Pejabat Ramai Tanam Gaharu

Banyak Tertarik Tanam Gaharu

"Jadi kita tidak ekspor lagi kayunya. Hanya minyak saja. Ini membuat harga gaharu semakin tinggi," terangnya.

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Pohon gaharu atau dalam sapaan masyarakat Sumsel disebut Karas banyak tumbuh di hutan dan sudah lama dicari untuk di jual. Kini pohon itu semakin sedikit di hutan liar, oleh karena itu budidaya pohon gaharu perlu digalakkan.

Berbicara soal pohon gaharu, ia pun menceritakan keberhasilan seorang temannya yang berada di Lombok. Di daerah tersebut, temannya mampu meraup keuntungan sekitar Rp 16 miliar dari hasil tanam pohon gaharu.

"Kita gak tahu berapa hektar dan batang dia tanam pohon ini. Tapi penghasilannya dari nanam pohon gaharu itu Rp 16 miliar. Itu sangat fantastis. Bayangkan saja, satu kilonya kalau yang super itu Rp 85 juta. Ambil minimal sajalah, satu batang itu menghasilkan seperempat kilo, bisa dibayangkan kan," ujarnya sambil tersenyum.

Melihat tanaman gaharu di kebun karet miliknya, diungkapkan dia banyak yang tertarik dan menanam pohon gaharu juga. Kebun warga lainnya yang berada sekitar kebun miliknya, juga sudah mulai ditanami gaharu.

Di awal memulai pembudidayaan gaharu, Hanan sudah mendapat respon positif dari warga sekitar dan sejumlah pejabat di Sumsel. Malah mereka yang sudah mampir dan melihat menyatakan tertarik untuk menanam pohon gaharu di kebun mereka.

"Terkadang kan mereka mampir ke sini, numpang salat. Mereka melihat pohon gaharu dan saya jelaskan, ternyata mereka juga tertarik untuk menanam," katanya.

Gaharu ini, kata Hanan tidak ada yang rugi. Semuanya bisa dimanfaatkan. Daunnya saja, setelah umur dua tahun bisa digunakan untuk minuman teh. Kemudian pohon kayunya, seandainya tidak disuntik, bisa dipanen langsung yang kemudian dibuat sebagai dupa.

Harganya memang jelas berbeda. Apabila pohon gaharu sudah berumur lima tahun kemudian disuntik, hasil yang dijualpun bisa mahal. Sedangkan kalau tanpa disuntik, maka kayu Karas yang dijual pun harganya berkisaran Rp 5-6 juta per kilogramnya.

"Menyuntik pohon gaharu yang sudah berumur lima tahun itu memang mahal sekitar Rp 1,5-2 juta. Setelah itu, dua tahun baru bisa dipanen. Tetapi jangan khawatir, pohon yang tidak disuntik saja harganya tinggi,” tambahnya.

Soal distribusi hasilnya nanti, ia pun meyakinkan masyarakat agar tidak perlu kuatir. Indonesia penyuplai gaharu terbesar di dunia dengan kontribusi 70 persen. Sedangkan kebanyakan gaharu yang dihasilkan itu merupakan hasil dari pohon liar di hutan-hutan.

Nilai Ekspor tahun 2013 mencapai 758 ton ke Timur Tengah dan China. Karena tumbuhan ini tidak bisa dipanen berkala, membuat harga gaharu sangat tinggi di pasar global.

Gaharu ini digunakan untuk obat, untuk aroma terapi, bahan parfum, kemudian dipakai untuk acara acara ritual keagamaan baik Katolik, Budha, Hindu, dan Islam. Penggunaan terbesar untuk terapi acara itu ke Timur Tengah. Tetapi untuk penggunaan patung, tasbih itu ke China.

Agus Sofyan dari Balai Penelitian Kehutanan Sumsel mengatakan, gaharu merupakan potensi komoditi baru di Sumsel. Gaharu bisa menjadi alternatif bagi petani karet yang kerap mengeluhkan turun-naiknya harga.

Menurutnya, pohon gaharu tidak memerlukan lahan tersendiri. Bisa dilakukan tumpang sari. Sehingga petani karet tidak harus mengosongkan lahan karetnya.

Kayu gaharu yang memiliki nilai jual tinggi di pasaran kini telah dilakukan oleh beberapa petani di Sumsel seperti di Kabupaten Banyuasin, Muara Enim, Lahat, dan OKU.

Untuk meningkatkan harga jual gaharu, Agus mengaku telah melakukan penjajakan kepada Pemerintah Kabupaten di Sumsel untuk berinvestasi di bisnis ini dengan membuat pabrik pengolahan kayu atau penyulingan minyak gaharu.

"Jadi kita tidak ekspor lagi kayunya. Hanya minyak saja. Ini membuat harga gaharu semakin tinggi," terangnya. (wan/and/bbn)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved