SARAPAN PAGI
Ayo Atasi Aksi Begal secara Serius
Pelaku pembegalan rata-rata anak muda, belasan tahun yang notabene tidak memiliki pekerjaan namun berkeinginan memiliki suatu barang.
BEGAL, kata ini menjadi terkenal belakangan ini. Menteri Sosial Kabinet Kerja RI Khofifah Indar Parawansa langsung mengungkapkan soal aksi kejahatan ini. Yang membuat prihatin, aksi menyamun ini konon pelakunya banyak berasal dari Palembang. Mari kita melihatnya tidak pada konteks dari mana kejahatan ini berasal.
Mari kita melihatnya secara luas dan mencarikan solusinya. Banyak hal bisa dilihat dari kasus ini. Secara pendekatan sosiologi, untuk memberantasnya maka akar masalah yang harus diilihat. Pelaku pembegalan rata-rata anak muda, belasan tahun yang notabene tidak memiliki pekerjaan namun berkeinginan memiliki suatu barang.
Selain itu, pelaku biasanya juga berasal dari keluarga yang kurang pendidikan akhlak dan agamanya. Mereka hanya memikirkan bagaimana cara instan untuk mendapatkan uang. Peran orangtua yang seharusnya menjadi contoh bagi anak-anaknya tidak berfungsi. Mereka sibuk mencari nafkah untuk menanggung beban hidup sehari-hari.
Dari sisi psikologi, persoalan begal ini bisa dipandang akibat mudah terpengaruhnya remaja oleh kawan sekelompoknya. Atau diistilahkan peer group. Remaja pada umur belasan tahun biasanya lebih mendengar apa kata kawannya ketimbang kata-kata orangtua atau guru.
Seperti yang terjadi di Banten, Jawa Barat. Seorang remaja putus sekolah diajak kawan sepermainan untuk melakukan aksi begal. Ia tidak menyangkan sama sekali akan diajak berbuat jahat.
Sementara Mendiknas berpendapat, pendidikan bukan hanya diterapkan melalui sekolah. Ada dua aspek lainnya yang juga masuk dalam sistem pendidikan, yakni aspek keluarga dan aspek lingkungan. Tiga aspek ini lah yang menurut Anies harus diperbaiki jika ingin memperbaiki kualitas pendidikan.
Dari sisi pendidikan, persoalan ini bisa dilihat sebagai akibat belum berhasilnya kita menekan angka putus sekolah dan pembentukan karakter kepada siswa didik kita. Dari sisi hukum, jelas aksi begal adalah ekses dari belum seriusnya aparat hukum menangani kasus ini. Pihak kepolisian biasanya hanya menangkap dan memberikan hukuman sekadarnya.
Dari sisi politik, maraknya aksi begal sekarang ini kabarnya sebagai pengalihan isu pelemahan KPK. Mengutip omongan beberapa pengamat, polisi sedang ingin menunjukkan kinerjanya. Jadi ditunjukkanlah ke publik bahwa mereka berhasil menangani para begal tersebut.
Dari sisi ekonomi, semua sepakat bahwa inilah akar persoalannya. Keterbatasan ekonomi disertai berbagai faktor tadi membuat pelaku yang masih dalam usia labil ingin mencari jalan pintas untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Melihat berbagai pendekatan tentang aksi begal itu kita semua sepakat bahwa aksi begal harus dihentikan. Caranya dengan memandang pesoalan ini secara serius. Kita tidak bisa memandangnya secara sporadis atau sepotong-potong.
Semua pendekatan harus dipakai. Semua pemangku kepentingan harus duduk bersama-sama untuk mencari solusi terbaik. Kalau tidak kita khawatir aksi ni akan bertambah marak. Keamanan warga pun terganggu.