Apa Benar Tanpa Shampo Rambut Lebih Sehat?

Beranikah Anda berhenti menggunakan shampo? konon mereka yang mengikuti gerakan berhenti menggunakan shampo (No-poo movement)

TRIBUNSUMSEL.COM - Beranikah Anda berhenti menggunakan shampo? konon mereka yang mengikuti gerakan berhenti menggunakan shampo (No-poo movement) mengaku sangat senang karena rambut mereka justru menjadi lebih sehat dan indah.

Mereka yang memutuskan untuk tidak lagi menggunakan shampo mengklaim rambut mereka menjadi lebih tebal, lebih bervolume dan lebih bersih.

Salah satu warga yang mengikuti gerakan tidak menggunakan shampo atau No-Poo movement adalah Produser ABC Mal Duxbury yang bergabung sejak enam tahun lalu.

"Setelah sekitar 6 pekan tidak menggunakan shampo kondisi rambut anda mulai benar-benar membaik," tutur Duxbury dalam program Adelaide's Drive.

"Memang butuh waktu untuk terbiasa, karena kita sudah sangat tergantung pada shampoo, tapi saya telah meninggalkan shampo selama 6 tahun dan saya benar-benar senang melakukannya," katanya.

Duxbury memutuskan untuk benar-benar meninggalkan shampo dan mengganti kegiatan mencuci rambutnya dengan melakukan pijat kulit kepala ketika mandi di pagi hari.

"Butuh waktu sekitar 4 pekan sebelum akhirnya rambut saya mencapai keseimbangan alaminya,"

Satu hal yang disadarinya setelah berhenti mengunakan shampo adalah sarung bantalnya menjadi lebih bersih.

"Rambut saya terlihat lebih mudah diatur dan tidak lagi berketombe atau gatal di kepala," katanya.

"Kita tidak berevolusi selama ini dengan kebutuhan akan shampo dan saya baru sadar kalau selama ini penggunaan shampo itu lebih pada masalah pemasaran ketimbang ilmu pengetahuan.

Bahan kimia dalam shampoo terkait alergi

Duxbury mengatakan dirinya memutuskan untuk berhenti menggunakan shampo setelah dia khawatir melihat daftar panjang dari bahan kimia yang digunakan dalam bahan pembuat shampo yang tertera di botol kemasan shampo.

Pada waktu yang bersamaan, di tahun 2008, Universitas Washington dan Institut Riset Rumah Sakit Anak Seattle mempublikasikan temuan penelitian mereka mengenai asam ftalat, atau phthalates (umum digunakan dalam lotion, shampoo dan bubuk) yang dapat dikaitkan dengan peningkatan reaksi alergi, eksim dan mungkin isu-isu perkembangan reproduksi.

Phthalates hadir dalam sampel urin dari bayi yang terpapar produk termasuk monethyl, monometil dan monoisibuthyl.

Sebuah studi yang dilakukan tahun 2014 terhadap 300 anak-anak oleh Sekolah Tinggi Kesehatan Masyarakat Mailman di Universitas Columbia menemukan hampir sepertiga dari semua anak yang terpapar phthalates didiagnosis mengidap asma sebelum usia 11 tahun.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved