Demi Sang Pujaan Hati, Pria Ini Rela Donorkan Satu Ginjalnya,Tapi Balasan Ini yang Didapatkan,Kejam
Pria ini rela berikan ginjalnya para wanita yang ia cintai, tapi balasannya mengerikan.Saat jatuh cinta, seseorang biasanya
TRIBUNSUMSEL.COM - Pria ini rela berikan ginjalnya para wanita yang ia cintai, tapi balasannya mengerikan.
Saat jatuh cinta, seseorang biasanya rela melakukan apa saja demi pujaan hati.
Tak jarang mereka harus memberikan pengorbanan untuk orang yang dicintai.
Hal tersebut juga dilakukan oleh seorang pria bernama Simon Louis.
Pria berusia 49 tahun ini mencintai seorang wanita bernama Mary Emmanuelle (41), melansir Mirror.
Simon dan Mary pertama kali bertemu di sebuah klub di London pada pertengahan tahun 1990.
Awalnya, Mary yang saat itu menganggap Simon adalah pria yang tampan tapi tak baik.
Keduanya sempat saling menggoda, tapi hubungannya tak pernah lebih dari itu.
Bertahun-tahun berlalu, Mary sibuk mengurus anaknya, Dwayne, dan bekerja sebagai sekretaris.
Sedangkan, Simon membantu saudaranya menyelenggarakan acara musik.
Simon sempat menjalin hubungan asmara, tapi persaannya tak bisa berpaling dari Mary.
Saat Hari Valentine, Simon sempat membelikannya cokelat dan bunga mawar.
Tapi, sebuah kejadian tak terduga terjadi.
Pada Semptember 2014, Mary tiba-tiba jatuh di rumah usai kulitnya berubah menguning.
Dwayne yang saat itu berusia 21 tahun menemukan ibunya tergeletak di lantai, muntah dan segera dilarikan ke Guy's Hospital di London Selatan.

Mary koma selama 2 minggu usai mengalami pendarahan otak.
Ia juga menghabiskan 2 bulan perawatan intensif dan akhirnya didiagnosa menderita penyakit ginjal stadium akhir.
Agar bisa bertahan, Mary membutuhkan transplantasi.
Namun, harapannya berkurang kareana Mary memiliki golongan darah yang sangat jarang yaitu B negatif.
"Aku tidak bisa mempercayainya- aku telah diberi vonis mati.
Namaku ditulis di daftar 'donor mati'. Aku hanya bisa menunggu," jelasnya pada Mirror.
Pada Januari 2015, Mary akhirnya dipulangkan dari rumah sakit.
Tapi, setiap hari dia harus ke rumah sakit untuk menjalani cuci darah.

Simon pun mengunjunginya setiap hari, bahkan terkadang menginap.
Ia mendampingi agar lebih mudah mengantarkan dan memulangkannya dari rumah sakit.
Tak hanya itu saja, Simon juga membantu Mary mengganti pakaian, mandi dan makan.
Sebagai rasa terima kasih, Mary mengajak Simon liburan ke Spanyol sambil menunggu adanya donor.
Sayangnya, saat mereka pulang ke Inggris, donor ginjalnya sudah diberikan para orang lain.
Kondisinya semakin buruk, Mary pun pindah ke rumah Simon agar lebih mudah dirawat.
"Dia adalah perawat yang baik. Saat malam dia berbaring, menceritakan cerita lucu, dan membelaiku hingga tidur.
Cinta dan perhatiannya membantuku melewati masa kelam."

Beberapa minggu setelahnya, Simon melakukan tes untuk tahu apakah dia bisa jadi pendonor yang cocok.
Tak disangka, Simon ternyata cocok jadi pendonor.
Setelah pemeriksaan selama berbulan-bulan, keduanya menjalani operasi untuk Mary.
Operasinya berjalan lancar dan keduanya diperbolehkan pulang.
Simon merasa senang karena merasa telah menyelamatkan hidup pujaan hatinya.

Pada suatu hari, saat sedang menyiapkan makan malam, Simon memberanikan diri untuk melamar Mary.
Simon berharap Mary mau menghabiskan hidup bersamanya.
"Aku merasa sangat tersanjung dia masih mau menikahiku setelah melihat kondisi terburukku."
Tapi, sayangnya, harapan Simon bertepuk sebelah tangan.
Mary memberikan penolakan secara halus pada pria tersebut.
"Aku menolaknya dengan halus dengan mengatakan aku akan memikirkannya."
Bukan karena tak suka, Mary takut pernikahan justru merusak persahabatan mereka.
Kondisi kesehatan Mary juga disebut jadi hambatan.
Ia tak mau menikah jika belum benar-benar sehat.
Meski lamarannya ditolak, Simon tetap ingin berteman.
"Aku menawarkan hatiku padanya, tapi aku harus puas dengan memberikan ginjalku.
Apapun yang terjadi, aku tidak akan menyesali telah memberinya hidup."

Simon mengaku tak berpikir 2 kali atas keputusannya tersebut.
"Tak perlu ditanyakan untuk melakukan hal seperti itu untuk seseorang yang kamu cintai," jelas Simon. (TribunStyle.com, AWP)