Dua Siswa Berkebutuhan Khusus Jadi Korban Bullying Teman Sekelas

Mereka sangat pendiam, bahkan saking diamnya mereka tidak cerita kasus yang dialaminya.

TRIBUNSUMSEL.COM, SUNGAI LILIN - Dunia Pendidikan Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) kembali geger, pasalnya di SD Negeri 1 Sungai Lilin ada dua siswa kelas IV menjadi korban bullying (aksi kekerasan) temannya. Ironisnya, kedua siswa berinisial F (9) dan siswi berinisial N (9) jadi korban bullying teman-teman sekelasnya merupakan penderita Tuna Grahita yang juga anak berkebutuhan khusus (siswa inklusif) di sekolahnya. Meski sudah diselesaikan persoalannnya secara internal namun kasus tersebut menjadi coretan buruk bagi dunia pendidikan di Muba.

"Keduanya IQ-nya agak lebih kurang dibanding anak-anak biasa makanya masuk anak berkebutuhan khusus. Mereka sangat pendiam, bahkan saking diamnya mereka tidak cerita kasus yang dialaminya," ujar Kepala SDN 1 Sungai Lilin Sujiran, Kamis (27/11/2014).

Terkuaknya kasus bullying tersebut dikatakan Sujiran, ketika salah satu teman korban bercerita dengan salah satu guru kalau korban sering menjadi korban bullying temannya. Ketika kita cek ternyata hal itu benar, bahkan F sempat dicakar dan dipegangi rekan-rekan satu kelasnya, sedangkan N sempat disuruh membuka pakaiannya dan ditindih-tindih oleh rekannya yang lain.

"Ada satu siswi yang jadi pemicu, dia istilahnya mempremani rekannya. Sudah kita panggil dan beri sanksi, dia yang provokator kawannya yang lain. Orang tua para siswa juga sudah kita panggil dan kasusnya sudah kita selesaikan, F dan N juga sudah kita geser kelas, kini mereka tidak pernah diganggu lagi," ungkapnya

Diceritakan Sujiran, F dan N sendiri ketika kita tanyai hanya diam membisu tak mau bicara, hingga akhirnya setelah berapa lama mereka mengangguk dan mengatakan apa yang dialaminya. "Dipegangi dicakar-cakar," kata F yang kemudian mengangguk soal ancaman dari rekannya supaya tidak bercerita kasus yang dialami.

Begitupun N, dia lebih banyak menjawab dengan isyarat. "Disuruh buka baju, takut pak sama A (siswi perempuan yang diduga mengancam, red)," kata Sujiran menirukan ucapan F dan N.

Lebih lanjut, dikatakanya, mereka bukannya tidak mau cerita tapi memang begitu adanya. Agak diam, mereka juga agak susah menangkap pelajaran karena tadi, dibilang cacat ya tidak tapi agak kurang daya tangkapnya, seusia mereka harusnya juga sudah lancar baca tulis tapi kan ini masih susah.

Makanya penilaian kepada mereka juga ada penilaian yang berbeda. Ketika ditanya bagaimana pengawasannya? Sujiran menegaskan pihaknya mempunyai guru yang memang sudah dilatih untuk menangani anak berkebutuhan khusus ini. "Kita ada 106 ABK, 60 diantaranya merupakan tuna grahita seperti F dan N. Tapi jangan salah ABK bukan hanya yang seperti itu, ada juga yang cerdasnya lebih dari temannya yang lain, mereka juga butuh perlakuan berbeda," pungkasnya.

Kepala UPT Disdikcam Sungai Lilin, Jaka Sartapa menegaskan baru tahun ini ada satu kasus bullying yang terjadi. "Yang di SD 1 itulah, kalau kasus lainnya belum ada laporannya. Mengantisipasi terjadi lagi kita menunjuk guru khusus serta melakukan pengawasan ketat di sekolah," tukasnya.

Pihaknya juga meminta sekolah meningkatkan pengawasan terutama saat jam rawan seperti istirahat sekolah. "Yang sulit itu di luar jam sekolah karenanya kita meminta pula peran aktif orang tua dan wali murid untuk melakukan pengawasan kepada anaknya," pungkas Jaka.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidkan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Muba, Drs Yusuf Amilin, mengatakan, ABK memang rentan menjadi korban bullying temannya, karenanya kita perhatikan betul anak-anak berkebutuhan khusus. Mereka anak-anak kurang beruntung karenanya butuh perhatian khusus agar kepercayaan dan harga dirinya bisa naik," kata Kadisdik Muba HM Yusuf Amilin. (cr10/SP)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved