Mengenal Komunitas Lesbi Palembang
Cari Pasangan Lesbi di Sekolah
Wi mengaku bahwa dirinya adalah alumni sekolah SMA swasta yang ada di Plaju. Dalam sekolahnya itu ada tiga orang yang lesbi.
TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Tidak terlalu sulit menemui kelompok yang mereka sebut komunitas tomboy. Selain di BKB, biasanya remaja ini berkumpul tiap akhir pekan di taman dekat Fly Over simpang Polda.
Pola rekrutmen komunitas ini dengan memanfaatkan jaringan di sekolah-sekolah. Setiap anak yang memiliki masalah akan didekati, menjadi teman curhat, diajak berkumpul, hingga akhirnya memadu asmara.
Berawal dari pertemanannya di sekolah, seorang wanita berinisial Wi kini terjerumus dalam pergaulan yang salah.
Wanita yang kini bekerja di toko sebagai pramuniaga merupakan satu dari sekian banyak wanita yang mempunyai prilaku seks menyimpang. Wi merupakan pasangan lesbi dari temannya sendiri.
Ditemui Tribun Sumsel beberapa waktu lalu, Wi yang berkulit putih menceritakan bagaimana awalnya ia bisa masuk dalam pergaulan tersebut.
Dua tahun lalu, tepatnya 2012 saat Wi masih berseragam SMA, dia berkenalan dengan Hen, teman satu sekolahnya.
Hen merupakan sosok wanita yang terkenal cantik di sekolah. Banyak pria yang mencoba mendekati, tetapi tidak ada satu pun yang berhasil menjadi pacar Hen.
Melalui proses pertemanan yang terjalin cukup lama antara Wi dan Hen membuat keduanya sudah seperti sahabat. Hingga suatu malam Hen mengajak Wi untuk jalan-jalan di Benteng Kuto Besak.
"Ternyata di BKB itu sudah berkumpul teman-temannya Hen. Semuanya perempuan. Ada yang tomboy. Ada yang feminim," jelasnya.
Dalam komunitas tersebut ternyata Wi ditaksir oleh seorang butchy, temannya Hen. Melalui perkenalan yang intensif akhirnya Wi juga masuk ke dalam lingkungan lesbi tersebut.
"Awalnya hanya berteman saja. Lama-lama butchy itu mengatakan suka sama saya. Saat itu saya masih bingung karena kami sama-sama wanita tidak mungkin berpacaran. Kemudian Hen yang menjelaskan kepada saya apa itu lesbi. Semuanya serba tiba-tiba," ungkapnya.
Dengan alasan privasi, Wi tidak mau menceritakan semua kehidupannya di lingkungan lesbi tersebut. Ia merasa hal tersebut adalah aib dan kesalahannya.
Wi mengaku bahwa dirinya adalah alumni sekolah SMA swasta yang ada di Plaju. Dalam sekolahnya itu ada tiga orang yang lesbi.
Gerak-gerik mereka di sekolah sempat terbaca oleh guru dan siswa lainnya. Bahkan ada seorang butchy yang dipanggil oleh kepala sekolah gara-gara pasangan lesbi tersebut tepergok sedang bermesraan di kamar mandi sekolah.
"Tidak diberhentikan. Disuruh buat perjanjian untuk tidak lagi menjadi lesbi. Mendapat nasihat dan ceramah," terangnya.
Selain di sekolahnya, Wi mengatakan, di sekolah lain juga ada pasangan lesbi. Ini diketahuinya saat berkumpul sesama komunitas. Menurutnya dalam satu sekolah itu bisa ada dua orang siswa yang lesbi.