Berita Palembang

BMKG Prediksi Musim Hujan di Sumsel Mulai Terjadi November

Untuk Wilayah Sumsel awal masuk musim hujan normalnya di bulan Oktober. Namun untuk 2018 awal musim hujan diperkirakan November

BMKG Prediksi Musim Hujan di Sumsel Mulai Terjadi November
KOMPAS/AGUS SUSANTO
Ilustrasi Hujan Deras. 

Laporan Wartawan Tribunsumsel.com, Linda Trisnawati

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG-Hasil pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terhadap perkembangan musim kemarau hingga akhir Agustus 2018 ini mengindikasikan bahwa hampir seluruh wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau (95,6 persen).

Sedangkan sisanya 4,3 persen masih mendapatkan hujan 50-150 mm dalam 10 hari terakhir, dan hanya 0,1 persen wilayah masih mendapatkan curah hujan cukup tinggi >150 mm/dasarian.

"Puncak musim kemarau saat ini ditandai dengan 30 persen wilayah di Indonesia terutama bagian selatan khatulistiwa mengalami kurang hujan (kekeringan meteorologis)," ujar Kasi Data dan informasi BMKG Kenten Palembang, Nandang, Kamis (6/9/2018).

Baca: Tomi Tewas Tenggelam Saat Berburu Burung Belibis di Danau Ski Air Jakabaring Sport City

Baca: Lowongan CPNS 2018: Ini Jumlah Formasi, Persyaratan, hingga Tahapan Seleksi

Kurang hujan (kekeringan meteorologis) ini ada beberapa kategori seperti kategori sangat panjang yaitu dengan lama waktu 31 sampai 60 hari tanpa hujan. Lalu kategori ekstrim dengan lama waktu lebih dari 60 hari tanpa hujan.

Menurutnya 6,23 persen diantaranya terkategorikan ekstrim. Namun mulai awal September, diperkirakan cakupan daerah terdampak Puncak Musim Kemarau tersebut akan berkurang secara bertahap.

"Untuk Wilayah Sumsel awal masuk musim hujan normalnya di bulan Oktober Dasarian 2 dan 3. Namun untuk 2018 awal musim hujan diperkirakan mundur 1 sampai 2 Dasarian (jangka waktu yang lamanya 10 hari berturut-turut), sehingga diperkirakan November 1 dan 2 masuk musin hujan," katanya.

Sementara itu untuk kondisi El Nino diprediksi BMKG mulai September dengan intensitas lemah hingga awal tahun 2019.

Baca: Sandiaga Tukar 1.000 Dollarnya ke Rupiah, Fadli Zon Ikut Tukarkan Dollarnya Juga

Baca: Tak Punya Kemampuan Dasar Silat, Vino G Bastian 6 Bulan Berlatih Silat Demi Wiro Sableng

El Nino lemah ditandai oleh menghangatnya suhu muka laut di wilayah Pasifik bagian tengah dan timur sebesar +0.5°C s/d +1.0°C. Sehingga perkiraan awal musim hujan Sumsel mundur 1 sampai 2 Dasarian.

Lebih lanjut ia menjelaskan, hingga Oktober 2018, suhu muka laut di wilayah Indonesia diprediksi dalam kisaran normal dan cenderung hangat dengan perubahan fluktuatif -0.5°C sampai dengan +0.5°C. Sebagian wilayah perairan diprakirakan akan lebih hangat hingga +2°C, di antaranya perairan Laut Banda dan sekitar Papua.

Secara umum, kondisi musim hujan dan kemarau di Indonesia, selain dikendalikan oleh aliran masa udara monsun dari Benua Asia dan Australia, El Nino/La Nina Samudera Pasifik dan Dipole Mode Samudera Hindia juga memengaruhi musim menjadi lebih kering atau lebih basah.

Baca: Kemenpora Surati Pengembalian Barang Lewat Whatsapp, Roy Baru Kembalikan Barang Senilai Rp 500 Juta

Baca: Ibu di Palembang Laporkan Anak Kandung ke Polisi, Ia Kesal dan Tidak Tahan Perilaku Anaknya

Selain itu pergerakan pusat konvektif massa udara basah MJO dari barat ke timur melintasi wilayah Indonesia dengan siklus kehadiran 30 hingga 90 hari juga membawa dampak penambahan curah hujan beberapa hari hingga minggu.

"Kondisi atmosfer global dengan latar belakang El Nino lemah di Samudera Pasifik dan Dipole Mode normal di Samudera Hindia berdampak pada peralihan musim kemarau ke musim hujan akhir tahun ini," jelasnya.

Penulis: Linda Trisnawati
Editor: Wawan Perdana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved