mengikuti tes penyeleksian menjadi PASKIBRAKA.

Saya sampaikan pula keinginan Danty supaya kita tidak ikut campur, biar dia berusaha dengan kemampuannya.

Bapak dan ibu sangat bahagia mendengar berita itu, dan Alhamdulillah bapak ibu sangat menghargai dan bangga atas keputusan Danty, dan kita harus mendukung keinginannya.

Akhirnya suatu hari, dia datang dengan senyum manis nya sambil memeluk saya : “ Papa, mama, Alhamdulillah Danty terpilih menjadi Pasukan Pengkibar Bendera Pusaka.” Kisah selengkapnya bisa dibaca dalam link berita berikut... http://tututsoeharto.id/paskibraka/

Cerita Cucu Soeharto Jadi Pengebar Bendera Pusaka yang Bikin Haru

Cerita lengkap Danty menjadi pengibar bendera pusaka tanpa camput tangan sang kakek dan juga ibunya ditulis Tutut secara lengkap berikut ini.

“PASKIBRAKA”
Oleh: Siti Hardiyanti Rukmana

Setiap kali saya meliat foto di atas, rasa bangga, haru dan bahagia selalu menyelimutiku. Saya ingat betul bagaimana Danty sampai terpilih menjadi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (PASKIBRAKA). Danty SMA di Lab School, Rawa Mangun, dimana Kepala Sekolah nya saat itu adalah pak Arief Rahman. 

Alhamdulillah Danty prestasi sekolahnya bagus, sehingga dia dipilih sekolahnya bersama satu orang siswa laki-laki untuk ikut tes penyeleksian anggota PASKIBRAKA, yang nantinya akan mewakili DKI, dimana yang boleh mengikuti adalah anak yang berprestasi dan ranking di kelasnya.

Pada pendaftaran pertama saya tidak tahu menahu. Namun akhirnya saya tahu dia ikut serta. Waktu saya tanya apakah dia ikut tes tersebut, Danty minta pada saya : “Mama dan juga papa, tolong jangan ikut campur dalam tes penyeleksian ini ya, biar Danty sendiri yang menghadapi.”

Saya tanyakan : “Kena apa mbak, kan mama ingin tahu dan mengikuti proses nya dan juga hasilnya.”

Dia menjawab: “Papa dan mama, doa kan Danty berhasil dalam tes penyeleksian ini. Kalau Danty tidak berhasil, Danty mohon maaf sebesar-besarnya ya Ma, Pa.

Tapi kalau Danty berhasil, Danty ingin, semua bukan fasilitas karena eyang jadi Presiden. Mudah-mudahan Danty dapat membuat mama, papa, eyang kakung dan eyang putri serta saudara-saudara bangga, aamiin”

Mendengar dia berkata begitu, saya peluk erat dia, rasa haru tak dapat dibendung. Saya katakan : “Aamiin, mama akan selalu berdoa untukmu wuk, semoga kemudahan, keteguhan, kesabaran, kesehatan, keberhasilan, perlindungan dan petunjuk selalu Allah berikan padamu ya wuk, aamiin.”

Alhamdulillah, terima kasih ya Robb, Anak perempuan kecilku, ternyata sudah dewasa, tumbuh menjadi gadis yang berbudi pekerti dan bijaksana.

Setiap hari hanya doa yang dapat menemani gadisku, sesuai permohonannya padaku. Saya harus yakin bahwa anakku mampu melewati semua tes yang dihadapinya, dan memohon pertolongan-Nya, untuk keberhasilnya anak gadisku.

Saya laporkan kepada bapak dan ibu tentang Danty mewakili sekolahnya mengikuti tes penyeleksian menjadi PASKIBRAKA. Saya sampaikan pula keinginan Danty supaya kita tidak ikut campur, biar dia berusaha dengan kemampuannya.

Bapak dan ibu sangat bahagia mendengar berita itu, dan Alhamdulillah bapak ibu sangat menghargai dan bangga atas keputusan Danty, dan kita harus mendukung keinginannya.

Setiap pulang dari tes, saya selalu menanyakan bagaimana hasilnya. Danty selalu menjawab: “Alhamdulillah bisa mah, doakan Danty selalu ya mah.”

“Ada yang tahu nggak kamu cucunya eyang wuk?” aku bertanya.

“Alhamdulillah sampai saat ini nggak ada mah. Mereka tahunya aku perwakilan dari Lab School.”

Akhirnya suatu hari, dia datang dengan senyum manisnya sambil memeluk saya: “ Papa, mama, Alhamdulillah Danty terpilih menjadi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka.”

Dalam hati saya berbisik: “Terima kasih ya Allah, telah kau izinkan anakku untuk menjadi salah satu Pasukan Pengibar Bendera Pusaka. Berilah anakku Danty kemampuan untuk dapat melaksanakannya dengan baik, benar dan sukses, aamiin.”

Pada saat dia harus masuk pelatihan di Cibubur, rasa rindu selalu ingin melihat Danty, dan ingin tahu bisakah dia melewati latihan-latihan yang diberikan pada para siswa.

Ada salah seorang instruktur, kawan saya (dan Danty saat itu sudah dikenal bahwa dia anak saya dan cucunya bapak), saya sampaikan saya ingin menengok Danty bisa apa tidak. Dia bilang sekarang belum bisa, nanti ada saatnya untuk berkunjung.

Berita ini sampai ke Danty, dia minta izin untuk menelpon saya, dan di telpon dia bilang: “ Mama, jangan datang sekarang ya, teman-teman yang lain juga tidak ada yang dijenguk. Kalau mama kesini sekarang, aku malu mah. Nanti ada waktunya untuk menjenguk kok mah. Mama doakan Danty saja.”

“Iya mbak, mama akan selalu berdoa untukmu. Jaga kesehatan ya wuk, jaga diri baik-baik, jangan lupa sholat.”

“Iya mah, insya Allah.” Jawabnya.

Lalu, kabar yang menggembirakan dan mengharukan pun datang mengunjungi rumah kami, bahwa anakku Danty terpilih menjadi pembawa Bendera Pusaka. 

Sujud syukur langsung aku kerjakan, bersyukur dan berterima kasih atas segala karunia dan terpilihnya Danty menjadi pembawa Bendera Pusaka pada upacara kenegaraan memperingati hari kemerdekaan yang ke-45 bangsa Indonesia.

Hari yang kita nantikan pun datang. Sepanjang upacara berlangsung tidak henti-hentinya saya berdoa agar Danty diberi kekuatan dan kemampuan untuk melaksanakan upacara sampai selesai.

Pada saat dia menaiki tangga, saya tak berani menatapnya, takut tak dapat menahan derai air mata, yang telah saya coba tahan dari tadi.Sebentar lagi Danty Rukmana (nama lengkapnya Danty Indriastuty Purnamasari Rukmana), siswa SMA dari DKI, menerima bendera pusaka dari Presiden ke-II Republik Indonesia.

“Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”.

Digahayu Indonesia.
Jayalah Bangsaku, Jayalah Negeriku, Jayalah Indonesiaku.
M E R D E K A !!!!!!!!

Jakarta 17 Agustus 2018.
Pukul 05.00, Usai subuh.

 
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved