SARAPAN PAGI

Puasa Bukan Cuma Sekedar Rutinitas

Inti dari shaum adalah pengendalian diri, bukan hanya sekedar menahan lapar dan dahaga.

KEMENTERIAN Agama menetapkan awal puasa atau 1 Ramadhan 1436 H dimulai pada Kamis (18/6/2015). Penetapan awal puasa itu diambil dalam sidang isbat yang digelar di Gedung Kementerian Agama, Jakarta Pusat, Selasa (16/6) petang.

Ramadhan selalu dinanti hamba-hamba Allah yang beriman. Selama sebulan penuh, insan-insan beriman dan bertakwa diwajibkan untuk menunaikan ibadah shaum. Shaum Ramadhan bertujuan untuk mencetak hamba-hamba Allah SWT yang beriman dan bertakwa. Secara bahasa shaum berarti menahan (imsak). Sedangkan secara istilah shaum berarti menahan makan, minum, menggauli istri dan segala yang membatalkan puasa, dari terbit fajar hingga terbenam matahari, dengan niat ibadah.

Inti dari shaum adalah pengendalian diri, bukan hanya sekedar menahan lapar dan dahaga. Praktik-praktik yang dijalankan dalam ibadah shaum menggambarkan sesuatu yang sangat luar biasa. Shaum, mengajarkan prinsip hidup jujur. Seorang yang berpuasa tidak mau makan, minum, di tengah hari, walaupun itu makanan dan minuman halal, serta tidak ada orang yang tahu. Semua itu dilakukan karena sadah bawah Allah Maha Tahu. Hal seperti itu sudah seharusnya diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kita jadi tidak mau berbuat curang, korupsi, walapun tidak ada yang tahu, pengawas tidak tahu, aparat hukum tidak tahu. Kita menyadari Allah Maha Tahu.

Kesadaran semacam itu harus dibangun seluruh umat Muslim. Selain itu, ibadah puasa juga membangun empati kepada sesama, terutama kepada orang-orang fuqara. Empati bermakna, seorang Muslim tak akan mengkonsumsi sesuatu secara berlebih-lebihan, sementara orang lain banyak yang membutuhkan.

Ibadah shaum, juga bertujuan membangun ukhuwwah. Satu perasaan yang dibangun oleh ajaran Islam, sehingga, antara sesama Muslim tumbuh kasih sayangnya, saling mencintai, menghormati, menghargai seperti satu tubuh yang tak dapat dipisahkan

Seringkali ada banyak kebiasaan dalam komunitas kita ketika Ramadhan begitu banyak orang yang begitu memformalitaskan puasa sebagai aturan yang berlaku dalam tempo waktu singkat saja. Seringkali terdengar perkataan, ”baru puasa, jangan mabuk-mabukan. Ntar aja kalau udah selesai, kita mabuk lagi.” Seakan-akan aturan larangan berbuat tidak terpuji hanya ada di bulan Ramadhan.

Atau, jangan heran jika banyak orang yang tidak berpuasa pun pada malam harinya ikut shalat Tarawih di masjid. Atau orang yang di bulan-bulan lain tidak shalat mereka ikut shalat Tarawih di masjid. Dan yang paling banyak terjadi lagi adalah orang yang tidak shalat, tidak berpuasa, namun ikut shalat Iedul Fithri di lapangan ketika Hari Raya.

Tentu tidak bermaksud menyalahkan orang yang melakukan hal itu, melainkan hanya sebuah refleksi tentang apa yang terjadi untuk selanjutnya diambil pelajaran. Hal-hal tersebut adalah merupakan tanda ketika ritual bulan Ramadhan hanya menjadi sebatas formalitas dan belum membawa roh puasa untuk memperbaiki diri dan memperoleh ketakwaan kepada Allah SWT.

Kita semua menginginkan bahwa setelah keluar dari bulan Ramadhan muncul jiwa-jiwa baru yang selalu dapat meningkatkan kebaikan hidup, menjadi orang yang lebih bertakwa. Meskipun memang tidak dapat dipungkiri bahwa amalan di bulan Ramadhan kuantitasnya selalu lebih besar dibanding bulan lainnya, namun grafik amalan harus naik setiap tahunnya. Karena semua itu butuh proses yang tidak semerta-merta didapat dalam waktu yang singkat.

Semoga kita mendapatkan tujuan dan esensi dari bulan Ramadhan, dengan meluruskan niat dan mempelajari segala hal yang berkaitan dengan bulan Ramadhan, yang telah disampaikan Allah SWT dan Rasul-NYA. Semoga kita tidak hanya mendapatkan lapar dan haus, tanpa mendapat buah dari puasa itu sendiri.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved