Pro Kontra Computer Base Test

Pemerintah terlihat begitu memaksakan ujian melalui sistem CBT. Padahal kesiapan infrakstruktur belum memadai di semua daerah.

Penulis: Ray Happyeni |
TRIBUNSUMSEL.COM/MOCHAMAD KRISNARIANSYAH
Suasana ujian nasional di sekolah sma xaverius 1 palembang , senin (13/04/2015). 

ADA yang berbeda dari pelaksanaan Ujian Nasional (UN) SMA/SMK dan MA tahun 2015 yang dilaksanakan Senin hingga Rabu (13-15/4) ini. Tujuh sekolah yakni enam SMK dan satu SMA di Palembang yang melaksanakan UN berbasis Computer Base Test (CBT). Sisanya tetap melaksanakan UN sistem Paper Base Test (PBT) seperti tahun-tahun sebelumnya.

Tak heran jika ada pro kontra menanggapi pelaksanaan UN dengan dua sistem ini. Antara lain karena baru sekolah yang ada di ibukota provinsi yang boleh melaksanakan UN sistem CBT. Di ibukota kabupaten dan di bawahnya masih belum diperkenankan alias masih melaksanakan UN sistem PBT.

Suara pro menilai adanya dua sistem yang dilaksanakan dalam pelaksanaan UN SMA yakni sistem CBT dan PBT, memperkaya pola pelaksanaan UN.

Memang baru sebagian kecil sekolah yang melaksanakan UN CBT. Namun pengalaman sedikit sekolah yang melaksanakan UN sistem CBT bisa menjadi barometer lebih meningkatkan lagi kelancaran UN di tanah air ini.

Menengok pelaksanaan UN CBT, banyak sisi positif yang diharapkan pemerintah. Terutama dari sisi penghematan ekonomis. Setidaknya itu dikatakan Walikota Palembang Harnojoyo baru-baru ini.

“Tahun depan kita targetkan seluruh sekolah yang ada di Kota Palembang khususnya tingkat SMA bisa melaksanakan UN sistem CBT. Sebab UN CBT ini memiliki banyak kelebihan terutama bisa lebih berhemat dari segi ekonomi (tidak memakai kertas lagi) dan untuk ujiannya pun lebih aman dan kerahasian soal sangat terjaga,” kata Harnojoyo.

Ada benarnya Harnojoyo, UN CBT tak butuh kertas lagi --seperti UN sistem PBT yang perlu tempat penyimpanan soal-soal yang memadai dan dana yang tak sedikit. Belum lagi resiko kebocoran soal-soal yang sering terjadi pada soal-soal PBT. Sementara UN dengan sistem CBT cukup dengan menyediakan komputer dan sistem token dan pasword yang menjamin kerahasiaan soal-soal. Fasilitas komputer bisa digunakan berkesinambungan juga alias bisa digunakan lagi untuk UN di tahun tahun berikutnya.

Pengalaman UN CBT tahun ini menjadi input untuk pelaksanaan UN tahun mendatang yang diharapkan diterapkan di semua sekolah. Sehingga lebih besar lagi penghematan yang dilakukan pemerintah.

Namun ada juga suara kontra menilai dua sistem yang diterapkan dalam UN tahun ini tidaklah tepat. Wakil Rektor I Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang, Prof Muhammad Sirozi MA PhD yang juga Ketua Dewan Pendidikan Sumsel menilai pelaksanaan UN yang dilakukan melalui dua sistem sangat kurang ideal. Pelaksanaan UN haruslah sama di setiap sekolah. UN ideal harus serentak. semuanya sama cara ujiannya. Sebab kita berada pada dasar sistem pendidikan nasional yang sama sehingga para proses ujian harus disamakan.

Sistem ujian CBT pada pelaksanaannya cenderung belum siap. Pemerintah terlihat begitu memaksakan ujian melalui sistem CBT. Padahal kesiapan infrakstruktur belum memadai di semua daerah.

Dengan pro kontra yang ada, bagaimana hasil UN SMA tahun ini? Kita memang selalu berharap hasil positiflah yang didapatkan. Jika ada kekurangan di sana-sini dalam pelaksanaannya, masih bisa diambil sisi positifnya sebagai pengalaman untuk bertindak lebih baik di waktu mendatang. Terkadang kita memang perlu mencoba untuk mendapatkan hasil yang lebih baik lagi dibanding apa yang sudah kita dapatkan saat ini.

Setidaknya ada hal lain lagi yang berbeda dari pelaksanaan UN tahun ini terkait penentuan kelulusan siswa yang tak semata-mata ditentukan UN. Sekolah lah yang memutuskan dengan melihat potensi siswa secara menyeluruh. Karena siswa memang tanggungjawab sekolah bersangkutan.

Nah untuk kebijakan terakhir ini pemerintah dinilai sudah membuat aturan tepat. Karena berhasil tidaknya proses pendidikan di sekolah sejatinya tak ditentukan dari hasil UN yang dilaksanakan kurang dari sepekan.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved