SARAPAN PAGI

Unsri Perlu Rektor Muda

Universitas harus menjadi garda terdepan kesadaran akan perlunya bangsa ini mulai mempercayakan kaum mudanya untuk memimpin.

SRIPOKU.COM/BERI SUPRIYADI
Sejumlah Mahasiswa Unsri yang Tergabung Kedalam Gerakan Diskusi dan Aksi Sriwijaya (Garda Sriwijaya) Menggelar Aksi Seruan Peduli Pilrek Unsri di Depan Gedung Rektorat 

TIDAK terasa dua periode sudah Profesor Dr Hj Badia Perizade memimpin Universitas Sriwijaya. Banyak kemajuan yang dicatat sejak Unsri dipegang oleh Badia. Unsri kini menjadi salah satu perguruan tinggi negeri favorit di luar Pulau Jawa.

Sebelum memimpin Universitas Sriwijaya (Unsri), Badia merupakan perempuan pertama yang menduduki jabatan Dekan Fakultas Ekonomi di Unsri. Selama masa kepemimpinannya, Badia berhasil membawa Unsri masuk dalam jajaran 50 universitas terbaik nasional versi Ditjen Dikti Kemendikbud serta pemeringkatan webometrics 2009 dan 2010.

Unsri juga berhasil meraih peringkat tiga nasional paten Hak atas Kekayaan Intelektual (HKI) antarperguruan tinggi, juara regional OSN 2010, serta peringkat kedua Indonesia Student Mining Competition (ISMC) 2009 dan 2010. Selain itu, Unsri juga menjadi Koordinator Riset Energi Nasional - Rusnas PEBT.

Kini suasana kampus Unsri mulai panas dengan proses pemilihan bakal calon rektor periode 2015-2019. Sejumlah bakal calon bermunculan. Bahkan perang urat syaraf mulai terjadi.

Berita eksklusif Tribun Sumsel terbitan, Senin (8/6) mengambil sudut pandang pemberitaan tentang perang urat syaraf itu. Ada seorang bakal calon rektor yang mengaku diteror oleh bakal calon rektor lainnya. Ia diminta untuk tidak mencalonkan diri. Ia diminta mendukung bakal calon lawan yang menelepon tersebut. Dalam sebuah kompetisi hal itu tentu sah-sah saja. Apalagi kompetisi itu berlangsung untuk memerebutkan jabatan bergengsi di sebuah perguruan tinggi cukup ternama di Indonesia.

Banyak isu bermunculan dari penjaringan bakal calon rektor itu. Isu terkuat adalah yang bakal menang adalah yang memiliki lobi terkuat ke kementrian pendidikan. Apakah benar seperti itu? Kita tidak tahu. Yang kita harapkan proses pemilihan akan berjalan setransparan dan seakuntabilitas mungkin. Perguruan tinggi pada abad 21 saat ini dituntut mampu menciptakan lulusan perguruan tinggi untuk berkinerja. Dengan demikian dapat bertahan dan berkembang mencapai aktualisasi keunggulan.

Mencermati situasinya yang demikian maka Universitas Sriwijaya pada abad 21 ini dituntut memiliki rektor yang berkualitas. Yang mampu membawa gerbong besar Unsri bersaing dengan universitas di Indonesia. Bahkan juga pada level dunia. Kita berharap muncul bakal calon rektor berusia muda. Mengapa harus orang muda? Karena abad 21 adalah abad kaum muda. Dari sekian nama yang masuk ke panitia seleksi tampaknya belum terlihat nama bakal calon yang berusia muda. Rata-rata berumur 40 tahun ke atas.

Saat Leon Botstein terpilih menjadi Rektor New Hampshire’s Franconia College di tahun 1970 umurnya masih 23 tahun. Penunjukkannya tercatat sebagai salah satu rektor termuda sepanjang sejarah di Amerika Serikat. Dia mengemban tanggung jawab melakukan turn around terhadap kondisi yang centang perenang di kampus tersebut. Kebijakan pembaharuan yang dilakukannya ternyata dimulai dari langkah pertama yang tidak lazim, “bebaskan kampus dari keliaran anjing!”.

Hampir pasti kita tidak akan berada pada kondisi seekstrim itu. Namun sudah saatnya kaum muda diberikan kesempatan untuk beraktualisasi dan membuktikan diri. Mereka tidak saja “mendobrak pintu” tetapi menjaga dan memimpin manajemen rumah.

Universitas harus menjadi garda terdepan kesadaran akan perlunya bangsa ini mulai mempercayakan kaum mudanya untuk memimpin. Mereka adalah pihak yang paling siap untuk menjawab diskursus pemimpin muda di pucuk pimpinan, bukan sekedar wacana yang dikembangkan banyak pihak tetapi langsung diimplementasikan di lapangan.

Alasannya sederhana, perubahan mendasar di negara ini selalu dimulai dengan reaksi kaum muda idealis ini terhadap permasalahan besar bangsa, mengorbankan waktu, tenaga maupun nyawa. Selain itu, kompetisi global memerlukan energi, kesegaran pemikiran dan kreatifitas yang tinggi.

Sheila Kinkade dan Christina Macy dalam buku “Our time is now : young people changing the world ” menekankan kembali bahwa abad 21 adalah abad kaum muda, hal ini ditandai dengan semakin berperannya pemuda dalam perubahan dunia.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved