Berita Ogan Ilir

K.H. Tol’at Wafa, Dari Penjual Koran Hingga Pimpin Pesantren, Bicara Masa Depan Umat

Apakah umat Islam hari ini sedang menuju cahaya atau justru berjalan pelan menuju kegelapan? 

Penulis: Agung Dwipayana | Editor: Slamet Teguh
Tribunsumsel.com/Agung Dwipayana
WAWANCARA EKSKLUSIF - News Manajer Sripo-Tribun Sumsel, Eko Adia Saputro mewawancarai Mudir Pondok Pesantren Raudhatul Ulum Sakatiga, K.H. Tol'at Wafa Ahmad, Lc (kiri) di sebuah pondok di tepi Danau Telok Putih, Kamis (12/2/2026). 

Ringkasan Berita:
  • K.H. Tol’at Wafa Ahmad, Mudir Pondok Pesantren Raudhatul Ulum Sakatiga, menilai tantangan terbesar umat Islam saat ini adalah krisis kader, bukan sekadar persoalan politik atau ekonomi.
  • Alumni Pondok Modern Darussalam Gontor dan Universitas Islam Madinah itu menekankan pentingnya menyiapkan generasi berintegritas di tengah arus modernitas dan budaya viral.
  • Menurutnya, perubahan zaman tak perlu ditakuti, asalkan umat tidak kehilangan arah serta mampu melahirkan karya dan kader penerus perjuangan.

 

TRIBUNSUMSEL.COM, INDRALAYA - Apakah umat Islam hari ini sedang menuju cahaya atau justru berjalan pelan menuju kegelapan? 

Pertanyaan reflektif itu menjadi pembuka perbincangan bersama K.H. Tol'at Wafa Ahmad, Lc, Mudir Pondok Pesantren Raudhatul Ulum Sakatiga, Kecamatan Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir, Kamis (12/2/2026) sore.

Di sebuah pondok kayu di tepi Danau Telok Putih, K.H Tol'at Wafa tidak hanya berbicara tentang pesantren, tetapi juga tentang kegelisahan zaman, generasi muda, dan tanggung jawab ulama dalam menjaga arah umat.

Yatim Sejak Usia Dua Tahun

Di usianya yang ke-67 tahun, kiai kelahiran 15 Maret 1958 itu mengawali kisah hidupnya dari titik yang sederhana. Ayahnya wafat ketika ia baru berusia dua tahun. Sang ibu, seorang petani, membesarkannya dengan keterbatasan.

“Waktu itu saya tidak punya gambaran mau jadi apa. Yang penting sekolah,” kenangnya.

Saat duduk di SD Negeri 87 Palembang, ia sudah terbiasa bekerja sambil belajar. 

Ia menjual koran di sekitar Masjid Agung Palembang, berjualan pempek di kampung-kampung, juga membuat dan menjual layangan.

“Saya enjoy saja. Tidak gengsi. Itu bagian dari belajar hidup,” ujarnya.

Baca juga: Kebakaran Pondok Pesantren di Muara Pinang Empat Lawang, Asrama dan Kantin Hangus Rata dengan Tanah

Baca juga: DPRD Sumsel Minta Pemkot Prabumulih Beri Data Usulan Pondok Pesantren yang Bakal Dapat Bantuan

Gontor, Madinah dan Pulang ke Kampung

Tahun 1969 menjadi titik balik. Ia berangkat ke Pondok Modern Darussalam Gontor dan menempuh pendidikan selama enam tahun. 

Selepas itu, ia sempat mengabdi dan kuliah di Gontor sebelum mendapatkan beasiswa ke Universitas Islam Madinah.

Empat tahun di Madinah membentuk perspektif globalnya. 

Ia bahkan sempat bertugas di Atase Agama Kedutaan Besar Arab Saudi di Jakarta. Namun pada usia 27 tahun, ia memilih pulang ke kampung halaman.

“Banyak yang menyarankan saya bertahan di Jakarta. Tapi setelah istikharah, saya yakin harus pulang,” katanya.

Sejak 1986, ia memimpin Raudhatul Ulum Sakatiga dan membangun sistem pendidikan 24 jam berbasis asrama. 

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved