Kebakaran di Puncak Sekuning
Delapan Tahun Aku Kumpulkan Uang Rp 75 Juta Itu
Uang itu sudah aku kumpulkan selama delapan tahun, tetapi dalam sekejap uang itu hangus terbakar.
TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Melihat rumahnya terbakar, Sihu (39) sibuk bukan kepalang. Dia mencemaskan uang senilai Rp 75 juta yang disimpan di bawah tempat tidur.
"Uang itu sudah aku kumpulkan selama delapan tahun, tetapi dalam sekejap uang itu hangus terbakar. Padahal, uang itu akan digunakan untuk membeli rumah," kata pria yang bekerja sebagai pengangkut sampah di kampung itu, Selasa (21/10/2014) siang.
Sihu menempati satu dari enam bedeng yang hangus terbakar di Gang Timor, Jalan Puncak Sekuning, Kelurahan Lorok Pakjo, Kecamatan Ilir Barat (IB) 1, Palembang. Kediaman mereka ludes dilalap api. Jerit tangis wanita terdengar jelas, sedangkan sejumlah pria sibuk menyiram api menggunakan air got.
Sihu hanya berhasil menyelamatkan motor yang ada di depan rumahnya. Ketika itu dia baru pulang bekerja, tiba-tiba muncul asap hitam dari bedeng nomor dua. Selang beberapa lama, api langsung membesar dan membakar enam bedeng milik Rusli tersebut.
Enam bedeng tersebut bangunan semi permanen. Separuh bagian atas dari kayu dan bagian bawahnya dibuat dari bata. Api semakin cepat membesar karena angin bertiup cukup kencang.
Warga di kawasan pemukiman padat itu berteriak senang saat mengetahui tibanya mobil pemadam kebakaran sekitar 10 menit kemudian. Namun api terus membesar, warga bingung melihat mobil kesulitan mendekati lokasi kebakaran akibat jalan yang sempit.
Beberapa pria kemudian berlari mendekati mobil, meminta petugas mengulurkan selang menuju lokasi kebakaran. Sedangkan Yatmi, seorang penghuni bedeng hanya bisa menangis di pinggir jalan.
"Abis galo barang-barang (habis semua barang). Dak katek apo-apo lagi aku (Tidak ada lagi yang tersisa)," ujar Yatmi, sambil tak hentinya menangis.
Dua wanita yang masih tetangganya segera memeluk Yatmi yang sudah tidak kuat berdiri. Sambil dipeluk, Yatmi tidur di teras rumah tetangga. Kedua wanita tadi kemudian memberinya air, menenangkan, dan meminta sabar.
Yatmi menceritakan, ia sempat panik waktu mendapat kabar adanya kebakaran di Gang Timor. Saat itu ia masih berada di sekolah tak jauh dari tempat tinggalnya, bekerja sebagai petugas kebersihan.
Tiba di rumah, Yatmi bergegas mencari anaknya yang sedang sakit. Ia semakin panik karena sampai masuk ke dapur, tetapi tidak ditemukan. Seorang pria yang kenal kemudian menarik tangan Yatmi, memaksanya keluar karena api hampir membakar semua bedeng berdinding papan itu.
Anak Yatmi yang dicari-cari ternyata sudah berada di luar bedang. Malah ia berhasil menyelamatkan semua ijazah dan televisi.
Dewi Lestari penghuni bedeng lainnya tak kalah panik. Saat api membakar bedeng, penjual bakso ini sedang tidur-tiduran karena memang sedang demam. Mengetahui api berasal dari bedeng sebelahnya, Ia segera menarik anaknya, Desi yang masih berusia 4,8 tahun.
“Saya baru balik berobat dari puskesmas, saat lagi guling ada teriakan kebakaran. Anak syta tadi ku tarik saja, tidak sempat memakaikan baju dan celana,” ungkapnya. (ardiansyah/wawan)