SARAPAN PAGI

Mereka Ada di Sekitar Kita

Razia preman ini berdasarkan laporan dari masyarakat yang resah terhadap ulah para preman yang kerap meminta uang pada masyarakat dan pengendara.

TRIBUNSUMSEL.COM/M ARDIANSYAH
Sejumlah preman yang di data anggota Subdit III Ditreskrimum Polda Sumsel, Sabtu (27/6/2015). 

SUB Direktorat III Direskrimum Polda Sumsel, Sabtu (27/6) merazia sejumlah tempat yang kerap dijadikan para preman untuk mangkal dan menjalankan aksi. Dari razia preman yang dilakukan di kawasan Simpang Bandara, Pasar Kuto dan Jalan Jenderal Sudirman diamankan 11 preman yang tertangkap tangan tengah melakukan pemerasan terhadap masyarakat.

Para preman kaget dan sempat berusaha kabur ketika melihat petugas datang. Tetapi langkah para preman ini kurang cepat dibandingkan petugas yang sigap dan cekatan.

Razia preman ini berdasarkan laporan dari masyarakat yang resah terhadap ulah para preman yang kerap meminta uang pada masyarakat dan pengendara. Jika tidak diberi mereka mengancam.

Kasubdit II Direskrimum Polda Sumsel, AKBP Irsan mengatakan razia preman dilakukan berdasarkan banyaknya laporan masyarakat. Selain itu terkait juga program kerja 100 hari Kapolri yakni pembasmian aksi premanisme. Mereka preman yang tertangkap didata di Polda Sumsel, dari 11 orang tiga di antaranya diproses hukum karena melakukan tindak pidana.

Di dalam wikipedia disebutkan premanisme berasal dari bahasa Belanda vrijman artinya orang bebas, merdeka dan isme yang berarti aliran adalah sebutan pejoratif yang sering digunakan merujuk kepada kegiatan sekelompok orang yang mendapatkan penghasilannya terutama dari pemerasan kelompok masyarakat lain.

Adalah suatu fakta sosial bahwa premanisme menyebabkan hukum menjadi sulit ditegakkan jika mereka dibiarkan berkembang. Namun, masalah sosial ini pasti memiliki akar.

Langkah pendataan yang dilakukan pihak kepolisian bisa jadi sudah tepat. Tetapi tak kalah penting adalah langkah kongkrit lanjutan dari pendataan tersebut. Adalah suatu fakta bahwa mereka para preman ada di sekitar kita.

Adalah suatu fakta sosial juga premanisme ini lebih banyak terjadi pada kalangan masyarakat kecil. Preman yang tertangkap adalah pengamen, tukang parkir dan backing wilayah. Ini dikarenakan tekanan hidup dan kebutuhan memenuhi kebutuhan hidup memaksa mereka mencari pekerjaan yang tidak halal.

Jika saja pemerintah bisa menurunkan beban masyarakat dan memberikan kesempatan kerja bagi rakyatnya maka premanisme dapat ditekan walaupun tidak 100 persen. Peningkatan taraf hidup masyarakat Indonesia akan membuka kesempatan bagi generasi muda untuk mendapat pendidikan yang lebih baik.

Berbekal pendidikan yang cukup ini maka mereka akan mendapat pemahaman yang baik tentang kehidupan, secara perlahan aksi premanisme ini diharapkan hilang dengan sendirinya atau minimal tidak leluasa lagi ruang geraknya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved