Upacara Pemberian Topi dalam Budaya Tionghoa, Meninggalkan Masa Kanak-kanak

Upacara pemberian topi ini biasanya dilakukan di rumah ibadah, dilaksanakan pada bulan ke dua menurut penanggalan lunar.

TRIBUN - Dalam kehidupan sehari-hari, perkembangan hidup dari lahir sampai tua harus melewati suatu proses. Dalam kehidupan orang Tionghoa, salah satu proses adalah dari anak-anak menuju dewasa.

Pada proses biasanya ada satu upacara yang dilakukan, yaitu upacara pemberian topi atau mahkota. Upacara pemberian topi kepada anak laki-laki dan anak perempuan yang sudah menanjak dewasa yang disebut dengan 冠禮 (guàn lǐ) atau 成年禮 (chéng nián lǐ). Upacara ini dilakukan  sebagai pertanda anak perempuan atau anak laki-laki sudah mencapai umur tertentu, dan sudah mengalami akil balik serta sudah dapat menikah.

Budaya ini sudah dilakukan sejak ribuan tahun silam, sejak zaman sebelum masehi. Dalam upacara pemberian topi ini ada beberapa suku dibagi menjadi dua kondisi, yaitu anak laki-laki diberikan topi (男子冠禮 nán zǐ guàn), sedangkan anak perempuan diberikan tusuk rambut (女子笄禮 nǚ zǐ jī lǐ).

Menurut catatan sejarah, upacara ini resmi dilakukan sejak zaman dinasti Zhou (周代 zhōu dài). Pada dinasti ini, ditetapkan anak laki-laki yang berusia 20 tahun sudah dapat diberi topi. Pada saat itu kaisar 周文王 (zhōu wén wáng) berusia dua belas tahun sudah menerima upacara pemberian topi, dan pada usia lima belas tahun menerima mahkota kerajaan.

Upacara pemberian topi ini biasanya dilakukan di rumah ibadah, dilaksanakan pada bulan ke dua menurut penanggalan lunar. Dalam kurun waktu sepuluh hari pemberian topi tersebut, anak-anak yang diberikan topi, harus dipilih hari baik. Jika dalam sepuluh hari, tidak ada hari yang baik, maka akan dipilih salah satu hari baik dalam sepuluh hari berikutnya.

Setelah dipilih dan ditetapkan hari baik, maka akan diberitahukan kepada seluruh sanak saudara dalam pelaksanaan upacara pemberian topi. Tiga hari sebelum pelaksanaan upacara pemberian topi, akan dipilih siapa yang akan memberikan topi, juga tamu-tamu yang hadir di upacara tersebut.

Pada saat upacara, tuan rumah atau ayah dari anak-anak yang menerima topi tersebut akan mengenakan jubah kebesaran dalam prosesi upacara. Peralatan yang disediakan pertama adalah topi kain, kedua adalah topi dari bahan kulit, yang terakhir adalah topi yang berkaki tiga terbuat dari perunggu. Setelah selesai upacara pemberian topi, tamu atau tokoh yang diminta memakaikan topi akan membacakan pidato ucapan selamat kepada anak penerimanya.

Isi dari pidatonya adalah dalam hari yang sangat baik dan penuh berkah ini (美好吉祥的日子 měi hǎo jí xiáng de rì zǐ), diberikan sebuah pakaian (服飾 fú shì) sebagai tanda bahwa sudah menanjak dewasa (成年人 chéng nián rén). Untuk penerima topi, silahkan meninggalkan masa kanak-kanak (少年儿童 shào nián ér tóng) dan memulai hidup baru dalam kedewasaan untuk menggapai cita-cita ke depan.  Selain itu juga mendoakan untuk berbuat kebajikan, panjang umur, murah rezeki. Setelah selesai pemberian pidato, maka anak penerima topi, memberikan penghormatan kepada ibu dengan cara berlutut.

Akhir acara, tuan rumah akan mengantar tamu sampai ke depan rumah ibadah, lalu bersulang arak, setelah itu tuan rumah memberikan dua lembar kulit rusa dan daging hewan untuk konsumsi kepada tamu atau tokoh yang memberikan topi sebagai tanda ucapan terima kasih. Anak yang sudah menerima topi harus melakukan prosesi penghormatan kepada orang tua, jika ayahnya sudah meninggal, maka penghormatan dilakukan di depan altar ayah dari anak yang menerima topi.

Setelah melakukan penghormatan kepada orang tua, maka dilakukan juga penghormatan untuk keluarga yang dituakan, misalnya om, tante, paman, bibi dan lain-lain. Prosesi pemberian topi atau mahkota diakhiri dengan acara ramah tamah bersama para tamu dan keluarga.

Dalam upacara pemberian topi, tidak setiap tempat sama, dan selalu berubah dari generasi ke generasi. Contohnya pada masa dinasti Qing (清代 qīng dài) yang merupakan dinasti terakhir di Tiongkok, upacara ini diadakan beberapa hari sebelum menikah atau bahkan sehari sebelum hari pernikahan. Maksud dari upacara ini adalah sebagai lambang dari anak-anak menuju kedewasaan.

Anak laki-laki ataupun perempuan yang sudah mengikuti upacara ini, artinya sudah dewasa dan dapat menikah, serta terjun ke masyarakat. Anak yang  sudah  melewati upacara ini diharapkan dapat berbakti kepada orang tua, mempunyai moral serta akhlak yang baik, sopan terhadap orang yang lebih tua, berguna bagi masyarakat dan lain-lain. (henky honggo)

Tags
zao an
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Sejarah Pakaian Han Fu

 

Mengenang Teresa Teng

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved