SARAPAN PAGI

Kehilangan Mereka Masih Menjadi Misteri

Mereka yang hilang dan sempat hilang hingga kini menjadi perbincangan. Banyak anggapan yang muncul terkait kehilangan orang-orang ini.

Penulis: Ray Happyeni |
ISTIMEWA
Empat orang mahasiswi Unsri yang menghilang, tiga orang sudah ditemukan dan satu orang masih hilang. 

LIMA wanita dan seorang anak laki-laki di Palembang hilang hanya dalam rentang dua bulan. Empat orang belum ditemukan yakni Siti Fatimah (27), Galuh Gayatri (24), Dewi (23) dan Muhammad Nopriansyah (11). Dua orang lagi sudah ditemukan yakni Rika Soraya (24) dan Susi Susanti (26), namun masih mengalami gangguan ingatan. Bahkan belum mengenali keluarga terdekatnya.

Mereka yang hilang dan sempat hilang hingga kini menjadi perbincangan. Banyak anggapan yang muncul terkait kehilangan orang-orang ini. Empat wanita berjilbab di antara orang yang hilang dan sempat hilang masing-masing adalah pegawai bank, dua orang guru dan seorang mahasiswa. Sementara seorang lagi dari orang yang hilang yakni Dewi adalah seorang karyawati swasta, dan Nopriansyah adalah siswa SD.

Kehilangan para wanita berjilbab masih jadi misteri motif dan latar belakangnya. Siti Fatimah sudah sekitar 50 hari, hingga kini belum ditemukan. Karenanya masih belum ada titik terang keberadaannya. Sementara Rika Soraya dan Susi Susanti yang keduanya berprofesi guru sudah kembali, namun keduanya masih "amnesia". Diduga keduanya korban hipnotis dan lupa segalanya, sehingga membutuhkan waktu untuk mengembalikan ingatannya.

Sementara Galuh Gayatri yang seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi hingga kini masih tak jelas rimbanya. Demikian juga Dewi dan Nopriansyah.

Kasus kehilangan yang berlangsung dalam waktu yang relatif berdekatan menimbulkan kekhawatiran di masyarakat.
Terutama bagi kaum wanita dan para orang tua.

Kehilangan ini dikaitkan dengan peran orang lain, meskipun dalam kasus hilangnya Dewi ada kemungkinan atas keinginan sendiri.

Wanita dan anak-anak secara fisik dan psikologis memang rentan dalam kasus ini. Apakah mereka diculik atau karena keinginan sendiri memang belum terjawab. Namun faktor fisik dan psikologis bisa jadi ada dalam kasus kehilangan ini.

Ada yang berasumsi korban terkena hipnotis lantas diculik, menjadi korban perampokan, hingga bergabung dengan kelompok radikal. Sementara untuk anak yang hilang masih belum bisa diprediksikan.

Pastinya banyaknya wanita yang hilang membuat para wanita di Palembang menjadi lebih hati-hati. Terutama saat bertemu orang baru. Mereka takut isu penculikan terhadap wanita benar adanya.

Wanita yang biasa bepergian sendirian juga mesti lebih waspada. Karena dari kasus penculikan ini ada yang terindikasi unsur hipnotis. Wanita yang bepergian sendirian harus bisa membentengi diri agar tak mudah diperdaya oleh orang yang tak dikenal. Tetap berkomunikasi dengan orang terdekat sehingga bisa diketahui keberadaannya.

Sementara bagi para orangtua, juga mesti lebih perhatian pada aktivitas anak-anaknya. Sehingga anak-anak yang biasa beraktivitas di luar, misalnya saat sekolah atau les tetap dalam pengawasan meski secara fisik sedang tak berada di dekat orang tua.

 Sementara bagi aparat terkait, juga diharapkan kesigapannya dalam menangangi kasus orang-orang yang hilang ini. Dengan metode yang mereka kuasai, aparat terkait diharapkan dapat segera menemukan orang-orang yang hilang dan mencari titik terang modus di balik semua kasus orang hilang ini.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved