Gadis Palembang Kejar Cinta Arjuna

Belum Miliki Identitas Budaya

Misal trend India, maka India semua. Semua begitu gampangnya bercampur dengan budaya luar.

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG  - “Indonesia belum memiliki identitas budaya. Karena di dalam sejarah Indonesia unsur-unsur asing bisa langsung beradaptasi dengan budaya lokal,” ujar Dr Alfitri MSi, Pengamat Sosial Universitas Sriwijaya meminjam ungkapan Sultan Takdir Alisjahbana.

Ini memang karakter sebuah bangsa yang belum memiliki identitas peradaban dan budaya yang kuat.

Pertanyaannya mana budaya Indonesia? Perpaduan itu ada pada unsur hindu, budha, Islam. Padahal nenek moyang Indonesia punya akar identitas. Sehingga sangat wajar bangunan struktur budaya Indonesia sangat mudah dipengaruhi unsur asing.

Misal trend India, maka India semua. Semua begitu gampangnya bercampur dengan budaya luar.

“Kemunculan ke-Indonesiaan semestinya sebuah perekat dalam perjalanan sejarah, diikat dari sebuah kesepakatan sumpah pemuda. Kalau ini tidak diperkuat terus, terancam juga NKRI. Jadi identitas budaya itu semacam pagar,” kata Alfitri.

Budaya Indonesia ada benang merahnya yang tumbuh dan berkembang di alam Indonesia, gotong royong, ramah tamah, kehidupan harmonis, menyanjung tingggi keindahan, itu sudah diajarkan, tetapi sekarang hancur. Kita gampang marah, tidak sabar, indisipliner.

Fenomena Indonesia diserbu budaya asing adalah sebuah retorika (pengulangan) saja. Karena dari dulu juga diserbu. Mengapa begitu cepat dan masyarakat sangat adaftif, karena sejak dulu sudah bersentuhan.

Serangan akulturasi budaya asing semakin terasa. Contohnya bagaimana orang Indonesia makan pakai sendok, gaya sajian menu prasmanan, dan standing party yang kesemuanya tidak ada di budaya Indonesia.

Persoalannya, intervensi dari budaya asing yang masuk tidak disadari. Masyarakat lupa, bahwa mereka punya industri budaya luar biasa. Tapi tidak dirancang bagaimana program pengembangan budaya untuk 20 tahun ke depan. Tidak ada itu strategi, politik kebudayaan.
Contoh bangaimana Korea Selatan membangun budaya yang dirancang 20 tahun lalu. Gangnam Style itu baru sekarang dilihat, tetapi sebenarnya sudah dirancang sejak tahun 90an.

Di Indonesia hanya habis-habis di festival, kirab, tetapi tidak ada monumen yang dibanggakan padahal kita sangat kaya. Apa kekayaan itu? keberagaman budaya tiap daerah.
Ada benang merah, misal setiap daerah mempunyai cara menghargai tamu. Beda antara Bugis, Melayu, Bugis. Tetapi ada pesan yang sama bahwa, tamu itu adalah orang yang sangat luhur dan patut dihormati.

Ini semua harus dibongkar, tapi memang membutuhkan waktu. Harus disiapkan SDM, perangkat, kurikulum, kebijakan, sehingga menggeliat unsur-unsur budaya. Tidak hanya memunculkan gagasan baru, tapi juga mempersiapkan fenomena masa lalu sebagai warisan pembelajaran bagi anak-anak ke depan.

“Ahli-ahli kebudayaan dirangkul, seniman kumpul, rancang apa yang harus dilakukan. Jangan sebatas kongres kebudayaan yang habis disitu saja. Mestinya ini komitmen bersama, harus ada pemikiran. Negara ini tidak ada gereget, tidak punya semacam komitmen,” kata Alfitri.

Pada negara yang berkembang di Indonesia, reality show harus disaring. Program itu mengajarkan anak bangsa terlena. Bagaimana kuis dengan mudah memberikan hadiah uang Rp 1 miliar.

“Masyarakat Indonesia sekarang mengartikan kebebasan sebebas-bebasnya. Padahal perlu juga memikirkan nasib anak bangsa. Itu bukan pembatasan, tetapi bagaimana sesuatu yang dilakukan itu bermanfaat untuk kepentingan yang lebih besar,” ungkap dosen Fisip Unsri ini. (wan)

Ikuti terus beritanya di Topik:  GADIS PALEMBANG KEJAR CINTA ARJUNA

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved