Polemik Nama Kuto Gawang

Eksklusif: Ini Alasan Mengapa Dua Sultan di Palembang Menolak Keras Kecamatan Kuto Gawang

Menurut Sultan Iskandar, wilayah Keraton Kuto Gawang saat itu berada di 1 Ilir. Lokasi ini sekarang ditempati Pabrik Pupuk Sriwijaya. Keraton yang ben

zoom-inlihat foto Eksklusif: Ini Alasan Mengapa Dua Sultan di Palembang Menolak Keras Kecamatan Kuto Gawang
Tribun Sumsel

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Semangat DPRD dan Pemkot Palembang untuk melestarikan nama Kuto Gawang patut diapresiasi.

Namun sayang, penempatan kawasan dan penggunaan nama Kecamatan Kuto Gawang, kecamatan baru hasil pemekaran Kecamatan Ilir Timur II, dinilai tidak tepat dan melenceng dari sejarah.

Dua Sultan Palembang mendesak dilakukan revisi.

Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin protes keras Kuto Gawang dijadikan nama kecamatan. Sebagai nama institusi kerajaan, sultan menganggap ini adalah sesuatu yang sakral.

Saat dibincangi dikediamannya, Jalan Torpedo, Sekip Ujung, Rabu (28/9) sore, Sultan berambut panjang ini meyakinkan Tribun Sumsel tentang sejarah Kuto Gawang dengan menunjukkan ulasan dari dua buku.

Sejarang Kuto Gawang tertera pada buku Risalah Sejarah Perjuangan Sultan Mahmud Badaruddin II dan buku Sejarah Perjuangan Sultan Mahmood Badarodin II.

Buku itu juga melampirkan foto skesta Keraton Kuto Gawang yang hangus terbakar saat peperangan melawan Belanda. Perang itu terjadi pada tahun 1659.

Menurut Sultan Iskandar, wilayah Keraton Kuto Gawang saat itu berada di 1 Ilir. Lokasi ini sekarang ditempati Pabrik Pupuk Sriwijaya. Keraton yang bentengnya terbuat dari kayu ini dibangun pada tahun 1400-an.

Pada satu halaman di buku itu juga dijelaskan bangunan-bangunan di sekitar keraton. Ada benteng tambakbaya, benteng martapura, benteng pulau kembara darat dan benten manguntama, Sungai Musi yang ditutup cerucup kayu dan rantai, kapal-kapal kerajaan Palembang.

Ditunjukkan juga lokasi pemukiman orang Arab, kapal-kapal Belanda yang ditawan, pemukiman Tiongkok dan Portugis, istana raja berikut masjid dan makam raja-raja, meriam besar, menara pertahanan dari batu, kapal-kapal perang kerajaan, dan rakit.

Setelah terbakar, pusat pemerintahan pindah ke Keraton Beringin Janggut, lalu pindah lagi ke Keraton Kuto Lamo (Tengkuruk) yang saat ini lokasinya jadi Museum Sultan SMB II. Berikutnya pindah ke Benteng Kuto Besak (BKB).

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved