SARAPAN PAGI
Cepat Tanggap Tangani Banjir
Kondisi tersebut harus betul-betul diperhatikan pemerintah setempat terutama instansi terkait yang menangangi masalah banjir.
SEJAK beberapa hari ini beberapa daerah di wilayah Provinsi Sumatera Selatan mengalami banjir, di antaranya Musirawas dan Empatlawang. Kondisi ini tak pelak melumpuhkan aktivitas masyarakat. Salah satu penyebab banjir itu lantaran luapan air anak sungai.
Seperti luapan air anak Sungai Beliti yang terjadi akibat hujan deras beberapa hari terakhir, membuat puluhan rumah terutama di Desa Lubuk Besar Kecamatan Tiang Pumpung Kepungut (TPK) terendam banjir hampir menyentuh atap rumah warga, Minggu (8/2) pagi. Kendati tidak sampai menelan korban jiwa, namun sebagian harta benda milik puluhan kepala keluarga tidak terselamatkan lagi.
Sedikitnya 94 rumah dari lima desa terendam banjir, diantaranya rumah yang berada di Desa Lubuk Besar terendam sebanyak 50 rumah, Desa Batu Bandung 38 rumah, Desa Rantau Serik sebanyak dua rumah, Desa Kebur Lama tiga rumah dan Kebur Jaya satu rumah yang seluruhnya masuk dalam Kecamatan Tiang Pumpung Kepungut.
Luapan air banjir juga sampai menyentuh jalan lintas tengah Muara Beliti-Empat Lawang setinggi mata kaki, bahkan posisi rumah yang rendah dari akses jalan pun ikut tenggelam sampai satu meter. Tak ayal jalanan yang mulai terendam membuat warga memblokir sementara jalan hingga menyebabkan penumpukan ratusan kendaraan.
Bahkan keesokan harinya banjir melanda tiga wilayah di Kecamatan Muara Kelingi Senin (9/2), diantaranya 216 kepala keluarga (KK) atau sekitar 80 rumahnya terendam di Kelurahan Muara Kelingi, 166 rumah di Desa Bingin Jungut dan 50 rumah Desa Pulau Panggung. Banjir yang menggenangi pemukiman warga, ketinggian air mulai dari batas paha sampai 1,5 meter. Kendati air masuk ke rumah, masih banyak warga yang memilih menetap sampai air kembali surut.
Sementara di Kabupaten Empatlawang, banjir bandang luapan Sungai Seguring yang menghantam Desa Seguringkecil dan Terusanbaru tidak semata karena bencana alam, melainkan warga menilai adanya pengalihan aliran sungai Seguring, tepatnya di Desa Terusanbaru oleh salah satu oknum. Warga sangat menyesalkan adanya pengalihan tersebut, karena dengan adanya pengaliran aliran air ini banyak dampak buruknya terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.
Salah satunya banjir bandang yang menyebabkan ambrolnya jembatan sarana penyeberangan warga, terendamnya SMKN 1 Empatlawang dan SDN 11 Tebingtinggi yang berada di Desa Terusan Baru, serta merendam puluhan rumah di Desa Seguringkecil dan Terusanlama.
Kondisi tersebut harus betul-betul diperhatikan pemerintah setempat terutama instansi terkait yang menangangi masalah banjir. Bukan cuma pada penanganan banjirnya tetapi juga dampak dari banjir itu terhadap kelangsungan hidup warga yang terkena musibah itu. Bantuan makanan cepat saji harus segera disuplai dan tidak boleh terlambat. Bantuan tempat tidur bagi warga yang mengungsi di tenda-tenda pengungsian ataupun ruko harus cepat juga diberikan demi kenyamanan para pengungsi.
Kendati belum ada korban jiwa dalam peristiwa ini, pemerintah daerah harus benar-benar menanganinya secara serius. Dengan peralatan yang lengkap dan tenaga yang profesional tentu kita berharap pemerintah daerah bisa mengatasi persoalan-persoalan banjir termasuk hal-hal sekecil pun. (Andri Farid)