SARAPAN PAGI
Menakar Rasa Kebanggaan
Mal ini akan memiliki fasilitas sangat memadai. Selain pertokoan untuk berbelanja, di kawasan tersebut akan ada hotel berbintang serta bioskop.
MAL atau pusat perbelanjaan sudah menjadi sarana pemenuhan kebutuhan manusia di era modern. Jika dahulu hanya ada pasar tradisional, pasar swalayan dan supermarket sebagai tempat belanja maka seiring perkembangan zaman maka fungsi tempat belanja pun berkembang.
Tidak hanya sebagai tempat berbelanja tetapi sekaligus sebagai sarana rekreasi dan hiburan. Hampir seluruh kebutuhan yang diinginkan manusia modern bisa didapati di mal.
Atas dasar pemenuhan kebutuhan seluruh kebutuhan manusia modern inilah yang melatarbelakangi Pemprov Sumsel berencana membangun mal baru di lahan eks RS Ernaldi Bahar (Erba) di Jalan Kolonel H Barlian, Km 5,5 Palembang.
Direncanakan pembangunan mal akan selesai 2017 atau sebelum Asian Games 2018 mendatang. Proyek pembangunan mal ini direncanakan akan didanai pihak ketiga yakni Grup Lippo dengan total investasi mencapai Rp 800 miliar.
Mal ini akan memiliki fasilitas sangat memadai. Selain pertokoan untuk berbelanja, di kawasan tersebut akan ada hotel berbintang serta bioskop.
"Eks Ernaldi Bahar ini akan kita bangun mal yang akan menjadi mal kebanggaan masyarakat," kata Kepala Dinas PU Cipta Karya, Eddy Hermanto.
Bicara tentang kebanggaan, tentunya seperti itu yang diharapkan Pemprov Sumsel dengan dibangunnya mal tersebut. Namun, kebanggaan itu sendiri adalah hal yang abstrak tidak berbentuk. Lantas, darimanakah kita bisa menakar rasa kebanggaan tersebut.
Akankah nantinya masyarakat bangga memiliki mal super megah. Akankah ada banyak orang yang akan membelanjakan uangnya ke mal tersebut. Apakah masyarakat memiliki uang lebih untuk menikmati keglamoran mal .
Apakah rasa bangga itu nyata atau hanya sesuatu yang absurd memang sulit untuk dibuktikan, karena memang kebanggaan itu sendiri memang benda tak berwujud.
Tetapi, realitas di depan mata adalah masih banyak fasilitas infrastruktur yang belum memuaskan masyarakat. Betapa banyak jalan berlubang, betapa banyak sungai-sungai tanpa jembatan penghubung sehingga akses transportasi terhambat, betapa banyak gedung sekolah belum layak, aman dan nyaman sebagai tempat belajar. Lantas, akankah kita lebih bangga punya mal glamor tetapi sulit untuk dijangkau?