SARAPAN PAGI

Menangkal Gelombang Panas

Di bidang pangan, dinas pertanian dari sekarang harus bergerak untuk melakukan pemetaan daerah pangan mana saja yang harus menjadi perhatian.

Penulis: Lisma Noviani |

BADAN Meteorologi, Klimatologi dan Giofisika (BMKG) jauh-jauh hari telah memperingatkan pemerintah Indonesia akan kemungkinan adanya fenomena el nino yang melanda sebagian besar wilayah Indonesia.

18 provinsi yang diwaspadai akan terkena El Nino seperti Sumatera, Jawa dan Sulawesi.

El nino adalah gelombang panas yang merupakan fenomena alam atau anomali cuaca yang menyerang saat terjadi musim kemarau. BMKG memprediksi el nino ini akan mulai terjadi di awal Juni sampai November 2015.

BMKG mencatat, beberapa daerah yang diprediksi akan terkena dampak El Nino adalah Sumatera Selatan, Lampung, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi Selatan hingga Sulawesi Tenggara.

Secara kasat mata, el nino berdampak langsung terhadap warga yang wilayahnya mengalami fenomena ini. Udara terasa lebih panas karena matahari begitu terik. Suhu udara juga relatif ekstrim. Biasanya bila stamina seseorang labil akan mudah terserang penyakit.

Selain dampak langsung dalam kehidupan manusia, el nino juga berdampak pada ketahanan pangan serta lingkungan. Ketahanan pangan terkait dengan pengaruh daerah lumbung nasional dalam menghasilkan beras dan bahan pangan lainnya karena el nino akan berdampak pada mundurnya masa panen serta kebutuhan air yang berkurang.

Ada lagi yang perlu diwaspadai yakni dampak terhadap lingkungan. Bukan hal yang baru setiap musim kemarau, tingkat kebakaran hutan selalu tinggi. Bencana asap setiap tahun harus dialami masyarakat, termasuk di Sumsel, pada tahun lalu.
Bila kita ingat lebih dari dua bulan pada 2014 lalu, warga Sumsel harus menggunakan masker akibat asap pekat akibat kebakaran hutan. Diperkirakan bila el nino ini melanda Sumsel, dampak kebakaran hutan akan semakin tinggi.

Karenanya peringatan BMKG akan adanya el nino jangan dianggap remeh. Pemerintah daerah harus melakukan antisipasi dan persiapan-persiapan untuk menangkal gelombang panas ini sehingga dampaknya tidak meluas di berbagai bidang.
Di bidang pangan, dinas pertanian dari sekarang harus bergerak untuk melakukan pemetaan daerah pangan mana saja yang harus menjadi perhatian.

Sedangkan untuk mengatasa kebakaran hutan dan dampak bencana asap, dari sekarang harus dilakukan peringatan baik kepada perusahaan maupun warga yang biasa membuka lahan untuk berladang, agar tidak membakar lahan.

Kita teringat perkataan Gubernur Sumsel H Alex Noerdin saat mengatasi bencana asap tahun 2014 lalu. Katanya "Malu kita, kalau sampai tahun depan bencana asap ini terjadi lagi". Karenanya perkataan "Malu kita" ini harus benar-benar direspon dengan mengantisipasi segala sesuatu dari sekarang, demi kepentingan masyarakat.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved