SARAPAN PAGI

(Kemana) Suri Tauladan itu

Bahkan berita ini sudah mengundang simpati banyak orang termasuk para netizen.Bahkan berita ini sudah mengundang simpati banyak orang termasuk para ne

Penulis: Lisma Noviani |
TRIBUNSUMSEL.COM/DEFRI IRAWAN
Dewi dan putranya, Ra menunjukkan surat pemberhentian SDN 150 Palembang karena sering menagih upah bersih-bersih sekolah. 

NASIB yang dialami Ra, siswa kelas 2 SDN 50 Palembang yang diberhentikan dari sekolah pasca ibunya menagih upah Rp 500 ribu sebagai buruh bersih-bersih pada kepala sekolah di sekolah tersebut masih menjadi pembicaraan hangat. Bahkan berita ini sudah mengundang simpati banyak orang termasuk para netizen.

Umumnya netizen juga pembaca koran media cetak tidak habis pikir, dalam dunia serba modern ini masih ada siswa diberhentikan untuk menempuh pendidikan hanya karena faktor sepele.

Selain bentuk dukungan, sebagian netizen ada yang mengecam tindakan Kepala Sekolah SDN 150 Palembang yang memberhentikan siswa kelas 2 SD yang memiliki prestasi lima besar dalam kelas.

Hingga kini, Ra masih trauma takut bertatap muka dengan epala SDN tersebut. Dewi orangtua Ra mengaku belum memiliki rencana terkait sekolah anaknya. Saat ini teman-teman sekelas putranya sedang menjalani ujian pra semester sedangkan Ra telah lebih dari dua minggu sudah tidak masuk sekolah lagi.

Orangtua mana yang tak sedih melihat anaknya yang tak sekolah, sementara teman-temannya dengan ceria bersekolah. "Ra itu belum sampai tujuh tahun umurnya, kasihan dia mau sekolah, jangan anak jadi korban seperti ini. Kalau tidak senang dengan saya, cukup saya saja yang dipecat dari bekerja," bebernya agak serak-serak

Kasus anak diberhentikan sekolah seperti ini baru kali ini terjadi. Karena problem yang dihadapi orang dewasa --dalam hal ini antara Kepsek dengan ortu siswa-- anak lalu menjadi korban. Anak diberhentikan dan secara psikis dia takut bersekolah apalagi bertemu dengan kepala sekolah.

Kekerasan terhadap mental ini sebenarnya jauh lebih berbahaya terhadap anak. Catatan Tribun, sebelumnya, kekerasan terhadap psikis (mental) pernah dialami siswa SDN di kawasan Padangselasa. Oknum wali kelas yang menganiaya muridnya dan mengluarkan kata-kata kasar dan jorok yang tidak pantas diucapkan seorang pendidik di depan siswa-siswanya. Hal ini terjadi di SDN 2 Padangselasa. Dari 20 siswa tersebut, salah satu siswa inisial MAA (10) mengadukan ke orangtuanya. Dia mengaku dipukul dan dilempar penghapus oleh oknum guru.

Kasus-kasus lain, buli di kalangan siswa sendiri juga cukup marak. Membuat anak yang tertekan secara mental, enggan sekolah karena takut dengan teman yang membuli.

Bila kita ingat ajaran bapak pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara, sungguh sederhana, tapi mungkin sulit dilaksanakan.
Pertama, Ing Ngarso Sun Tulodo menjadi seorang guru/pemimpin harus mampu memberikan suri tauladan bagi orang – orang disekitarnya. Sehingga yang harus dipegang teguh oleh seseorang adalah kata suri tauladan.

Dua, Ing Madyo Mangun Karso, membangkitkan atau menggugah semangat. menciptakan suasana yang lebih kodusif untuk keamanan dan kenyamanan.

Ketiga, Tut Wuri Handayani, Tut Wuri memberikan dorongan moral atau dorongan semangat.

Melihat kondisi ini, kita tentu mengharapkan kasus ini tidak akan terjadi atau berulang lagi. Kita ingin para guru apalagi kepala sekolah, tetap menjadi tujuan mulia ketika profesi guru ini diembankan kepadanya. Pemberi ilmu, penyalur bakat, pemberi semangat dan tentu suri tauladan, contoh yang baik bagi murid-muridnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved