SARAPAN PAGI
Jangan Sampai "Kartini" Menangis
Kehadiran perempuan bukan untuk mengalahkan lelaki, tapi saling mengerti, bahu membahu dan harmonis agar bahagia dunia akhirat.
Penulis: Lisma Noviani |
LUAR biasa peringatan hari Kartini 21 April 2015 kemarin. Hampir semua instansi di kota Palembang memperingatinya dengan melakukan berbagai kegiatan. Sejumlah bank-bank baik bank pemerintah maupun bank swasta mewajibkan karyawannya mengenakan kebaya saat memberikan pelayanan kepada nasabah. Demikian juga dengan para perawat dan pegawai di RSMH Palembang. Tampil unik dengan melepas seragam putih-putih yang biasa dikenakan, diganti dengan pakaian kebaya lengkap dengan aksesorinya. Semua itu demi mengenang sosok perempuan pendobrak emansipasi wanita di masa penjajahan, Raden Ajeng Kartini.
RA Kartini merupakan seorang pahlawan nasional yang dikenal karena jasa – jasanya dalam memperjuangkan hak – hak kaum wanita. Dilahirkan di Jepara, Jawa tengah pada tanggal 21 April 1879, Kartini tumbuh dan peduli dengan nasib miris kaumnya di masa itu. Inilah potret zamannya, buta huruf, terbelakang, terhimpit, dan terpenjara oleh feodalisme, oleh sebuah kultur yang tidak berpihak kepada perempuan.
Buah pikirannya tertuang di surat-surat dan catatannya karena Kartini hobi menulis. Tahun 1922, terbit terjemahan dalam Bahasa Indonesia dengan judul ”Habis Gelap Terbitlah Terang“: Boeah Pikiran. Buku ini diterbitkan oleh Balai Pustaka oleh sastrawan Pujangga Baru Armijn Pane. Dalam buku-buku itu, terungkap betapa di masa dulu, Kartini sudah berpikir jauh ke depan seperti yang dicita-citakan perempuan sekarang.
Berpuluh-puluh tahun setelah zaman Kartini, apakah nasib perempuan sudah berbeda? Jawabannya iya dan tidak. Iya, karena banyak perempuan Indonesia yang sukses, termasuk ibu kandung kita yang telah berhasil mendidik kita semua hingga dewasa. Banyak perempuan berpendidikan tinggi, berkedudukan sebagai pemimpin perusahaan, menteri, penerbang, profesor dll. Banyak sekali contoh yang bisa menjadi panutan selain sosok Kartini.
Tapi di sisi lain, apakah nasib miris yang diderita perempuan di masa Kartini, berakhir? Ternyataa...Belum! Sebagian perempuan Indonesia masih belum bernasib baik seperti kita. Masih banyak perempuan yang hanya mengecap pendidikan tidak tamat SD. Masih banyak perempuan yang hidup sengsara akibat korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) misalnya.
Kartini pasti akan menangis sedih bila melihat nasib Siti Zaenab maupun Karni yang meninggal dieksekusi mati oleh pemerintah Arab Saudi.
Kartini juga mungkin tersedu-sedu makin marak praktik prostitusi yang merendahkan martabat perempuan. Kartini juga mungkin terpukul begitu banyak remaja yang terjebak pergaulan bebas. Dan berbagai persoalan perempuan lain yang butuh perhatian kita semua.
Kita berharap peringatan hari Kartini tidak sekadar euforia senang mengenakan kebaya. Mengutip sindiran seorang teman, "Indonesia ini luas, tidak cukup disimbolkan dengan kebaya. Bagaimana dengan perempuan Papua?"
Yang paling penting adalah, bagaimana perempuan itu menjaga harkat dan martabatnya sendiri untuk tetap menjadi manusia yang baik dan bermanfaat. Dan itu butuh pemikiran seorang ibu untuk terus mendidik generasi. Eksistensi perempuan tidak terlepas dari para lelaki. Maka support dari kaum "Kartono" juga harus maksimal.
Kehadiran perempuan bukan untuk mengalahkan lelaki, tapi saling mengerti, bahu membahu dan harmonis agar bahagia dunia akhirat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/kartini-wallpaper_20150422_090257.jpg)