SARAPAN PAGI
Gerakan ISIS Incar Kalangan Kampus
Hal yang mengkhawatirkan, gerakan, gerakan radikal seperti ini selalu merekrut kalangan anak-anak muda terutama di kalangan kampus.
SETELAH lepas dari isu terorisme, beberapa kota di INdonesia mulai dikejutkan dengan munculnya gerakan Islamic State of Iraq and al-Sham (ISIS).
Kita tak dapat menampik, gerakan radikal yang mengatasnamakan Islam tumbuh subur di Indonesia dan mendapatkan dukungan karena sentimen pendirian negara Islam di kalangan muslim Indonesia masih sangat kuat.
Jargon Khilafah (Negara Islam), Amirul Mu’minin (Pemimpin Islam), Al Islam al Din wa Daulah (Islam itu agama dan negara) atau slogan yang berkonotasi kepada Islam politik akan selalu mendapatkan pasar di masyarakat dunia Islam, karena ada sebagian kalangan muslim merasa termajinalkan baik secara ideologi maupun secara ekonomi.
Kalangan yang merasa termarjinalkan tersebut merasa kembalinya sistem negara Islam seperti khilafah akan memberi harapan lebih baik.
Hal yang mengkhawatirkan, gerakan, gerakan radikal seperti ini selalu merekrut kalangan anak-anak muda terutama di kalangan kampus.
Ada kecenderungan gerakan Islam garis keras justru lebih mudah diterima oleh segmen masyarakat terdidik daripada tidak terdidik, karena faktor rasionalitas.
Mahasiswa khususnya di fakultas-fakultas eksakta akan lebih mudah menerima asumsi-asumsi sosial yang diajukan oleh sebuah gerakan Islam radikal.
Kebiasaan berpikir secara rasional dan berpikir secara dikotomis, hitam-putih atau benar-salah memudahkan gerakan-gerakan Islam konservatif dan radikal masuk.
Tidaklah mengherankan gerakan-gerakan seperti ini kemudian mudah diterima di kampus.
Hal di atas juga didukung oleh faktor ketidakadilan sosial yang banyak terjadi di Indonesia.
Di lain pihak, Islam juga diyakini memiliki konsep bahkan sistem sosial yang lebih bagus untuk menyelesaikan problem-problem sosial.
Iming-iming bahwa Islam akan menyelesaikan problem sosial yang sistemik tersebut memudahkan kalangan akademisi untuk bergabung dalam jaringan Islam radikal.
Apalagi jika tawaran itu dilandasi doktrin agama dibingkai dengan konsep Negara Islam atau Khilafah Islamiyah.
Pemegang kebijakan di kampus harus waspada terhadap fenomena ini.
Gerakan-gerakan Islam radikal cenderung menggunakan atau mendompleng pada kegiatan-kegiatan extra-kurikuler mahasiswa.
Dengan bekerjasama dengan organisasi mahasiswa Islam atau dosen-dosen universitas yang moderat diharapkan bisa mereduksi penyebaran ideologi gerakan Islam radikal seperti ISIS.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/isis-berbendera.jpg)