Obsesi Kurus dan Pamer Tulang di Media Sosial Tidak Sehat, Bisa Jadi Gangguan Jiwa

Sebenarnya pada tahun 2012 hastag tersebut sempat dilarang, tetapi entah bagaimana para gadis remaja menggunakannya lagi.

Tayang:
Editor: Hartati

TRIBUNSUMSEL.COM - Tubuh langsing, bahkan kurus, memang selalu menjadi idaman banyak wanita.

Tapi, kalau sudah berlebihan justru bisa menjadi obsesi yang berbahaya.

Saat ini di Instagram sedang ada tren memamerkan tubuh kurus sampai terlihat tulangnya dengan hastag 'thinspiration'.

Studi terbaru dari Journal of Eating Disorder mengatakan bahwa foto-foto yang tersebar di media sosial merupakan bentuk 'penularan sosial' (sebuah bentuk penularan perilaku orang lain dari dalam lingkungan sosial, termasuk sosial media).

Inilah yang menjadi kekawatiran publik, terutama bagi pakar nutrisi.

Sebenarnya pada tahun 2012 hastag tersebut sempat dilarang, tetapi entah bagaimana para gadis remaja menggunakannya lagi.

Foto-foto yang diunggah Alesya Kafenikov memperlihatkan tubuhnya berubah menjadi sangat kurus
Foto-foto yang diunggah Alesya Kafenikov memperlihatkan tubuhnya berubah menjadi sangat kurus ((DAILYMAIL.COM))

Psikolog Catherine Talbot dari Exeter of University Medical School, Amerika, menemukan 140.000 gambar di instagram yang berkaitan dengan trend tersebut pada akhir minggu lalu.

Setelah menganalisis lebih dari 730 gambar yang diposting para gadis muda di akun instagram mereka, Cathrine menemukan bahwa 26 persen gambar menunjukan tulang pinggul yang menonjol, 23 persen memamerkan tulang rusuk dan 22 persen tulang selangka.

"Tidak ada gunanya media sosial melarang penggunaan hastag ini. Para remaja akan menemukan berbagai cara agar tren ini terus berkembang. Yang perlu dilakukan hanya menghapus konten foto yang berkaitan dengan hastag ini seperti yang dilakukan pada konten pornografi," papar Catherine.

Ia berpendapat, tren pamer tubuh kurus ini bisa menyesatkan gadis-gadis remaja karena mereka akan memiliki citra diri yang salah dan memicu gangguan pola makan.

Bahkan, menurutnya obsesi pada tubuh kurus merupakan bagian dari gangguan kejiwaan.

"Fenomena ini juga disebabkan karena mereka, khususnyan remaja perempuan, merasa kesepian," tambah Catherine.

Ia mengatakan pernah mendapatkan telepon dari pasien penderita gangguan pola makan.

Pasien tersebut mengatakan bahwa dia merasa kesepian dan tidak memiliki siapapun untuk berbagi kisah sehingga tidak bisa berhenti untuk memposting gambar tubuh kurusnya di media sosial.

Sumber: Kompas
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved