Buku Dari Langit, Festival Berkat Berkelimpahan

Sinar matahari untuk membunuh seluruh kuman yang ada di seluruh peralatan yang dijemur tersebut.

TRIBUN - Tanggal enam bulan ke enam menurut penanggalan lunar (農曆六月初六 nóng lì liù yuè chū liù) atau tepatnya tanggal 2 Juli 2014 kemarin, oleh orang Tionghoa diperingati sebagai hari yang berkelimpahan berkat  (天貺節 tiān kuàng jié). Istilah lain dari 天貺節 (tiān kuàng jié) ini disebut juga dengan 洗晒日 (xǐ shài rì) yang artinya hari untuk mencuci dan berjemur. Perayaan ini berawal dari dinasti Song (宋朝 sòng cháo) kaisar 宋真宗趙恆 (sòng zhēn zōng zhào héng) yang ingin memberikan yang terbaik kepada rakyatnya. Saat itu pada tanggal enam bulan enam penanggalan lunar, kaisar “merasa” menerima buku dari langit, dan menetapkan tanggal tersebut merupakan hari yang mendapat berkat dari langit. Sebenarnya perayaan ini berlaku untuk penjabat kerajaan, namun akhirnya rakyat pun ikut merayakannya.

Pada bulan ke enam penanggalan lunar merupakan musim panas (夏季 xià jì) dan cuaca serta suhu udara yang sangat tinggi. Untuk mencegah kelembaban, tumbuhnya jamur maka pada perayaan 天貺節 (tiān kuàng jié) ini dilakukan pembersihan dengan mencuci lalu menjemur. Di istana kaisar, dilakukan pembersihan peralatan senjata kerajaan (鑾駕 luán jià), pakaian kebesaran kaisar (龍袍 lóng páo) dan lain-lain. Rakyat pun mengikut perintah kaisar untuk membersihkan pakaian untuk mencegah rayap (蛀蟲 zhù chóng).

Konon kabarnya, jika pada hari itu membersihkan seluruh peralatan rumah, pakaian dan lain-lain, maka dalam setahun tidak akan tumbuh rayap dan jamur. Bahkan hewan perliharaan pun juga harus dimandikan, sehingga dalam setahun tidak akan muncul kutu (虱子 shī zǐ). Para wanita pada hari ini mencuci rambut atau keramas, karena ada kepercayaan, setelah keramas, maka dalam setahun tidak akan kotor dan berminyak (不膩不垢 bù nì bù gòu).

Tidak hanya itu, seluruh buku bagi para pelajar, obat-obatan herbal bagi para tabib, dan semua alat yang mendukung kehidupan sehari-hari harus dikeluarkan untuk dibersihkan dan dijemur. Sinar matahari untuk membunuh seluruh kuman yang ada di seluruh peralatan yang dijemur tersebut.

Pulang Ke Rumah Orang Tua

Pada masyarakat dari suku Han (漢族 hàn zú) perayaan pada tanggal enam bulan enam ini juga disebut sebagai perayaan pulang ke rumah orang tua bagi menantu perempuan (回娘家節 huí niáng jiā jié). Pada masa negara berperang “the Spring and Autumn and Warring States” (春秋戰國 chūn qiū zhàn guó) di negara Jin (baca: cin), terdapat seorang yang bernama 孤偃 (gū yǎn) yang sangat sombong dan membunuh besannya sendiri.

Suatu ketika negara Jin mengalami musibah bencana alam dan 孤偃 (gū yǎn) keluar kota untuk memberikan bantuan makanan. Menantu laki-laki 孤偃 (gū yǎn) ingin memanfaatkan kondisi ini sewaktu ulang tahun 孤偃 (gū yǎn) tanggal enam bulan enam penanggalan lunar, untuk membunuh 孤偃 (gū yǎn) demi membalas dendam keluarga. Anak perempuan dari 孤偃 (gū yǎn) mengetahui suaminya akan membunuh ayahnya, maka diam-diam pada malam hari kembali ke rumah orang tuanya untuk memberitahu jika ayahnya ingin dibunuh.

Saat 孤偃 (gū yǎn) kembali dari membagi bahan makanan, mendengar berita bahwa dia akan dibunuh oleh menantu laki-lakinya sendiri, 孤偃 (gū yǎn) merasa bahwa dirinya bersalah dan sangat menyesal. 孤偃 (gū yǎn) tidak menyalahkan menantu laki-lakinya dan malah menyalahi diri sendiri. Maka setiap tanggal enam bulan enam penanggalan lunar, 孤偃 (gū yǎn) mengajak anak perempuan dan suaminya ke rumahnya untuk berkumpul demi menebus kesalahannya.

Akhirnya hal ini pun menyebar ke seluruh rakyat, sehingga lambat laun tanggal tersebut dijadikan perayaan menantu perempuan pulang ke rumah orang tuanya atau dalam bahasa Tionghoa juga disebut dengan 姑姑節 (gū gū jié). Sebenarnya kapan pun bisa jika menantu perempuan mau pulang ke rumah orang tuanya, namun suatu kepercayaan pada tanggal enam bulan enam adalah saat yang tepat untuk pulang ke rumah orang tua.

Selain itu, menantu perempuan bisa membawa anaknya untuk bertemu kakek dan neneknya. Ada sebagian orang yang membuat pangsit (餃子 jiǎo zǐ) dan dibawa pulang untuk sembahyang kepada leluhur dari pihak menantu perempuan. Ada juga yang nyekar ke makam leluhur, di sekeliling makam tersebut digali empat lubang dan dimasukkan pangsit di dalamnya sebagai tanda penghormatan kepada leluhur. Bagi menantu perempuan yang belum dikaruniai anak, pulang ke rumah orang tuanya berdoa kepada leluhur untuk diberikan keturunan. (henky honggo)

Tags
zao an
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

Sejarah Pakaian Han Fu

 

Mengenang Teresa Teng

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved