Hutan di OKU Selatan Digunduli

LIPSUS : Hutan di OKU Selatan Digunduli, Citra Satelit Ungkap Perambahan Masif Gunakan Alat Berat

Unggahan tersebut menyoroti aktivitas penebangan liar yang diduga kian intensif di wilayah Galang Tinggi, Kecamatan Mekakau Ilir, Kabupaten OKUS

Penulis: CHOIRUL RAHMAN | Editor: Slamet Teguh
Dokumen/Facebook Info Sumatera Selatan
GAMBAR CITRA SATELIT -- Aktivitas perambahan hutan di kawasan Galang Tinggi, Kecamatan Mekakau Ilir, OKU Selatan, yang terpantau melalui citra satelit. Kawasan ini diduga tengah dibuka untuk perkebunan, memicu kekhawatiran publik terhadap potensi banjir bandang. 

Ringkasan Berita:
  • Warga resah karena aktivitas perusakan hutan di Mekakau Ilir, OKU Selatan, dinilai berpotensi memicu banjir bandang
  • Data Dishut Sumsel menunjukkan OKU Selatan menjadi zona merah deforestasi, mencapai 11.400 hektare.
  • Pemerintah menegaskan akan menindak pelaku pembukaan hutan ilegal serta melakukan rehabilitasi untuk mencegah bencana ekologis.

 

TRIBUNSUMSEL.COM, MUARADUA - Pascabencana banjir bandang yang melanda Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh, kekhawatiran publik kembali mencuat, Senin (1/12/2025). Kali ini, sorotan mengarah ke Kecamatan Mekakau Ilir, Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan (OKU Selatan), Sumatra Selatan.

Kekhawatiran ini muncul setelah jagat media sosial diramaikan unggahan di akun Facebook Info Sumatera Selatan yang menyebut kawasan ini berpotensi mengalami kejadian serupa akibat maraknya perusakan hutan.

Unggahan tersebut menyoroti aktivitas penebangan liar yang diduga kian intensif di wilayah Galang Tinggi, Kecamatan Mekakau Ilir, Kabupaten OKU Selatan, Sumatra Selatan.

Berdasarkan citra satelit, terlihat jelas area hutan yang dirambah dan diperkirakan akan dialihfungsikan menjadi perkebunan sawit. Aksi perambahan ini disebut dilakukan menggunakan alat berat (alber).

"Selain di Sumut dan Sumbar, di Sumsel juga ngegas oknum merusak hutan menebang pepohonan. Yang mengundang bencana banjir bandang," tulis seorang pengguna Facebook yang membagikan koordinat 9QPR+V4 Galang Tinggi, Kec. Mekakau Ilir, Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, Sumatra Selatan sebagai titik aktivitas pembukaan lahan.

Kondisi geografis OKU Selatan yang berkarakter perbukitan membuat warga semakin waswas. Penggundulan hutan dinilai bisa memicu bencana ekologis serupa yang meluluhlantakkan wilayah Sumut–Sumbar beberapa waktu lalu.

"OKU Selatan bisa berisiko juga seperti Sumbar, sama-sama daerah perbukitan. Kalau terjadi erosi... Semoga Allah lindungi kita," komentar seorang warganet.

Sementara itu, warganet lain meminta pemerintah pusat turun tangan lebih tegas. "Ditunggu upaya Pak Presiden melalui Satgas untuk memberantas mafia di tambang, perkebunan, hutan... mereka yang dapat untung, tapi alam rusak, bencana datang, korban jiwa berjatuhan," tulisnya.

Wacana tentang bahaya hutan gundul kembali menjadi pembahasan publik. Warganet lain mengingatkan bahwa hilangnya tutupan hutan bukan sekadar isu lingkungan, melainkan ancaman langsung terhadap kehidupan manusia, dengan dampak antara lain:

  • Banjir dan Longsor: Tanah tanpa vegetasi kehilangan kemampuan menyerap air, membuat risiko banjir bandang dan longsor melonjak tajam.
    Hilangnya Keanekaragaman Hayati: Ribuan spesies tumbuhan dan satwa kehilangan habitatnya.
  • Mempercepat Perubahan Iklim: Hilangnya hutan berarti hilangnya penyerap karbon alami.
  • Tanah Menjadi Tandus: Tidak ada akar pohon yang menjaga struktur dan kesuburan tanah.
  • Emisi Gas Rumah Kaca Meningkat: Pembukaan lahan menyumbang pelepasan karbon dalam jumlah besar.
    Semua dampak ini, menurut warganet, sudah sepatutnya menjadi alarm peringatan bagi pemerintah daerah untuk bertindak cepat.

Warganet lain meminta agar lokasi yang telah terpantau melalui citra satelit di Galang Tinggi segera mendapat perhatian serius. Penegakan hukum dinilai perlu diperkuat, terutama terhadap pelaku perambahan yang bekerja terorganisasi. Selain itu, program reboisasi dan rehabilitasi lahan mendesak dilakukan guna memulihkan ekosistem yang rusak.

"Penebangan hutan secara liar merupakan ancaman serius bagi keanekaragaman hayati dan keselamatan manusia," ujar seorang warganet dalam unggahan tersebut.

OKU Selatan Zona Merah Deforestasi

Merespons keresahan tersebut, Kepala Bidang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) dan Perlindungan Hutan Dishut Provinsi Sumsel, Syafrul Yunardi, membeberkan data terbaru terkait kondisi hutan di wilayah tersebut.

Syafrul membenarkan bahwa meski secara umum luas hutan Sumsel masih terjaga, terdapat titik-titik kritis yang mengalami deforestasi parah akibat aktivitas ilegal.

"Berdasarkan data analisis tutupan hutan, daerah dengan deforestasi terbesar adalah Musi Banyuasin (Muba) seluas 11.700 hektare. Posisi kedua ditempati oleh OKU Selatan dengan luas deforestasi mencapai 11.400 hektare," ungkap Syafrul saat diwawancarai di Kantor Dinas Kehutanan Provinsi Sumsel, Senin (1/12/2025).

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved