Peramal Nyali Titah Langit

Menjelang tahun baru Imlek, sebagian dari keluarga keturunan Tionghoa menempel hiasan yang digantung di pintu rumah,

Penulis: Henky Honggo |

TRIBUNSUMSEL.COM - Menjelang tahun baru Imlek, sebagian dari keluarga keturunan Tionghoa menempel hiasan yang digantung di pintu rumah, Berbagai macam bentuk dekorasi mulai dari bentuk manusia, shio yang ada di tahun tersebut sampai bentuk hiasan dewa pintu. Pada edisi kali ini, Zao An mencoba untuk membahas tentang salah satu bentuk hiasan dengan gambar dewa pintu (門神 mén shén).

Makna yang terkandung dari gambar dewa pintu ini adalah menjaga rumah agar tenteram dan damai. Menempel gambar dewa pintu ini merupakan kepercayaan yang sudah lama dilakukan. Asal muasal dari menempel gambar dewa pintu di setiap musim semi atau tahun baru Imlek ini berasal dari zaman dinasti Tang (唐朝 táng cháo).

Sosok Dewa Pintu
Suatu hari di musim panas (夏天 xià tiān), di kota 長安 cháng ān datanglah seorang peramal yang mengatakan bahwa setiap ramalannya selalu benar. Kemudian ada seorang sarjana (秀才 xiù cái) berkata kepada peramal, “Tuan meramal dengan tepat, silahkan tuan meramal berapa hari lagi akan hujan ?”.

Peramal menjawab, “Tiga hari yang akan datang”. Lalu sarjana bertanya lagi, “Apakah hujan rintik-rintik atau hujan lebat ?”. Si peramal kembali menjawab, “hujan rintik-rintik akan turun di daerah 秦川 (qín chuān), hujan lebat turun di daerah 林山 (lín shān)”. Sarjana mendengarkan jawaban ini langsung meragukan si peramal dan meminta tanggung jawab apabila ramalannya tidak tepat.

Peramal pun menjawab apabila tidak terealisasi ramalannya, maka bersedia dipenggal kepalanya. Tiga hari kemudian berlalu, hujan pun turun tidak sesuai dengan ramalan sebelumnya, daerah 秦川 (qín chuān) seharusnya hujan rintik-rintik ternyata hujan lebat, daerah 林山 (lín shān) seharusnya hujan lebat malah sebaliknya.

Keesokkan harinya sarjana bertemu peramal untuk menagih janjinya, peramal pun tertawa dan berkata “Sungguh besar nyali mu, titah dari kaisar langit (玉帝 yù dì), kau berani membangkang, dan menggantikan tempat turunnya hujan rintik-rintik dan hujan lebat. Kaisar langit (玉帝 yù dì) murka dan akan memerintahkan 魏徵 (wèi zhēng) untuk memenggal kepala mu.” Sarjana kembali menjawab, “Apakah Anda tahu siapa sebenarnya saya ?” dengan nada sombong. Peramal dengan santai menjawab, “Raja naga dari sungai 涇 (jīng) ! saya sudah tahu sejak tiga hari yang lalu”.

Raja naga sungai Jing terkejut, langsung berlutut meminta maaf kepada peramal tersebut. Peramal menyarankan raja naga sungai Jing untuk mencari orang yang bisa meluluhkan hati 魏徵 (wèi zhēng) supaya tidak jadi memenggal kepala raja naga sungai Jing.

Pada saat yang sama kaisar 李世民 (lǐ shì mín) dari dinasti Tang sudah tiga malam tidur bermimpi bertemu dengan raja naga, dalam mimpi tersebut raja naga berkata, “Saya adalah raja naga dari sungai Jing, sudah melakukan kesalahan, kaisar langit (玉帝 yù dì) memerintahkan pejabat 魏徵 (wèi zhēng) untuk memenggal kepala saya, mohon bantuan kaisar menjelaskan kepada 魏徵 (wèi zhēng) untuk melepaskan saya”. Kaisar kembali bertanya, “kapan waktunya 魏徵 (wèi zhēng) akan memenggal mu ?”. Raja naga sungai Jing menjelaskan kepada kaisar, waktunya adalah siang hari, setelah kaisar mengerti dan menyuruh raja naga pulang.

Memenggal Raja Naga
Keesokkan hari, kaisar mengajak 魏徵 (wèi zhēng) untuk bermain catur (棋 qí) pada siang hari, setelah lelah bermain catur, 魏徵 (wèi zhēng) tertidur pulas, kaisar pun tidak akan membangunkannya sampai waktu siang hari berlalu. Pada saat 魏徵 (wèi zhēng) tertidur, tiba-tiba dia berteriak, “penggal……..”, setelah berteriak, 魏徵 (wèi zhēng) terbangun.

Kaisar bertanya kepada 魏徵 (wèi zhēng), “Siapa yang Engkau penggal ?”. 魏徵 (wèi zhēng) menjawab, “Kaisar langit 玉帝 (yù dì) menitahkan ke saya untuk memenggal raja naga sungai Jing”.

Lalu kaisar kembali bertanya, “apakah sudah dipenggal kepalanya ?”. 魏徵 (wèi zhēng) menjawab lagi, “saya sudah memenggal kepalanya”. Kaisar pun bingung, bagaimana cara 魏徵 (wèi zhēng) memenggal kepala raja naga sungai Jing, padahal dalam kondisi sedang tertidur.

Lalu kemudian 魏徵 (wèi zhēng) berkata lagi, “Kepala raja naga sungai Jing sudah dipenggal dan sekarang tergantung di pintu 午門 (wǔ mén), kalau baginda tidak percaya, mari kita ke sana untuk melihatnya”.

Kaisar 李世民 (lǐ shì mín) dan 魏徵 (wèi zhēng) berjalan ke pintu 午門 (wǔ mén) dan melihat kepala raja naga sungai Jing yang tergantung di sana.
Pada malam hari saat mau tidur, kaisar terngiang dengan kepala raja naga sungai Jing ini dan semalaman tidak bisa tidur. Keesokkan harinya kaisar bercerita dengan kepada pejabat 秦叔寶 (qín shū bǎo) dan 尉遲恭 (wèi chí gong) tentang raja naga sungai Jing yang menghantuinya. Kedua pejabat ini memutuskan untuk menjaga di depan pintu agar kaisar dapat tidur dengan nyenyak tanpa gangguan apapun.

Penjagaan ini dilakukan sampai beberapa hari, kaisar merasa hal ini tidak efektif karena membuat kedua pejabat ini tidak bisa tidur karena menjaga pintu. Kaisar memikirkan cara lain untuk menggantikan kedua pejabat ini, maka dipanggilnya pelukis istana untuk melukis kedua pejabat 秦叔寶 (qín shū bǎo) dan 尉遲恭 (wèi chí gong) di daun pintu. Maka sejak itu, roh raja naga sungai Jing tidak pernah lagi menghantui kaisar.

Berita ini pun tersebar kemana-mana, dan ini terjadi pada saat awal musim semi. Maka dari itu setiap tahun baru Imlek, di setiap rumah selalu menggantung gambar 秦叔寶 (qín shū bǎo) dan 尉遲恭 (wèi chí gong) yang dianggap sebagai dewa pintu untuk menjaga supaya tidak terganggu oleh roh-roh jahat. (henky honggo)

 
 
 
Tags
zao an
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

Sejarah Pakaian Han Fu

 

Mengenang Teresa Teng

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved