Festival Naga Musim Semi

Festival Imlek telah berakhir dengan ditutup dengan perayaan malam cap go meh. Setelah ini, ada satu festival yang mungkin

Penulis: Henky Honggo |

TRIBUNSUMSEL.COM - Festival Imlek telah berakhir dengan ditutup dengan perayaan malam cap go meh. Setelah ini, ada satu festival yang mungkin di Nusantara kurang begitu dikenal, namanya festival naga musim semi. Pada hari ini ada perayaan festival naga musim semi atau dalam bahasa Tionghoa disebut 春龍節 (chūn lóng jié). Dahulu kala ada kepercayaan bahwa naga pada musim dingin berada di dalam bumi  dan tertidur serta tidak berbuat  apa-apa. 

Pada musim semi sampai musim gugur, naga berada di atas langit untuk membuat hujan. Setiap sampai penanggalan lunar bulan kedua hari kedua, semua hewan pada musim dingin yang tertidur, satu persatu mulai bangun. Maka dari itu rakyat selalu berdoa untuk mendapatkan hujan demi keberlangsungan hidup bercocok tanam pada saat itu.

Legenda Naga Putih Kecil

Kisah seorang selir Wu Ze Tian merebut paksa tahta kaisar dinasti Tang dan mengganti menjadi dinasti Zhou. Kaisar langit mendengar berita ini menjadi murka, dan memerintahkan dewa untuk mengumumkan kepada seluruh naga penjaga laut bahwa dalam tiga tahun tidak diizinkan untuk turun hujan.

Pada tahun pertama, selama musim panas sampai musim gugur tidak turun hujan, tumbuhan mengalami kekeringan, sungai menjadi kering tidak ada air, suhu panas yang begitu tinggi. Rakyat tidak bisa berbuat apa-apa karena kekeringan melanda, hanya bisa berdoa meminta hujan.

Di atas langit ada naga putih kecil melihat kondisi di bumi sedang dilanda kekeringan. Tanpa mengindahkan titah dari kaisar langit, naga putih kecil mengumpulkan awan dan menurunkan hujan.

Naga putih kecil ini sudah menurunkan hujan untuk membantu rakyat di bumi, tetapi melawan titah kaisar langit. Kaisar langit kembali murka dan memerintahkan naga putih kecil turun ke bumi dan dikurung di gunung tempat dewa bertapa. Di bawah gunung dibuat prasasti yang berisi tulisan naga langit sudah melawan titah kaisar langit, merupakan akibat dari dosa manusia, jika ingin kembali ke asal, maka harus menunggu kacang emas bermekaran.

Setelah rakyat membaca tulisan di prasasti ini, baru mengerti jika naga putih kecil menurunkan hujan untuk membantu rakyat di bumi yang sedang tertimpa bencana kekeringan. Rakyat merasa sangat terharu mengetahui hal ini dan bersatu padu untuk membantu naga putih kecil supaya bisa bebas dari hukuman kaisar langit, dan dapat kembali ke langit.

Untuk membantu naga putih kecil bisa kembali bebas dari hukuman, maka harus menunggu kacang emas mekar. Pada tahun kedua bulan dua hari pertama, tepatnya adalah hari besar di tempat tersebut, ada seorang nenek yang membawa jagung kuning untuk dijual di pasar. Secara tidak sengaja, beberapa butir biji jagung jatuh dari karung ke tanah. Orang di sekelilingnya melihat biji jagung yang berwarna kuning emas tersebut dikira adalah kacang emas yang dimaksud tersebut. Orang-orang pun bertanya, bagaimana membuat kacang emas ini berbunga ? Ada seorang anak kecil tiba-tiba berteriak, “digoreng menggunakan kuali saja, maka jagung akan mekar, karena ibu saya pernah membuatnya.”

Berita ini pun akhirnya tersebar ke seluruh penjuru tempat, dan pada keesokan harinya adalah hari kedua seluruh rakyat menggoreng jagung hingga mekar. Jagung yang mekar tersebut kemudian dibawa ke gunung tempat naga putih kecil dikurung. Naga putih kecil terharu melihat rakyat membawa jagung mekar ini, dan berteriak, “dewa, kacang emas sudah mekar, sesuai dengan janji kaisar langit, lepaskan saya untuk kembali ke langit.” Dewa pun mendengar teriakan dari naga putih kecil, dan langsung melihat ke bumi begitu banyak kacang yang berwarna kuning emas bermekaran. Dewa sudah tua sehingga matanya pun sudah rabun, sehingga mengira bahwa jagung yang bermekaran adalah kacang emas yang mekar.  Dewa lalu membuka kurungan naga putih kecil ini. Setelah kurungan dibuka, naga putih kecil bebas dan terbang kembali ke langit.

Rakyat yang melihat kejadian ini langsung berlutut berterima kasih kepada langit dan bertepuk tangan. Berita tentang naga putih kecil bebas dari kurungan dan kembali ke langit sampai ke telinga kaisar langit. Hal ini membuat kaisar langit menjadi terharu dan mengizinkan naga putih kecil kembali ke tempat asalnya. Maka sejak saat itu, setiap bulan kedua hari kedua penanggalan lunar, diperingati sebagai hari naga musim semi. Setiap keluarga merayakannya dengan membuat jagung mekar atau lebih dikenal dengan sebutan popcorn untuk mengenang jasa dari naga putih kecil dan doa yang berisi cuaca yang baik sepanjang tahun, hasil panen yang berlimpah. (henky honggo)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

Sejarah Pakaian Han Fu

 

Mengenang Teresa Teng

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved