Serangan Jantung Bisa Menyerang Siapa Saja

Wajah-wajah penuh suka cita menghiasi wajah handai taulan yang setia menemani sang bapak di rumah sakit.

net
Sakit jantung 

TRIBUNSUMSEL.COM- Pak Maman (bukan nama sebenarnya), menarik nafas lega setelah lolos dari maut.  Rasa menghimpit yang mencengkeram di tengah dadanya  beberapa saat yang lalu sirnalah sudah.

Wajah-wajah penuh suka cita menghiasi wajah handai taulan yang setia menemani sang bapak di rumah sakit.

Sesungguhnya, belum lama berselang, beliau didiagnosis dokter menderita serangan jantung derajat berat, atau infark miokard dengan elevasi segmen ST pada rekam jantung , yang lazim disebut STEMI (ST Elevation Myocardial Infarction).  

STEMI  adalah suatu kondisi dimana pembuluh darah koroner yang mensuplai jantung mengalami penyumbatan total secara mendadak, akibat pecahnya plak berisi bubur lemak yang selama ini tertimbun dalam pembuluh tanpa disadari.

Plak tadi, disebut juga aterosklerosis, disebabkan oleh kerusakan lapisan pelindung koroner (endotel) akibat faktor risiko seperti merokok, darah tinggi atau gula darah tidak terkontrol.

Dalam menghadapi kasus STEMI, dokter harus bergerak cepat, karena nyawa pasien adalah taruhannya.

Setiap detik yang  terlewati sangat berharga karena semakin luas otot jantung akan mengalami kerusakan apabila sumbatan ini dibiarkan.

Idealnya, aliran darah harus dikembalikan dalam waktu kurang dari 12 jam setelah awal serangan agar pasien terhindar dari kematian maupun komplikasi lain seperti gagal jantung dan gangguan listrik jantung yang fatal. 

Agar pembuluh darah lancar kembali, maka salah satu teknik terbaik adalah dengan segera membuka penyempitan menggunakan stent/ring koroner.

Teknik ini juga dikenal dengan sebutan IKPP (Intervensi Koroner Perkutan Primer) dan sudah merupakan protokol standar di negara-negara maju yang sebaiknya dilakukan dimana mampu dilakukan.

A.      Sebelum IKP Primer                                                                  B. Sesudah IKP Primer               

Pada kenyataannya, cukup banyak tantangan yang dihadapi sebelum IKPP dapat dilakukan, misalnya keterlambatan pasien datang ke rumah sakit.

Seringkali serangan jantung disangka sakit maag biasa atau “angin duduk”, sehingga pasien menunda pergi ke UGD, akibatnya waktu yang tersisa untuk persiapan tindakan IKPP semakin sempit.

Selain itu tak jarang, karena kejadiannya begitu tiba-tiba, maka pasien maupun keluarga tidak mampu berpikir jernih, menyangkal atau menjadi ragu-ragu karena kurangnya wawasan akan penyakit, belum lagi masalah biaya yang harus dikeluarkan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved