Mengenal Komunitas Lesbi Palembang
Mami Jadi Panutan Para Lesbi
Dalam satu komunitas lesbi ada seorang yang dianggap sebagai mami. Peran-nya mengakomodir semua anggota.
Penulis: M. Syah Beni | Editor: Kharisma Tri Saputra
Laporan Wartawan Tribunsumsel.com, M Syah Beni
TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Dalam satu komunitas lesbi ada seorang yang dianggap sebagai mami. Peran-nya mengakomodir semua anggota. Biasanya mami ini orang yang lebih tua dari semua anggota komunitas. Mami juga merupakan perekrut anggota baru. Setiap anggota baru akan melapor ke mami ini.
Wi, narasumber Tribun Sumsel menjelaskan, mami adalah panggilan akrab bagi ketua komunitas. Pemilihan mami ini didasarkan untuk menjaga komunitas agar tidak bubar. " Teman-teman (anggota lesbi, red) hormat kepada mami," ungkapnya beberapa waktu lalu.
Dikatakannya, mami ini merupakan tingkatan tertinggi. Permasalahan yang terjadi di dalam komunitas biasanya akan diselesaikan oleh mami. Wi, tidak menjelaskan lebih lanjut apakah mami berperan dalam bisnis esek-esek lain-nya. " Tidak tau kalau PSK-nya. Taunya hanya sebagai orang yang dituakan dalam komunitas," ujarnya.
Tribun Sumsel kembali menelusuri tempat berkumpul para kaum lesbi Palembang, Sabtu, (30/5) malam. Tidak seperti minggu lalu. Komunitas ini lebih cepat pulang. Pukul 21.00 WIB hanya ada 5 orang yang berkumpul di pelataran museum SMB II. Satu di antaranya berpenampilan seperti laki-laki (butchy).
Tidak lama mengobrol lantas mereka sepakat untuk pulang. Laiknya orang pacaran, sebelum pulang pasangan lesbi tersebut menyempatkan untuk saling bermesraan. Ternyata pasangan lesbi ini memiliki rasa cemburu yang besar kepada pasangan-nya.
"Langsung pulang ya? Jangan main-main lagi," ujar seorang Femme kepada butchy.
Femme itu sempat merajuk saat butchy-nya mengatakan bahwa ia mau main-main dulu bersama temannya. "Ya sudah. Aku juga tidak mau pulang," teriaknya.
Eksitensi komunitas lesbi di Palembang ternyata sudah ada setidaknya sejak beberapa tahun lalu. Hal tersebut merujuk kepada lokasi pelataran Museum Sultan Mahmud Badarudin (SMB) II dan Benteng Kuto Besak (BKB) yang telah hampir lima tahun menjadi lokasi kumpul para lesbian ini.
Mul, pedagang di BKB menceritakan, pelataran BKB memang kerap kali menjadi ajang tempat berkumpulnya para komunitas. Baik komunitas yang mempunyai kegiatan positif maupun negatif.
"Kalau anak-anak lesbian ini sudah ada sekitar tahun 2010-an. Setahu saya sekitar tahun itulah," ujarnya.
Awalnya komunitas lesbi ini hanya ada segelintir. Tidak lebih dari 10 orang. Itupun tidak terlalu menonjol penampilannya. Orang awam tidak akan tahu mereka lesbi. Sekarang ini mereka (lesbi, red) secara terang-terangan menunjukan identitas diri. Bermesraan di tempat ramai bukan jadi hal tabu lagi.
"Saya tahu itu lesbi karena melihat mereka suka mojok di BKB. Saling peluk dan cium," terangnya. Ternyata tidak hanya ada satu pasangan. Di tempat lain masih di BKB ternyata juga ada pasangan lesbi.
Saat masih merahasiakan identitas mereka kaum lesbi ini bisa berada di BKB hingga dini hari. Waktu berkumpulnya juga tidak tentu. Tidak harus malam minggu. Keberadaan kaum penyuka sesama jenis ini dinilai Mul tidak menganggu.
Mereka asyik dengan aktivitasnya sendiri tanpa memperdulikan orang di sekitar. " Keberadaan mereka tidak menganggu. Hanya berkumpul-kumpul. Sesekali mereka belanja beli rokok ataupun minuman," jelasnya.