SARAPAN PAGI

SFC Main Imbang

Raphael Maitimo bersiap mengeksekusi. Dia berdiri lurus satu garis dengan kiper, tetapi kemudian bergeser sedikit ke sisi kiri, lalu berlari dan.

TRIBUNSUMSEL.COM/M A FAJRI
Pemain Sriwijaya FC Raphael Maitimo saat berusaha mencetak gol ke gawang Semen Padang pada laga lanjutan QNB League 2015 di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring Palembang, Selasa (7/4/2015). Pertandingan ini berakhir imbang dengan skor 2-2 

MENIT ke-60 babak kedua di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring. Wasit menunjuk titik putih karena Hengky Ardiles handball di kotak penalti. Pemain Semen Padang protes keras, sehingga pertandingan terhenti 5 menit. Ketika itu SFC tertinggal 1-2.

Raphael Maitimo bersiap mengeksekusi. Dia berdiri lurus satu garis dengan kiper, tetapi kemudian bergeser sedikit ke sisi kiri, lalu berlari dan menendang. Kiper membaca arah bola. Tidak gol.

Suporter dan penonton, yang jumlahnya tidak lebih dari 10 ribu orang, merasa kecewa. Ada yang berteriak, menggerutu, atau menutup muka. Padahal mereka terlihat sudah berdiri, bersiap ikut merayakan gol.

Kegagalan penalti pada saat krusial seperti itu tentu sangat disayangkan, meski kondisi itu bisa dialami pesepakbola top Eropa sekali pun. Roberto Baggio, Beckham, Cristiano Ronaldo, Messi, Balotelli juga pernah gagal seperti Maitimo. Itu bukan masalah besar.

Justru yang jadi masalah adalah pola permainan Sriwija FC. Bisa dibilang tanpa strategi. Padahal tim ini dihuni pemain berlabel bintang seperti Ferdinand Sinaga, Titus Bonai, Goran Ljubojeviv, Asri Akbar, dan Maitimo.

Laskar Sriwijaya tidak menunjukkan organisir permainan. Cenderung bermain sendiri-sendiri. Setelah kepepet barulah memberikan bola kepada kawan.
Semisal, pada satu kesempatan Ferdinand Sinaga mendapat umpan daerah di sisi kanan pertahanan lawan. Dia menggiring bola sampai kotak penalti, berhenti berlari ketika berada di dekat garis pingir lapangan sejajar gawang.

Dua orang bek mengawal ketat. Seorang di sisi kanan mencegah Ferdinand mengumpan silang, dan seorang lagi marking di belakang. Ferdinand terjepit. Satu-satunya ruang kosong adalah sisi luar kotak penalti arah ke pojok, tetapi tak ada kawan di sana. Di mana pemain SFC? Tiga orang berdiri di kotak penalti bersiap menyambut umpan silang yang tak kunjung datang.

Tak harus bisa main bola untuk membaca situasi seperti itu. Kita hampir setiap hari disuguhi pertandingan sepakbola Eropa. Dalam kondisi Ferdinand terjepit seperti itu, idealnya bek sayap overlap meminta bola untuk kemudian memberi umpan silang ke kotak penalti, atau merancang strategi lain. Bisa juga Asri Akbar atau Maitimo yang meminta bola dari Ferdinand.

Dalam pertandingan lawan Semen Padang itu, para pemain lebih banyak menunggu bola, bukan berupaya meminta bola. Tidak seperti biasanya, Asri terlihat lebih banyak berjalan ketimbang berlari.

Koordinasi permainan tidak berjalan dengan baik. Malah terlihat kebingungan dikawal ketat pemain Semen Padang. Ketika dapat bola, terkesan tidak tahu hendak dibagi kepada siapa lagi. Minim kreatifitas. Umpan-umpan dari lini tengah juga mudah dibaca bek lawan. Tibo bahkan harus turun ke dekat kotak penalti untuk menjemput bola.

Sementara barisan pertahanan setali tiga uang. Begitu mudah ditembus serangan balik cepat lawan. Maiga dan Fachruddin terlalu pendiam. Begitu juga Dian Agus, jarang berteriak. Rasanya agak aneh dalam permainan sepakbola tidak terdengar teriakan pemain mengingatkan kawan agar tetap konsentrasi.

“Semua sudah dilakukan oleh tim pelatih. Saat latihan semuanya seperti berjalan normal. Di babak pertama kita bermain seperti apa adanya, setelah ini akan kami cari tahu apa yang menjadi penyebabnya,” kata Asisten Pelatih SFC Hendri Susilo dalam jumpa pers usai pertandingan. Dia menyampaikan permintaan maaf kepada publik Sumsel dan pecinta SFC terkait hasil imbang itu.

Apa penyebabnya? Hendri masih hendak mencari tahu. Apakah ada permasalahan internal? Suasana di kamar ganti tidak kondusif? Gaji mandek? Tidak ada bonus? Ini juga menjadi tugas manajemen untuk menyelesaikannya. Toh sejauh ini di permukaan tampak 'asyik-asyik' saja, meski seorang pemain terlibat pemukulan dalam pertandingan ujicoba lawan tim lokal.

Dua kali imbang di kandang tentu bukan hasil memuaskan untuk tim yang memiliki target juara. Ini masalah buat pelatih Benny Dollo. Maaf saja, SFC ini tim juara. Sudah dua kali merengkuh piala Liga dan tiga kali juara Copa. Jadi sangat mudah buat publik untuk membandingan Bendol dengan Rahmad Darmawan, atau dengan Kas Hartadi. Begitu juga membandingan pola permainan SFC saat ini dengan tim sebelumnya. Jadi, tolong, bertandinglah dengan lebih bergairah

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved