SARAPAN PAGI
Kisruh Yaman dan Nasib WNI
Tak hanya berhenti di sana, pada awal 2015 pemberontak menguasai kediaman Hadi dan berhasil memaksa sang presiden mundur.
Penulis: Lisma Noviani |
MATA dunia kini tertuju pada salah satu negara di Timur Tengah, Yaman. Negeri yang dulu aman sentosa, kini bergejolak tak aman. Serangan ke Yaman dipimpin negara terbesar di Timur Tengah, Arab Saudi semakin gencar.
Lebih dari 4.000 warga negara Indonesia (WNI) di Yaman terjebak dalam kisruh di negara tersebut. Termasuk di antaranya warga Sumsel yang berada di Yaman karena menempuh pendidikan di universitas terkemuka di Yaman.
Empat santri asal Pondok Pesantren Modern SMA Terpadu Ar Risalah Kota Lubuklinggau diketahu tengah menjalani pendidikan berbasis beasiswa. Mereka adalah Sutarni warga Trans Mandala Musirawas, Afiqoh Mustafiroh dan Bela (dari Palembang) dan Faizon Billah warga Lubuklinggau.
Hingga kini salah satu mahasiswa itu, Faizon, tak tahu kabar beritanya. Sempat bisa berkomunikasi, tapi sejak kemarin, keluarga dan pesantren kehilangan kontak.
Kondisi ini tentu membuat cemas keluarga. Mereka ingin ada kepastian bagaimana kondisi keempat mahasiswa ini yang notabene "berjihad" menuntut ilmu di sana.
Pengamat Politik Timur Tengah dari Universitas Indonesia, Abdul Muta'ali berpendapat, ada tiga faktor penyebab pemberontakan di Yaman. Faktor pertama masalah Alqaidah. Kedua masalah kemiskinan dan ketiga adalah masalah syiah.
Setelah mangkatnya Ali Abdullah Saleh, hingga kini Yaman terus bergejolak. Bukan hanya efek domino dari Arab Spring, tapi juga imbas dari debit masalah nasional yang tak terkelola dengan baik.
Kondisi Yaman tak kunjung stabil sejak rezim Ali Abdullah Saleh jatuh pada 2011 lalu. Hadi yang terpilih melalui pemilihan tunggal pada 2012 tak mampu membuat Yaman stabil.
Pada September 2014, pemberontak Houthi berhasil menguasai Ibu Kota Sanaa. Tak hanya berhenti di sana, pada awal 2015 pemberontak menguasai kediaman Hadi dan berhasil memaksa sang presiden mundur.
Wakil Presiden RI H Jusuf Kalla mengatakan pemerintah akan mengerahkan tambahan tenaga untuk memulangkan para WNI ke Tanah Air. Lebih lanjut, pemerintah saat ini tengah melakukan pembahasan dengan Kementerian Luar Negeri guna mengatur pemulangan para WNI. Kalla pun meminta agar sebisa mungkin para WNI tersebut segera keluar dari Yaman. Apakah ke Dubai, Oman atau Saudi Aribia. Nanti baru diatur untuk dipulangkan ke Indonesia.
Kita tentu sangat berharap, gejolak di Yaman akan segera berakhir. Sebagai negara yang mayoritas penduduknya Muslim, Indonesia wajib menyerukan perdamaian di Timur Tengah. Negara-negara Islam terutama di Timur Tengah harusnya bisa menjadi contoh sebagai negara yang mengedepankan perdamaian, sebagai ajaran utama nabi Muhammad SAW. Bukannya malah gontok-gontokan dan penuh kekisruhan.
Di lain pihak, Indonesia juga mestinya membatasi diri untuk tidak mengirimkan warganya baik dalam misi pendidikan maupun bekerja sebagai TKI, bila negara yang dituju dalam kondisi tidak aman. Walau bagaimanapun negeri kita tetaplah negeri yang paling aman untuk ditinggali dan mencari nafkah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/krisis-yaman-2015.jpg)