SARAPAN PAGI
Tawa Amerika Derita Indonesia
Dengan pelemahan rupiah terhadap dolar AS, barang-barang yang diimpor dari luar yang umumnya dibayar dengan dolar AS tentu harganya jadi melonjak.
Penulis: Ray Happyeni |
GONJANG-ganjing penguatan dolar Amerika Serikat tak hanya mencemaskan dunia usaha di tanah air. Dunia bahkan ikut bergejolak. Dolar AS memang telah "menjajah" perekonomian banyak bangsa di dunia.
Nilai tukar dolar AS terhadap rupiah hingga Kamis (12/3/2015) kemarin telah mencapai Rp 13.200. Angka ini sangat tinggi karena rupiah telah terdepresiasi atau melemah hingga 7 persen.
Menguatnya dolar AS terhadap sejumlah mata uang asing antara lain disebabkan menguatnya perekonomian AS. Yah masyarakat AS kini bisa tertawa karena kondisi perekonomian di negara adi daya itu terus membaik. Namun menguatnya dolar AS ini tak serta merta mesti jadi kambing hitam atas melemahnya rupiah.
Banyak faktor yang memengaruhinya. Pada kenyataannya tidak semua mata uang asing anjlok terhadap dolar AS. Atau bisa dikatakan tingkat anjlok masing-masing mata uang asing terhadap dolar AS bervariasi.
Mengutip ucapan Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tidak terganggu karena melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.
Posisi APBN saat ini tertolong karena tidak lagi terbebani subsidi bahan bakar minyak (BBM). Pelemahan rupiah juga masih relatif aman jika dibanding dengan negara lain seperti mata uang Brasil yang terdepresiasi hingga 17 persen dan Turki yang mencapai 16 persen. Apalagi, reformasi subsidi menjamin pelemahan rupiah terhadap dollar AS tak akan berpengaruh pada APBN.
Namun kecemasan tetap muncul di masyarakat, terutama dalam dunia usaha. Dengan pelemahan rupiah terhadap dolar AS, barang-barang yang diimpor dari luar yang umumnya dibayar dengan dolar AS tentu harganya jadi melonjak.
Naiknya nilai tukar dolar AS juga dikhawatirkan akan membuat harga barang-barang yang juga padat komponen impor seperti barang-barang elektronik dan harga barang otomotif naik.
Namun para spekulan juga bersuka cita dengan kenaikan harga dolar AS. Pemilik dolar AS yang telah lama menyimpan dolar AS, mulai panen dengan menjual dolar AS dan menikmati keuntungan dari selisih kenaikan harga dolar AS. Di sisi lain banyak juga spekulan yang berlomba-lomba memborong dolar AS.
Kondisi inilah yang dikhawatirkan membuat depresiasi rupiah terhadap dolar AS terus berlanjut yang dampaknya akan menambah tingkat inflasi. Dan jika tingkat inflasi sudah makin tinggi alamat semua barang-barang akan berbondong-bondong naik, ujung-ujungnya masyarakat Indonesialah yang paling menderita.
Berlarut-larutnya kemerosotan harga rupiah juga menimbulkan tudingan pemerintah dalam hal ini BI kurang begitu aware. Mestinya BI bertindak cepat agar kemerosotan rupiah tak terus berlanjut. BI harus mengambil langkah segera dan tak menunda-nunda, agar rupiah kembali menguat terhadap dolar AS. Karena kebijakan BI sesuai kapasitasnya sejatinya bisa menyelamatkan rupiah dari kejatuhan yang lebih dalam lagi.