WNI Disandera Kelompok Abu Sayyaf

Hari Terakhir Penyerahan Uang Tebusan, Istri ABK yang Diculik Terus Pegangi Ponsel

"Saya ikutin saja langkah pemerintah dan perusahaan, saya setiap hari berdoa supaya ini cepat selesai,"

Editor: M. Syah Beni
Tribunnews

TRIBUNSUMSEL.COM, JAKARTA- Kelompok militan Abu Sayyaf yang membajak Kapal Tunda (tugboat) Brahma 12 dan Anand 12, sejak rabu (23/3/2016) lalu, masih menyekap 10 ABK kapal tersebut.

Mereka meminta uang tebusan sebesar 50 Juta peso atau Rp 14,3 miliar dengan batas akhir pembayarab 8 Apilr esok.

Kondisi itu membuat Youla Lasut istri dari salah satu ABK yang disandera‎, Alvian Elvis was-was.

Saban hari, dalam aktivitas apapun ia selalu membawa telepon seluler. Ia menunggu perkembangan terbaru dari suaminya.

"Setiap hari saya berharap ada kabar mengenai suami saya. Saya berharap dihubungi langsung suami," kata Youla di depan kediamnnya di Jalan Swasembada Barat XVII‎ no 25, Kebon Bawang, Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (7/4/2016).

‎Hanya saja menjelang tenggat akhir pemberian uang tebusan belum ada kabar langsung dari suaminya.

Kabar terakhir yang diterima Youla langsung dari suaminya yakni pada Minggu kemarin.

Setelah itu menurut Youla ia hanya mendapat kabar perkembangan kondisi terkini dari perusahaan tempat suaminya bekerja yakni PT Patria Maritim Line.

"Kondisi terkahir menurut perusahaan suami saya dan yang lainnya dalam kondisi sehat," katanya.

Tidak ada kabar langsung dari suaminya membuat Youla terus berkoordinasi dengan perusahaan dan Kementerian Luar Negeri yang sedang mengupayakan pembebasan. Baik perusahaan maupun kemenlu meminta Youla untuk mempercayakan langkah-langkah yang sedang ditempuh.

"Selama ini yang berhubungan dengan pembajak yakni perusahaan dan Kemenlu. ‎Menurut mereka kondisi aman. Perusahaan dan pemerintah meminta supaya bersabar dan meminta dukungan, agar segera dapat diselesaikan," katanya.

‎Youla mengaku dirinya sangat percaya kepada pemerintah dan perusahaan. Langkah atau cara apapun yang ditempun untuk membebaskan suaminya adalah cara yang terbaik. Sehingga sejak awal peristiwa penyanderaan ia hanya menunggu kabar dan berdoa.

"Saya ikutin saja langkah pemerintah dan perusahaan, saya setiap hari berdoa supaya ini cepat selesai," paparnya.

Hal senada diungkapkan Helen, tetangan Youla di Kebon Bawang, Tanjung Priok‎. Ia berharap pemerintah dapat segera membebaskan Alvian. Menurutnya menjadi tugas pemerintah untuk menjaga warga negaranya.

"Saya berharap pemerintah dapat segera membebaskan para sandera karena mereka adalah warga negara indonesia yang butuh perlindungan," katanya.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved